Akhmad Sujadi dan Gubahan Lirik Lagu Tobat untuk 'Atapers' Kereta
Kamis, 19/01/2012 12:39 WIB
Akhmad Sujadi (dok detikcom)
Jakarta
Ketersediaan moda transportasi di Jakarta dan daerah pendukung di sekitarnya tak sebanding dengan mobilisasi penduduk. Akhirnya, dengan keterbatasan moda itu pulalah memaksa penumpang berpikir 'kreatif' agar mereka bisa sampai di tempat kerja dengan tepat waktu.
Perilaku penumpang 'kreatif' itu biasanya dapat ditemui di kereta-kereta yang beroperasi di kawasan Jabodetabek. Gerbong yang penuh jejalan manusia, ditambah kereta yang sering terlambat, membuat mereka mencari jalan pintas agar lekas sampai di tujuan yakni dengan menaiki atap kereta. Padahal itu jelas membahayakan keselamatan mereka dan orang lain.
Kondisi di lapangan yang demikian, membuat Security Manager Daops I PT Kereta Api Indinesia (KAI), Akhmad Sujadi, gusar. Lantas, ia pun memutar otak untuk mendapatkan cara yang tepat agar penumpang yang berada di atas atap KA itu bisa ditertibkan.
"Karena sejak setahun lalu saya diberi tugas memimpin jabatan ini, saya mempunyai mimpi untuk mewujudkan jalur kereta api yang nyaman dan bersih. Juga dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan ketika penumpang menggunakannya," terang Sujadi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (19/1/2012).
Ada dua hal yang menjadi fokus kerja Sujadi di bidangnya yang saat ini diembannya. Yaitu membersihkan jalur kereta dari bangunan liar serta menertibkan penumpang di atas KA. Dan, ia menyadari itu tentu tak mudah.
"Tapi saya selalu tekankan dalam diri saya, apapun tindakan atau langkah yang saya akan ambil untuk melakukan penertiban itu, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Kalau bisa dilakukan dengan cara persuasif untuk apa harus menggunakan cara yang represif, pakai pentungan, pakai senjata, pakai kekerasan?" katanya.
Sadar pekerjaannya ini penuh risiko karena harus berhadapan dengan warga yang hidup dalam keadaan ekonomi sulit, Sujadi pun mengambil langkah awal yang paling sederhana untuk menertibkan penumpang KA yaitu dengan berdialog. Cara itu dipilihnya ketika akan melakukan penertiban bangunan liar di sekitar rel juga saat menertibkan penumpang atap.
Selain berdialog, Sujadi juga melakukan cara lain untuk menertibkan penumpang atap yang berada di atap kereta yang menuju daerah sekitar Jakarta, maupun di kawasan Jabodetabek. Mulai dari melakukan penyemprotan, memasang kawat duri, menggunakan anjing pelacak, tapi tetap saja hasilnya kurang optimal.
"Sampai akhirnya suatu hari saya bertemu dengan salah satu penumpang atap. Waktu itu saya sedang melakukan pemantauan di salah satu stasiun. Saya melihat anak itu pakai seragam seperti salah satu stasiun televisi. Saya kira dia karyawan TV itu, tapi heran juga kenapa karyawan TV terkenal kok malah naik di atap. Lalu saya panggillah dia, tapi kereta sudah keburu jalan. Akhirnya batallah," kisahnya.
Berselang berapa hari, Sujadi bertemu lagi dengan penumpang yang mengenakan seragam yang sama, dan beruntung bisa mengajak ngobrol. Ternyata itu adalah seragam salah satu komunitas penumpang atap KA yang berasal dari sebuah Yayasan Yatim Piatu bernama Futuhatulaitam. Yayasan itu merupakan yayasan yatim piatu.
"Uniknya yayasan ini terbentuk karena salah satu anggotanya meninggal setelah jatuh dari atap kereta. Anggota tersebut meninggalkan seorang anak, dan anak itu jadi yatim. Untuk menghidupi anak itu, para anggota yang merupakan penumpang atap mengumpulkan uang setiap hari Jumat dikumpulkan, lalu dibagikan ke anak yatim itu," tambahnya.
"Dari situlah saya manfaatkan komunitas ini untuk berbuat hal yang lebih positif. Karena salah satu dari mereka kan sudah ada yang jadi korban. Artinya mereka tahu bahwa itu sangat berbahaya," jelas bapak 3 anak ini.
Sujadi melakukan pendekatan dengan komunitas ini. Dia mengikuti pengajian yang dilakukan yayasan tersebut. Kebetulan pula, yayasan ini punya kelompok marawis.
"Lalu kami tugaskan pula komunitas ini merangkul pihak lain. Dari mereka Alhamdulillah saya mendapat 22 komunitas penumpang atap. Dan kami melakukan pada Jumat lalu sudah melakukan dialog, " kata pria asal Purwokerto ini.
Usaha lain yang dilakukannya adalah membuat lagu yang berisi pesan betapa duduk di atas atap kereta itu sangat berbahaya. Tak butuh banyak waktu, Sujadi berhasil mengubah lirik lagu anak 'Naik-naik ke Puncak Gunung' menjadi larangan naik ke atap kereta.
"Naik-naik ke atap kereta, sungguh sangat bahaya. Tidak hanya untuk sendiri, tapi juga orang lain," begitu lirik yang dinyanyikan Sujadi.
Lirik itu dipadukan dengan dengan firman-firman Allah yang bisa menyentuh hati para penumpang itu. Kemudian digabungkan pula dengan musik marawis.
"Dan itu liriknya mendadak saja lho, saya ucapkan mereka (anak yayasan) mencatat," ucap sarjana komunikasi ini sambil tertawa.
Sujadi saat ini tengah memasang jebakan bola-bola bandul atau yang dikenal dengan goal bola-bola khusus di kereta rute Bekasi-Cikampek. Tujuannya agar tidak ada lagi penumpang yang naik di atap.
"Dan Alhamdulillah kemarin cukup efektif," kata pria yang hobi olahraga bola ini.
Selain kereta daerah, penumpang atap juga banyak terlihat di KRL Jakarta-Bogor. Ia menyadari untuk penertiban penumpang ini lebih berat dibandingkan penumpang kereta daerah.
"Karena kalau mau pasang jebakan yang aneh-aneh kan ini menyangkut aliran listrik. Makanya harus berhati-hati," ucap pria kelahiran 1963 ini.
Dengan berbagai usaha yang ia lakukan ini, Sujadi berharap pengoperasionalan PT KAI lebih optimal dan tertib. Karena tanpa usaha menakuti-nakuti seperti ini, Sujadi yakin kereta api di Indonesia akan mati.
"Kita harus menyelesaikan masalah yang sudah puluhan tahun ini. Selama ini sudah terlalu lama dibiarkan oleh PT KAI sehingga menjadi besar dan rumit. Karena kalau tidak dipaksa seperti itu, mana mungkin mau diikuti. Kita nggak boleh kalah dengan sebagian orang-orang yang brutal," kata dia.
"Saya akui sering stres menghadapi penumpang atap itu, tapi kita nggak boleh putus asa. Terus semangat memperbaiki. Kalau tidak tamatlah perkeretaapian kita," ujar pria yang menelorkan buku tentang perkeretaapian ini.
(nwk/nrl)
Perilaku penumpang 'kreatif' itu biasanya dapat ditemui di kereta-kereta yang beroperasi di kawasan Jabodetabek. Gerbong yang penuh jejalan manusia, ditambah kereta yang sering terlambat, membuat mereka mencari jalan pintas agar lekas sampai di tujuan yakni dengan menaiki atap kereta. Padahal itu jelas membahayakan keselamatan mereka dan orang lain.
Kondisi di lapangan yang demikian, membuat Security Manager Daops I PT Kereta Api Indinesia (KAI), Akhmad Sujadi, gusar. Lantas, ia pun memutar otak untuk mendapatkan cara yang tepat agar penumpang yang berada di atas atap KA itu bisa ditertibkan.
"Karena sejak setahun lalu saya diberi tugas memimpin jabatan ini, saya mempunyai mimpi untuk mewujudkan jalur kereta api yang nyaman dan bersih. Juga dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan ketika penumpang menggunakannya," terang Sujadi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (19/1/2012).
Ada dua hal yang menjadi fokus kerja Sujadi di bidangnya yang saat ini diembannya. Yaitu membersihkan jalur kereta dari bangunan liar serta menertibkan penumpang di atas KA. Dan, ia menyadari itu tentu tak mudah.
"Tapi saya selalu tekankan dalam diri saya, apapun tindakan atau langkah yang saya akan ambil untuk melakukan penertiban itu, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Kalau bisa dilakukan dengan cara persuasif untuk apa harus menggunakan cara yang represif, pakai pentungan, pakai senjata, pakai kekerasan?" katanya.
Sadar pekerjaannya ini penuh risiko karena harus berhadapan dengan warga yang hidup dalam keadaan ekonomi sulit, Sujadi pun mengambil langkah awal yang paling sederhana untuk menertibkan penumpang KA yaitu dengan berdialog. Cara itu dipilihnya ketika akan melakukan penertiban bangunan liar di sekitar rel juga saat menertibkan penumpang atap.
Selain berdialog, Sujadi juga melakukan cara lain untuk menertibkan penumpang atap yang berada di atap kereta yang menuju daerah sekitar Jakarta, maupun di kawasan Jabodetabek. Mulai dari melakukan penyemprotan, memasang kawat duri, menggunakan anjing pelacak, tapi tetap saja hasilnya kurang optimal.
"Sampai akhirnya suatu hari saya bertemu dengan salah satu penumpang atap. Waktu itu saya sedang melakukan pemantauan di salah satu stasiun. Saya melihat anak itu pakai seragam seperti salah satu stasiun televisi. Saya kira dia karyawan TV itu, tapi heran juga kenapa karyawan TV terkenal kok malah naik di atap. Lalu saya panggillah dia, tapi kereta sudah keburu jalan. Akhirnya batallah," kisahnya.
Berselang berapa hari, Sujadi bertemu lagi dengan penumpang yang mengenakan seragam yang sama, dan beruntung bisa mengajak ngobrol. Ternyata itu adalah seragam salah satu komunitas penumpang atap KA yang berasal dari sebuah Yayasan Yatim Piatu bernama Futuhatulaitam. Yayasan itu merupakan yayasan yatim piatu.
"Uniknya yayasan ini terbentuk karena salah satu anggotanya meninggal setelah jatuh dari atap kereta. Anggota tersebut meninggalkan seorang anak, dan anak itu jadi yatim. Untuk menghidupi anak itu, para anggota yang merupakan penumpang atap mengumpulkan uang setiap hari Jumat dikumpulkan, lalu dibagikan ke anak yatim itu," tambahnya.
"Dari situlah saya manfaatkan komunitas ini untuk berbuat hal yang lebih positif. Karena salah satu dari mereka kan sudah ada yang jadi korban. Artinya mereka tahu bahwa itu sangat berbahaya," jelas bapak 3 anak ini.
Sujadi melakukan pendekatan dengan komunitas ini. Dia mengikuti pengajian yang dilakukan yayasan tersebut. Kebetulan pula, yayasan ini punya kelompok marawis.
"Lalu kami tugaskan pula komunitas ini merangkul pihak lain. Dari mereka Alhamdulillah saya mendapat 22 komunitas penumpang atap. Dan kami melakukan pada Jumat lalu sudah melakukan dialog, " kata pria asal Purwokerto ini.
Usaha lain yang dilakukannya adalah membuat lagu yang berisi pesan betapa duduk di atas atap kereta itu sangat berbahaya. Tak butuh banyak waktu, Sujadi berhasil mengubah lirik lagu anak 'Naik-naik ke Puncak Gunung' menjadi larangan naik ke atap kereta.
"Naik-naik ke atap kereta, sungguh sangat bahaya. Tidak hanya untuk sendiri, tapi juga orang lain," begitu lirik yang dinyanyikan Sujadi.
Lirik itu dipadukan dengan dengan firman-firman Allah yang bisa menyentuh hati para penumpang itu. Kemudian digabungkan pula dengan musik marawis.
"Dan itu liriknya mendadak saja lho, saya ucapkan mereka (anak yayasan) mencatat," ucap sarjana komunikasi ini sambil tertawa.
Sujadi saat ini tengah memasang jebakan bola-bola bandul atau yang dikenal dengan goal bola-bola khusus di kereta rute Bekasi-Cikampek. Tujuannya agar tidak ada lagi penumpang yang naik di atap.
"Dan Alhamdulillah kemarin cukup efektif," kata pria yang hobi olahraga bola ini.
Selain kereta daerah, penumpang atap juga banyak terlihat di KRL Jakarta-Bogor. Ia menyadari untuk penertiban penumpang ini lebih berat dibandingkan penumpang kereta daerah.
"Karena kalau mau pasang jebakan yang aneh-aneh kan ini menyangkut aliran listrik. Makanya harus berhati-hati," ucap pria kelahiran 1963 ini.
Dengan berbagai usaha yang ia lakukan ini, Sujadi berharap pengoperasionalan PT KAI lebih optimal dan tertib. Karena tanpa usaha menakuti-nakuti seperti ini, Sujadi yakin kereta api di Indonesia akan mati.
"Kita harus menyelesaikan masalah yang sudah puluhan tahun ini. Selama ini sudah terlalu lama dibiarkan oleh PT KAI sehingga menjadi besar dan rumit. Karena kalau tidak dipaksa seperti itu, mana mungkin mau diikuti. Kita nggak boleh kalah dengan sebagian orang-orang yang brutal," kata dia.
"Saya akui sering stres menghadapi penumpang atap itu, tapi kita nggak boleh putus asa. Terus semangat memperbaiki. Kalau tidak tamatlah perkeretaapian kita," ujar pria yang menelorkan buku tentang perkeretaapian ini.
(nwk/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
TokohTerbaru
Indeks Tokoh »
-
Selasa, 22/05/2012 17:37 WIB
Reisa Kartika, Putri Lingkungan yang Ikut Identifikasi Korban Sukhoi
-
Selasa, 15/05/2012 17:05 WIB
Andre Siregar Sang Penerjemah Presiden
-
Senin, 14/05/2012 16:16 WIB
Ahmad Dhani dan Peluang Jadi Politikus
-
Kamis, 10/05/2012 21:06 WIB
Ninasapti Partowidagdo Jalankan Wasiat Hidup Hemat Sang Suami
-
Selasa, 08/05/2012 08:36 WIB
Deddy Herlambang dan Aksi Komunitasnya Merawat Lokomotif Kuno
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
689 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
