detikcom
Kamis, 19/01/2012 11:16 WIB

Internasionalisasi Pendidikan=Penjajahan Pendidikan?

Andi Iqbal Burhanuddin - detikNews
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Akankah dengan masuknya Perguruan Tinggi Asing (PTA) maka dunia pendidikan kita akan mengalami nasib seperti bangkrutnya perusahaan lokal karena tidak mampu bersaing dengan produk China yang secara bebas membanjiri pasar lokal kita?

Pro dan kontra sehubungan dengan rencana internasionalisasi pendidikan tinggi (higher education) yang membuka pintu dan peluang kerjasama pendirian perguruan tinggi asing di Indonesia sebagai wujud penyejajaran perguruan tinggi dalam pergaulan internasional telah ramai diperbincangkan di media dan di forum komunikasi pendidikan lainnya.

Seperti yang tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU PT), Pasal 32 RUU PT tersebut menyatakan bahwa Internasionalisasi Pendidikan Tinggi dilaksanakan melalui; penyelenggaraan pembelajaran yang bertaraf internasional; Kerja sama internasional antara lembaga penyelenggara pendidikan tinggi Indonesia dan lembaga penyelenggara pendidikan tinggi negara lain; dan penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh lembaga penyelenggara pendidikan tinggi negara lain.

Pada dasarnya, pasal ini lahir dengan harapan, yaitu pembentukan masyarakat intelektual yang mandiri; pembukaan wawasan pada mahasiswa sebagai bagian dari masyara kat internasional dan pemajuan nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional.

Kontroversi dan ketakutan yang berlebihan seputar pemberlakuan RUU PT tersebut pun muncul karena banyak kalangan menilai RUU PT terlihat menyerupai UU BHP dan cenderung meliberalisasi pendidikan tinggi, dan tanpa disadari program ini kemudian akan berubah menjadi komoditas bisnis.

Bahkan, internasionalisasi pendidikan tinggi dalam sebuah pertemuan oleh mantan Wamendiknas, Fasli Jalal diibaratkannya pisau bermata dua yaitu dipandang sebagai kebijakan UNESCO adalah positif dan menjadi pendorong bagi tiap perguruan tinggi kita untuk bisa bersaing dalam kancah persaingan global dan bermanfaat besar bagi ilmu pengetahuan, pembangunan sosial dan ekonomi, dan juga dapat melukai anak-anak bangsa.

Dan berbagai pihak termasuk Komnas Pendidikan pun menilai dari sisi lain, akan semakin menjauhkan akses pendidikan tinggi dari rakyat menengah ke bawah dan akan menimbulkan ancaman bagi eksistensi kekayaan budaya Nasional, Indonesia justru akan kehilangan keunikan pelajaran mengenai buday a Indonesia dan mahasiswa asing pun tidak dapat mempelajari keaslian Indonesia.Next

Halaman 1 2 3

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(wwn/wwn)




Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
65%
Kontra
35%