Ade Munadi, 'Si Penunggu' Green Canyon
Selasa, 24/01/2012 15:20 WIB
Jakarta
Jika di Amerika Serikat (AS) ada Grand Canyon, di Ciamis, Jawa Barat, terdapat Green Canyon. Nah, ada satu sosok yang sangat akrab dengan arus sungai Green Canyon alias Cukang Taneuh ini. Sosok itu adalah Ade Munadi.
Sejak kecil Ade Munadi telah terbiasa dengan arus sungai Green Canyon. Sejak Green Canyon belum dibuka sebagai tempat wisata hingga namanya banyak dikenal orang hingga saat ini, Ade tak juga berubah. Dia adalah 'si penunggu' Green Canyon.
Sungai berwarna hijau toska itu adalah tempat Ade kecil belajar berenang. Hingga Ade duduk di bangku SD, dia melihat ada beberapa turis yang datang ke area Green Canyon. Dia pun menawarkan jasa perahu kepada para turis itu.
"Saya jadi bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris. Setidaknya buat komunikasi dengan mereka, saya bisa," ujar Ade kepada detikcom pekan lalu di alur Sungai Green Canyon.
Dari para bule itu, Ade bisa menghasilkan uang sendiri. Sehingga untuk uang saku dan uang keperluan sekolah, dia tidak banyak bergantung pada orang tua. Itu makanya dia memilih tidak melanjutkan sekolah dan menjadi 'penunggu' Green Canyon.
"Sudah keenakan mencari uang, nggak bergantung sama orang tua, makanya saya keasyikan. Kalau saja waktu itu saya melanjutkan sekolah, mungkin hidup saya jauh lebih baik. Tapi mau bagaimana lagi, saya kan sudah memilih jalan ini. Yang penting jadi orang baik dan menjalaninya dengan baik," papar ayah satu putra ini.
Menurut dia, nama Green Canyon dipopulerkan seorang dari Prancis yang datang ke sungai tersebut pada 1993. Orang tersebut berperahu dan berenang-renang di alur sungai itu. Sejak itulah banyak berdatangan turis-turis asing ke Green Canyon.
Dituturkan Ade, dia menjadi anak buah kapal (ABK) dari perahu-perahu yang diorganisir pemda di Green Canyon sejak sekitar 1998. Dulunya perahu-perahu itu tidak ada yang mengorganisir sehingga warga beberapa kali ada yang bertengkar. Pemda pun turun tangan. Saat ini satu perahu yang bisa mengangkut 5 orang disewakan dengan harga Rp 75 ribu.
Tak hanya menemani penumpang berperahu motor, Ade pun siap memandu pengunjung yang hendak berenang di kolam alam. Bersama Ade, pengunjung bisa berenang melawan arus dengan menggunakan rompi pelampung sepanjang beberapa ratus meter. Untuk layanan ini, Ade dan teman-teman yang memiliki pekerjaan serupa bisa mengantongi Rp 100 ribu dalam sehari.
"Kalau ramai, bisa dapat Rp 100 ribu. Tapi kalau sedang sepi bisa nggak dapat apa-apa sama sekali. Malah kalau sepi, pengeluaran lebih banyak dari pendapatan. Pendapatan nol, tapi ada biaya untuk menunggu penumpang," terang Ade.
Ada suka duka Ade selama menjadi 'penunggu' Green Canyon. Sukanya, dia bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Malahan dia berteman juga dengan orang-orang asing.
"Dukanya ya paling kalau sepi. Hanya saja buat saya lebih banyak sukanya," ucap dia.
Dituturkannya, teman-teman dia banyak yang meninggalkan Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, untuk mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Terkadang Ade tergiur juga untuk menjadi bagian dari Ibukota. Namun dia tidak yakin bisa mendapatkan apa yang telah dia dapatkan di desa kecil itu.
"Iya yang saya bisa, ya sudah saya nikmati saja. Bisa menghidupi anak-istri saja sudah cukup. Bisa hidup nggak kekurangan saja sudah bersyukur. Yang penting menikmati. Intinya itu menikmati apa yang kita lakukan, pasti senang," sambung Ade.
Sampai kapan akan bekerja di sini? "Selagi saya masih bisa di sini dan masih kuat di sini, saya akan terus jalani. Lagi pula selain jadi ABK, saya juga masih bisa mengurus kebun di dekat rumah juga," ucapnya.
Dia berharap Green Canyon semakin menarik pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, bersama teman-temannya dia pun mengenalkan tempat wisata itu melalui greencanyoninfo.blogspot.com
"Di situ ada informasi tentang hotel dan sebagainya. Pokoknya kami ingin menyampaikan kalau di Green Canyon itu banyak fasilitas pendukung, sehingga nggak akan kesulitan kalau datang ke sini. Mau siapa lagi yang mau mempromosikan, kalau bukan kami, anak-anak sini?" tutur pria 33 tahun ini.
Menjadi 'penunggu' Green Canyon, bagi Ade adalah wujud pengabdian. Pengabdian pada keluarga dan pengabdian pada tanah kelahirannya.
(vit/nwk)
Sejak kecil Ade Munadi telah terbiasa dengan arus sungai Green Canyon. Sejak Green Canyon belum dibuka sebagai tempat wisata hingga namanya banyak dikenal orang hingga saat ini, Ade tak juga berubah. Dia adalah 'si penunggu' Green Canyon.
Sungai berwarna hijau toska itu adalah tempat Ade kecil belajar berenang. Hingga Ade duduk di bangku SD, dia melihat ada beberapa turis yang datang ke area Green Canyon. Dia pun menawarkan jasa perahu kepada para turis itu.
"Saya jadi bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris. Setidaknya buat komunikasi dengan mereka, saya bisa," ujar Ade kepada detikcom pekan lalu di alur Sungai Green Canyon.
Dari para bule itu, Ade bisa menghasilkan uang sendiri. Sehingga untuk uang saku dan uang keperluan sekolah, dia tidak banyak bergantung pada orang tua. Itu makanya dia memilih tidak melanjutkan sekolah dan menjadi 'penunggu' Green Canyon.
"Sudah keenakan mencari uang, nggak bergantung sama orang tua, makanya saya keasyikan. Kalau saja waktu itu saya melanjutkan sekolah, mungkin hidup saya jauh lebih baik. Tapi mau bagaimana lagi, saya kan sudah memilih jalan ini. Yang penting jadi orang baik dan menjalaninya dengan baik," papar ayah satu putra ini.
Menurut dia, nama Green Canyon dipopulerkan seorang dari Prancis yang datang ke sungai tersebut pada 1993. Orang tersebut berperahu dan berenang-renang di alur sungai itu. Sejak itulah banyak berdatangan turis-turis asing ke Green Canyon.
Dituturkan Ade, dia menjadi anak buah kapal (ABK) dari perahu-perahu yang diorganisir pemda di Green Canyon sejak sekitar 1998. Dulunya perahu-perahu itu tidak ada yang mengorganisir sehingga warga beberapa kali ada yang bertengkar. Pemda pun turun tangan. Saat ini satu perahu yang bisa mengangkut 5 orang disewakan dengan harga Rp 75 ribu.
Tak hanya menemani penumpang berperahu motor, Ade pun siap memandu pengunjung yang hendak berenang di kolam alam. Bersama Ade, pengunjung bisa berenang melawan arus dengan menggunakan rompi pelampung sepanjang beberapa ratus meter. Untuk layanan ini, Ade dan teman-teman yang memiliki pekerjaan serupa bisa mengantongi Rp 100 ribu dalam sehari.
"Kalau ramai, bisa dapat Rp 100 ribu. Tapi kalau sedang sepi bisa nggak dapat apa-apa sama sekali. Malah kalau sepi, pengeluaran lebih banyak dari pendapatan. Pendapatan nol, tapi ada biaya untuk menunggu penumpang," terang Ade.
Ada suka duka Ade selama menjadi 'penunggu' Green Canyon. Sukanya, dia bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Malahan dia berteman juga dengan orang-orang asing.
"Dukanya ya paling kalau sepi. Hanya saja buat saya lebih banyak sukanya," ucap dia.
Dituturkannya, teman-teman dia banyak yang meninggalkan Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, untuk mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Terkadang Ade tergiur juga untuk menjadi bagian dari Ibukota. Namun dia tidak yakin bisa mendapatkan apa yang telah dia dapatkan di desa kecil itu.
"Iya yang saya bisa, ya sudah saya nikmati saja. Bisa menghidupi anak-istri saja sudah cukup. Bisa hidup nggak kekurangan saja sudah bersyukur. Yang penting menikmati. Intinya itu menikmati apa yang kita lakukan, pasti senang," sambung Ade.
Sampai kapan akan bekerja di sini? "Selagi saya masih bisa di sini dan masih kuat di sini, saya akan terus jalani. Lagi pula selain jadi ABK, saya juga masih bisa mengurus kebun di dekat rumah juga," ucapnya.
Dia berharap Green Canyon semakin menarik pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, bersama teman-temannya dia pun mengenalkan tempat wisata itu melalui greencanyoninfo.blogspot.com
"Di situ ada informasi tentang hotel dan sebagainya. Pokoknya kami ingin menyampaikan kalau di Green Canyon itu banyak fasilitas pendukung, sehingga nggak akan kesulitan kalau datang ke sini. Mau siapa lagi yang mau mempromosikan, kalau bukan kami, anak-anak sini?" tutur pria 33 tahun ini.
Menjadi 'penunggu' Green Canyon, bagi Ade adalah wujud pengabdian. Pengabdian pada keluarga dan pengabdian pada tanah kelahirannya.
(vit/nwk)
Baca Juga
- Akhmad Sujadi dan Gubahan Lirik Lagu Tobat untuk 'Atapers' Kereta
- Adelle Neary Promosikan Hubungan Australia-RI Lewat Bengawan Solo
- Kombes Rikwanto, Kabid Humas Polda Metro Penggemar Dangdut Rhoma Irama
- Ketut Liyer, Lelah & Senang Gara-gara 'Eat, Pray, Love'
- Chandra Hamzah, 'Pengangguran' yang Kini Sibuk Ceramah Korupsi
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
TokohTerbaru
Indeks Tokoh »
-
Selasa, 22/05/2012 17:37 WIB
Reisa Kartika, Putri Lingkungan yang Ikut Identifikasi Korban Sukhoi
-
Selasa, 15/05/2012 17:05 WIB
Andre Siregar Sang Penerjemah Presiden
-
Senin, 14/05/2012 16:16 WIB
Ahmad Dhani dan Peluang Jadi Politikus
-
Kamis, 10/05/2012 21:06 WIB
Ninasapti Partowidagdo Jalankan Wasiat Hidup Hemat Sang Suami
-
Selasa, 08/05/2012 08:36 WIB
Deddy Herlambang dan Aksi Komunitasnya Merawat Lokomotif Kuno
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
689 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
