Amuk Massa di Bima Harus Dicegah Tidak Terulang
Senin, 30/01/2012 08:55 WIB
Jakarta
Amuk massa yang terjadi di Bima, yang berujung pembakaran kantor Bupati Bima, Nusa Tenggara Barat dan pembebasan paksa para tahanan dalam peristiwa berdarah di Sape pada 26/1/2012, merupakan puncak daripada frustrasi sosial warga di kawasan itu. Mereka melampiaskan amarah karena berbagai tuntutan pencabutan Surat Izin Penambangan yang dikeluarkan Bupati Bima Ferry Zulkarnain, seolah dianggap angin lalu --tidak digubris.
Mereka telah berkorban dengan jiwa dan raga ketika memblokir pelabuhan laut di Sape, yang kemudian dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian yang menimbulkan korban nyawa dan luka-luka. Ironinya, banyak diantara mereka yang ditahan dan bahkan dijadikan tersangka.
Warga telah pula berkorban dengan memasang perintang kayu yang ditebang dan batu besar di berbagai jalan supaya tidak bisa dilalui sebagai bentuk protes dan perlawanan. Warga akhirnya mengalah karena aparat memaksa dan membuka perintang jalan. Begitu pula protes solidaritas masyarakat Bima di Jakarta, Makassar dan berbagai kota lainnya di Indonesia dalam bentuk demonstrasi, tetapi Bupati Bima tidak bergeming atas tuntutan rakyatnya.
Prolog, sebelum terjadi pembakaran kantor Bupati dan pembebasan paksa para tahanan sebenarnya merupakan "tanda," bahwa masyarakat sangat kukuh dalam perjuangan mereka menuntut keadilan supaya Surat Izin Usaha Penambangan dicabut, tetapi gagal dipahami oleh Bupati dan jajarannya. Seharusnya amuk massa yang amat merugikan itu, tidak perlu terjadi, jika Bupati dan jajarannya memiliki nurani dan kepekaan sosial dalam mengamalkan kebijakan publik.
Selayaknya setiap rencana pembukaan kegiatan usaha apalagi kegiatan penambangan di kawasan dekat hunian masyarakat, harus dikomunikasikan/disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat tentang rencana kegiatan usaha tersebut, manfaat dan kegunaannya bagi masyarakat di sekitar itu.
Jika masyarakat sudah paham dan bisa menerima, Bupati baru boleh mengeluarkan Surat Izin Usaha Penambangan. Cara ini memakan waktu agak lama, tetapi inilah model pembangunan yang bersifat partisipatif.
Akan tetapi, para Bupati dan Gubernur di daerah, masih bermental Orde Baru. Cara berpikir dan prilaku mereka, sama sekali belum berubah. Mereka tidak memiliki kebijakan publik yang menjadikan rakyat sebagai subyek dalam pembangunan di berbagai bidang. Padahal rakyat sudah semakin cerdas, sadar dan berani, tidak mau lagi dijadikan obyek dengan alasan demi pembangunan dan investasi.
Sebenarnya tidak terlalu pelik penyelesaiannya kasus Bima. Kalau Bupati sudah telanjur mengeluarkan izin usaha penambangan dan masyarakat tidak setuju, seharusnya segera dilakukan dialog (musyawarah). Pelaksanaannya, bisa ditempuh dua cara. 1) Bupati mengundang para tokoh masyarakat yang berpengaruh dan perwakilan dari generasi muda yang memprotes pemberian Surat Izin Usaha Penambangan untuk berdialog. Jika tidak terdapat titik temu setelah beberapa kali pertemuan, maka dilakukan musyawarah lanjutan melalui sistem mediasi, yaitu diperantarai (dimediasi) oleh tokoh-tokoh masyarakat terkemuka yang berasal dari daerah Bima, misalnya yang tinggal di Lombok. Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dan kewibawaan serta dapat diterima oleh masyarakat setempat dan Bupati.
Masalah ini menjadi rumit, karena setelah terjadi peristiwa di Sape, tidak segera diselesaikan melalui dialog, yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Kalau dari awal hal itu disosialisasikan dan dalam pelaksanaan kegiatan usaha melibatkan keikut-sertaan masyarakat, maka pasti tidak akan terjadi kerusuhan sosial yang berujung pembakaran kantor Bupati.
Harus Dicegah Tidak Terulang
Kasus yang terjadi di Bima, Mesuji dan berbagai daerah lain, diperkirakan akan marak terjadi di masa depan, jika tidak ada upaya pencegahan. Hal itu, seiring dengan rencana kenaikan BBM, yang pasti menyulut naiknya berbagai kebutuhan 9 bahan pokok, yang tentu akan berdampak pada kesulitan ekonomi masyarakat di sekitar pertambangan atau perkebunan, yang kehilangan tanah sebagai sumber kehidupan.
Ini sangat penting dan mendesak dilakukan upaya pencegahan agar kasus di Bima tidak terulang di masa depan. Bentuk pencegahan dapat dilakukan, pertama, memberi kesempatan kepada mereka untuk ikut bekerja di pertambangan atau perkebunan sesuai kemampuan mereka. Ini amat penting karena faktor utama mereka berontak adalah kesulitan hidup yang dialami. Jika mereka diikut-sertakan dalam perusahaan sebagai pekerja dan mendapatkan pemasukan (income), maka pasti tidak ada yang berontak.
Kedua, memberi beasiswa kepada anak-anak mereka untuk belajar di daerah lain dalam upaya mengangkat harkat dan martabat mereka di masa depan.
Ketiga, menyediakan sarana olah raga dan kesenian, serta fasilitas umum seperti poliklinik, sarana ibadah, dan seorang komunikator yang ahli agama untuk membina mereka.
Terakhir, mengelola dinamika masyarakat di sekitar pertambangan dengan kebijakan publik yang pro rakyat banyak, mendahulukan dialog, penuh empati, peduli dan simpati terhadap mereka. Kalau hal itu dilakukan, maka frustrasi sosial dan amuk massa yang terjadi Bima dan daerah lain, insya Allah dapat dicegah pada masa mendatang.
*) Musni Umar, Ph.D adalah sosilog, Direktur Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED).
(vit/vit)
Mereka telah berkorban dengan jiwa dan raga ketika memblokir pelabuhan laut di Sape, yang kemudian dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian yang menimbulkan korban nyawa dan luka-luka. Ironinya, banyak diantara mereka yang ditahan dan bahkan dijadikan tersangka.
Warga telah pula berkorban dengan memasang perintang kayu yang ditebang dan batu besar di berbagai jalan supaya tidak bisa dilalui sebagai bentuk protes dan perlawanan. Warga akhirnya mengalah karena aparat memaksa dan membuka perintang jalan. Begitu pula protes solidaritas masyarakat Bima di Jakarta, Makassar dan berbagai kota lainnya di Indonesia dalam bentuk demonstrasi, tetapi Bupati Bima tidak bergeming atas tuntutan rakyatnya.
Prolog, sebelum terjadi pembakaran kantor Bupati dan pembebasan paksa para tahanan sebenarnya merupakan "tanda," bahwa masyarakat sangat kukuh dalam perjuangan mereka menuntut keadilan supaya Surat Izin Usaha Penambangan dicabut, tetapi gagal dipahami oleh Bupati dan jajarannya. Seharusnya amuk massa yang amat merugikan itu, tidak perlu terjadi, jika Bupati dan jajarannya memiliki nurani dan kepekaan sosial dalam mengamalkan kebijakan publik.
Selayaknya setiap rencana pembukaan kegiatan usaha apalagi kegiatan penambangan di kawasan dekat hunian masyarakat, harus dikomunikasikan/disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat tentang rencana kegiatan usaha tersebut, manfaat dan kegunaannya bagi masyarakat di sekitar itu.
Jika masyarakat sudah paham dan bisa menerima, Bupati baru boleh mengeluarkan Surat Izin Usaha Penambangan. Cara ini memakan waktu agak lama, tetapi inilah model pembangunan yang bersifat partisipatif.
Akan tetapi, para Bupati dan Gubernur di daerah, masih bermental Orde Baru. Cara berpikir dan prilaku mereka, sama sekali belum berubah. Mereka tidak memiliki kebijakan publik yang menjadikan rakyat sebagai subyek dalam pembangunan di berbagai bidang. Padahal rakyat sudah semakin cerdas, sadar dan berani, tidak mau lagi dijadikan obyek dengan alasan demi pembangunan dan investasi.
Sebenarnya tidak terlalu pelik penyelesaiannya kasus Bima. Kalau Bupati sudah telanjur mengeluarkan izin usaha penambangan dan masyarakat tidak setuju, seharusnya segera dilakukan dialog (musyawarah). Pelaksanaannya, bisa ditempuh dua cara. 1) Bupati mengundang para tokoh masyarakat yang berpengaruh dan perwakilan dari generasi muda yang memprotes pemberian Surat Izin Usaha Penambangan untuk berdialog. Jika tidak terdapat titik temu setelah beberapa kali pertemuan, maka dilakukan musyawarah lanjutan melalui sistem mediasi, yaitu diperantarai (dimediasi) oleh tokoh-tokoh masyarakat terkemuka yang berasal dari daerah Bima, misalnya yang tinggal di Lombok. Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dan kewibawaan serta dapat diterima oleh masyarakat setempat dan Bupati.
Masalah ini menjadi rumit, karena setelah terjadi peristiwa di Sape, tidak segera diselesaikan melalui dialog, yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Kalau dari awal hal itu disosialisasikan dan dalam pelaksanaan kegiatan usaha melibatkan keikut-sertaan masyarakat, maka pasti tidak akan terjadi kerusuhan sosial yang berujung pembakaran kantor Bupati.
Harus Dicegah Tidak Terulang
Kasus yang terjadi di Bima, Mesuji dan berbagai daerah lain, diperkirakan akan marak terjadi di masa depan, jika tidak ada upaya pencegahan. Hal itu, seiring dengan rencana kenaikan BBM, yang pasti menyulut naiknya berbagai kebutuhan 9 bahan pokok, yang tentu akan berdampak pada kesulitan ekonomi masyarakat di sekitar pertambangan atau perkebunan, yang kehilangan tanah sebagai sumber kehidupan.
Ini sangat penting dan mendesak dilakukan upaya pencegahan agar kasus di Bima tidak terulang di masa depan. Bentuk pencegahan dapat dilakukan, pertama, memberi kesempatan kepada mereka untuk ikut bekerja di pertambangan atau perkebunan sesuai kemampuan mereka. Ini amat penting karena faktor utama mereka berontak adalah kesulitan hidup yang dialami. Jika mereka diikut-sertakan dalam perusahaan sebagai pekerja dan mendapatkan pemasukan (income), maka pasti tidak ada yang berontak.
Kedua, memberi beasiswa kepada anak-anak mereka untuk belajar di daerah lain dalam upaya mengangkat harkat dan martabat mereka di masa depan.
Ketiga, menyediakan sarana olah raga dan kesenian, serta fasilitas umum seperti poliklinik, sarana ibadah, dan seorang komunikator yang ahli agama untuk membina mereka.
Terakhir, mengelola dinamika masyarakat di sekitar pertambangan dengan kebijakan publik yang pro rakyat banyak, mendahulukan dialog, penuh empati, peduli dan simpati terhadap mereka. Kalau hal itu dilakukan, maka frustrasi sosial dan amuk massa yang terjadi Bima dan daerah lain, insya Allah dapat dicegah pada masa mendatang.
*) Musni Umar, Ph.D adalah sosilog, Direktur Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED).
(vit/vit)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
KolomTerbaru
Indeks Kolom »
-
Selasa, 22/05/2012 09:24 WIB
Mencintai Indonesia Lewat Pendidikan
-
Rabu, 16/05/2012 18:06 WIB
Menimbang Para (Calon) Pengganti Foke
-
Selasa, 15/05/2012 10:25 WIB
Mata, Telinga & Otak Pilot Kurang Kompak Bisa Buat Pesawat Jatuh
-
Senin, 14/05/2012 10:09 WIB
Kolom
Membangun Mental Warga Jakarta
-
Jumat, 11/05/2012 15:49 WIB
Catatan Agus Pambagio
Tragedi Sukhoi dan Ganti Rugi
-
Jumat, 25/05/2012 22:07 WIB
Jika di Posisi SBY, Mahfud MD Tak akan Berikan Grasi untuk Corby
-
Jumat, 25/05/2012 21:23 WIB
Kejagung Janji Putuskan Nasib Sisminbakum Pekan Depan
-
Jumat, 25/05/2012 20:13 WIB
Motor Pelaku Penembak Satpam Ditemukan di Tepi Hutan IPB
-
Jumat, 25/05/2012 20:30 WIB
Komisi II akan Minta Penjelasan Kemendagri Soal Kematian Praja IPDN
-
707 Komentar
-
275 Komentar
-
242 Komentar
-
234 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
