detikcom
Sabtu, 28/01/2012 05:13 WIB

Foke: Jadi Gubernur Jakarta Harus Siap Dimaki-maki

Lia Harahap - detikNews
Jakarta - Hidup di Jakarta keras. Begitulah kalimat yang sering terlontar dari mereka yang tinggal dan mencari makan di daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Metropolitan itu.

Bagaimana tidak, begitu keluar dari rumah, warga Jakarta sudah bertemu dengan kondisi yang memancing stress dan marah, yaitu kemacetan. Ditambah lagi, masalah banjir dan jalan rusak yang timbul ketika memasuki musim penghujan, dan banyaknya pemukiman kumuh yang belum tertata.

Warga ibukota tentu punya harapan besar pada pemerintah untuk menyelesaikan ini. Sayang, pemerintah daerah sendiri tampaknya hampir kesulitan membenahi itu secara bersamaan.

"Jakarta itu tidak pernah dijaga untuk tidak sakit," kisah Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, saat berkunjung ke kantor detikcom, di Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (27/1/2012).

Meski berhadapan dengan kondisi yang kadung kacau seperti ini, Fauzi mengaku tetap mencoba berbagai cara untuk melakukan perbaikan. Namun, ia tak menampik, jika tahapan yang dilakukannya itu tentu tetap menuai kritik dari masyarakat.

"Kesusahan ibukota semua juga tahu, tapi tetap saja yang dikemplang gubernur nya," kelakar pria yang akrab disapa Foke ini.

Dengan kondisi Jakarta dan berbagai permasalahannya, lanjut Foke, dibutuhkan orang-orang yang tak sederhana untuk memimpin daerah seperti ini. Menurutnya, catatan penting yang harus dimiliki pemimpin Jakarta adalah tidak mempunyai riwayat sakit jantung.

"Kita ini ditakdirkan macem-macem, nah seperti main wayang terkadang ada peran yang harus dilakoni satu orang itu saja. Kondisi itu tentu mau tidak mau menjadi tanggungjawab gubernur, harus siap dimaki-maki orang. Makanya sebelum menjadi gubernur Jakarta itu harus diperiksa dulu jantungnya. Siap nggak," candanya lagi.

Di beberapa proyek yang dilakukannya untuk membenahi Jakarta, pemerintah pusat tampak tidak memberikan respon yang besar. Meski demikian, Foke tidak merasa sendiri dan 'diterlantarkan' untuk menjadi Jakarta sebagai kota yang sukses dan memberikan kenyamanan buat 9,6 juta penduduknya.

"Saya nggak pernah merasa sendiri, saya punya teman banyak, termasuk di Kementerian," ungkapnya.

(lia/mpr)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    MustRead close