detikcom

Para Jenderal di Wisma Bakrie

Berebut Bintang, Bermimpi Menang

Deden Gunawan,M. Rizal - detikNews
Senin, 16/01/2012 15:07 WIB
Jakarta Purnawirawan jenderal terjun ke dunia politik sepertinya sudah hal jamak sekarang ini. Hampir semua parpol antara lain Partai Demokrat (PD), PDIP, Gerindra, Hanura, serta Golkar bertaburkan para jenderal berbintang.

Belakangan Golkar disebut-sebut sedang gencar menggandeng pensiunan jenderal untuk membantu pemenangan Golkar di Pemilu 2014. Tidak kurang 20-an jenderal dikabarkan tergabung dalam tim sukses pemenangan Aburizal Bakrie alias Ical sebagai capres 2014.

Anggota Litbang DPP Golkar Indra J Piliang mengakui ada sederet jenderal purnawirawan di belakang Ical . Namun menurutnya, yang tercatat secara resmi jumlahnya hanya beberapa jenderal saja. Mereka adalah Luhut Panjaitan (Watim Golkar), Djasri Marin (Ketua DPP Golkar), Albert Inkiriwang dan Sugiono Kadarisman (Dewan Pakar).

"Kalau yang nggak resmi ada banyak. Di dewan pertimbangan ada beberapa di dewan pakar ada beberapa, ada juga di kepengurusan yang lain. Ya jumlahnya lebih dari 20 orang jenderal lah," ungkap Indra.

Bagi Indra, kehadiran para jenderal pensiunan itu merupakan bukti tim sukses Ical lebih siap menghadapi Pemilu 2014. Sebab timnya banyak, ada tim pribadi, tim partai, dan tim yang punya kantor masing-masing.

Meski Indra mengakui ada deretan jenderal di belakang Ical, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Lalu Mara Satriawangsa membantah para jenderal itu merupakan tim sukses Ical. Bantahan serupa juga disampaikan Jenderal (purn) Fachrul Razi yang berkantor di Wisma Bakrie 2. (baca Fachrul Razi: Kami Memang Sering Kumpul di Wisma Bakrie)

Tapi kabar pembentukan tim sukses beranggotakan pensiunan jenderal sudah merebak di DPD-DPD Golkar. Langkah Ical membentuk tim sukses dari kalangan jenderal kemudian mengundang kecemburuan kader beringin di daerah.

"Sekarang yang terpenting bukan soal bantah-membantah. Yang jelas kader-kader Golkar di daerah melihat Pak Ical lebih mementingkan kepentingan dirinya untuk nyapres bukan mengembangkan partai," ujar tokoh partai Golkar Sulawesi Selatan Zaenal Bintang.

Protes kader Golkar terhadap Ical yang dianggap kebih memilih pensiunan jenderal dibanding kader sebagai tim sukses merupakan hal yang wajar. Pengamat politik UI Ibramsyah menilai jika benar Ical menggandeng para jenderal untuk pencapresannya sama saja menghina kadernya sendiri. Padahal masih banyak kader mudanya yang bagus di Golkar.

Langkah Ical menarik mantan jenderal TNI sebagai tindakan yang tidak bijak. Apalagi mantan jenderal ini tidak memiliki pasukan lagi. "Saya kira para jenderal tua ini bermanuver untuk kepentingan dirinya sendiri. Jadi tidak signifikan mereka gabung atau tidak," kata Ibramsyah.

****

Meski beberapa kader Golkar mengklaim sudah banyak pensiunan jenderal yang merapat ke Ical, namun sebenarnya jumlahnya masih kalah banyak dibanding jenderal yang bergabung dengan parpol lain, seperti Gerindra, Hanura maupun PD.

Dari pengamatan Ibramsyah, sejauh ini pensiunan jenderal paling banyak berada di kubu Prabowo. Sejak mantan Danjen Kopassus itu membentuk partai, Pilpres 2009 sampai sekarang, jumlah jenderal yang merapat ke prabowo yang paling banyak. Posisi ke dua diduduki mantan Menhankam/Pangab Wiranto, Ketua Umum Hanura. Dan peringkat ketiga ditempati SBY.

Tapi para jenderal yang gabung di PD saat ini dianggap Ibramsyah kebanyakan kutu loncat. "Tapi saya belum tahu siapa saja jenderal itu yang melompat ke Ical. Yang jelas banyak jenderal di sekitar SBY dan PD yang tidak mau ikut kapal karam itu," kata Ibramsyah.

Sikap pragmatis para jenderal yang sejak Pemilu 2004 dan 2009 membantu SBY dan PD dianggap wajar. Sebab pada Pilpres 2014 SBY sudah tidak maju lagi. Jadi banyak jenderal yang sebelumnya berada di PD mulai ambil ancang-ancang juga. Diprediksi para jenderal yang sebelumnya gabung di barisan SBY dan PD akan melompat ke Ical karena Ical punya banyak uang.

Tapi meski Ical dikelilingi banyak jenderal, bukan berarti peluang menang pada 2014 besar. Para jenderal umumnya memang jago strategi. Tapi Pilpres beda dengan perang. “Menghadapi massa dalam pemilu sulit, beda dengan strategi perang,"ujar Ibramsyah.

(iy/nrl)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel