detikcom

Para Jenderal di Wisma Bakrie

Jokowi pun Mampir ke Wisma Bakrie

M. Rizal,Deden Gunawan - detikNews
Senin, 16/01/2012 15:13 WIB
Jakarta Seorang pria berkemeja lengan pendek warna abu-abu terlihat asyik mengobrol bersama Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan di Wisma Bakrie. Pria itu adalah Joko Widodo, Walikota Solo yang sedang populer itu.

Luhut yang merupakan Komisaris Utama PT Toba Sejahtera, memang berkantor di Lantai 17, Gedung Wisma Bakrie 2, Jakarta Selatan.

Selain Jokowi dan Luhut, di dalam ruangan itu hadir pula Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi mantan Wakil Panglima TNI , mantan Sekjen Dephankam Jenderal TNI (Purn) Jhoni Lumintang, mantan Kodiklat TNI Letjen TNI (Purn) Sumardi ,Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Mayjen TNI (Purn) Zaenal Abidin,

Jokowi datang seorang diri ke PT Toba Sejahtera. Kepada majalah detik, Jokowi mengaku sengaja datang ke kantor Luhut untuk bicara urusan bisnis.

Kebetulan Jokowi, yang sempat diwacanakan sebagai capres oleh PDIP, punya usaha furniture berbendera Rakabu. Sementara PT Toba yang dimiliki sejumlah pensiunan jenderal punya usaha perkayuan.

"Kami murni bicara bisnis loh. Karena perusahaan Pak Jokowi kebetulan bermitra dengan PT Toba. Tidak ada urusan politik. Walaupun Pak Jokowi ini sebagai Walikota," ujar Luhut yang disambut anggukan kepala Jokowi.

Luhut Panjaitan dan sejumlah pensiunan jenderal yang berkantor di lantai 17 Wisma Bakrie 2, sebelumnya disebut-sebut sebagai tim sukses pemenangan Aburizal Bakrie alias Ical, sebagai capres. Bahkan ada yang mengatakan, kalau kantor yang ditempati Luhut dan sejumlah jenderal purnawirawan itu diberi secara cuma-cuma oleh Ical.

Namun kabar itu langsung dibantah Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, yang juga komisaris PT Toba Sejahtera. Mantan Wapangab TNI era Gus Dur ini mengatakan, PT Toba Sejahtera menyewa 4 lantai di Wisma Bakrie 2, yakni di lantai 14, 15, 16, dan 17. Dan pada 2013 perusahaan tersebut rencananya pindah. Karena gedung berlantai 20 yang mereka bangun di kawasan Mega Kuningan sudah rampung. Di sana perusahaan itu akan berkantor.

Fachrul Razi, yang pada siang itu menemani Luhut bertemu Jokowi, mengatakan, di ruangan PT Toba yang terletak di lantai 17 memang ada sebuah ruangan khusus untuk makan siang bersama.

Ruangan tempat makan siang sekaligus acara ngobrol-ngobrol itu berukuran 3x6 meter. Dinding ruangan seluruhnya dilapisi kaca. Ada 4 lukisan dan sebuah maket gedung berlantai 20 di ruangan tersebut.

Biasanya, kalau tidak ada acara di luar, para pensiunan jenderal yang jadi komisaris di perusahaan itu bersantap bersama. Tapi memang bukan makan siang saja yang jadi agenda. Sebab saat jamuan makan siang itu biasanya hadir beberapa tokoh, seperti politisi, pejabat, kepala daerah, pimpinan parpol, maupun LSM. Mereka biasa berdiskusi soal kebangsaan usai makan siang.

Menurut Dimas Oki Nugraha, staf PT Toba Sejahtera, menu makan siang di tempat itu bervariasi dan berganti-ganti setiap hari. Semuanya masakan khas Indonesia. Hanya ada satu makanan yang setiap hari selalu ada. Makanan itu adalah singkong rebus yang ditaburi santan. "Singkong ini adalah menu rutin pencuci mulut. Setiap hari selalu ada," ujar Dimas.

Menurut Dimas, pensiunan tentara yang sering datang umumnyta purnawirawan TNI alumni AKABRI 1970 dan 1971. Di antaranya yang sering hadir seperti Syamsir Siregar, Wismoyo Arismunandar, Yunus Yosfiah dan Agus Widjojo. Memang angkatan ini di kalangan militer terbilang angkatan yang paling berlian dan memiliki pemikiran yang liberal atau terbuka.

Para jenderal ini belakangan agak gundah ketika disebut sebagai tim sukses pencapresan Ical. Sebab mereka hanya membuat lembaga kajian bertema kebangsaan. Dan hasil kajian itu kemudian disosialisasikan kepada semua tokoh di Indonesia termasuk Presiden SBY.

Tapi memang, kata Luhut, di antara banyak tokoh yang diberi masukan, hanya Ical yang sering mengaplikasikan hasil kajian para jenderal tersebut.

"Memang hanya Pak Ical yang sering menjalankannya. Kebetulan Pak Ical adalah kawan saya sejak 30 tahun lalu. Jadi kami sering diskusi macam-macam hal. Terutama soal masalah bangsa," ujar Luhut.

(iy/nrl)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel