Kemenhut dan APP Deklarasi Dukung Konservasi Harimau Sumatera
Kamis, 12/01/2012 16:24 WIB
Riau
Kemenhut melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) membuat nota kesepahaman dengan Asia Pulp and Paper Group (APP) di Riau tentang konservasi harimau Sumatera dan satwa langka. Sebagai langkah awal, APP telah menyediakan kandang observasi harimau.
Penandatangan nota kesepahaman ini berlangsung, Kamis (12/01/2012), di Pabrik APP di Perawang Kabupaten Siak, Riau, antara Kemenhut dan APP. Dirjen PHKA, Darori mengatakan, kemitraan swasta dengan pemerintah dalam kesepahaman konservasi harimau dan satwa langkah sangat penting.
"Perusahaan sektor swasta perlu bekerjasama dengan pemerintah guna membantu melindungi harimau Sumatera serta berbagai satwa langka lainnya," kata Darori.
Sedangkan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Novianto Bambang, menyebut, kerjasama ini merupakan langkah penting untuk mengajak sektor swasta lainnya dalam membantu peningkatan populasi sebesar 3 persen tahun 2014. Sekaligus pelestarian harimau Sumatera di dalam kawasan konservasi.
"Kesepahaman ini antara pemerintah dan pihak swasta bisa bersama-sama meredam konflik antara harimau dan manusia. Di samping itu kerjasama ini untuk terus mengedukasi komunitas yang berada di sekitar habitat satwa tersebut," kata Novianto.
Direktur Komunikasi APP, Hendra Gunawan, mengatakan, pihaknya akan mendukung pengintegrasian tataran upaya pelestarian alam demi perlindungan harimau dan satwa langka lainnya di Sumatera.
“Kita telah menyediakan kawasan konservasi yang cukup luas tidak hanya untuk harimau namun jua melingkupi berbagai satwa lainnya, termasuk orangutan dan badak Jawa," kata Gunawan.
Sebagai bentuk upacara resmi kesepahaman tersebut, Kemenhut sekaligus meresmikan sebuah kandang observasi harimau berukuran 6 x 6 meter di pabrik kertas APP. Di kandang observasi tersebut telah ada seekor harimau remaja yang pernah konflik dengan manusia. Setidaknya harimau usia 2 tahun itu sudah 3 kali konflik dengan manusia.
Dari konflik tersebut, akhirnya harimau ini di observasi di kandang tersebut yang nantinya akan dilepas kembali. Harimau yang kini diberinama Bima itu ditangkap pada Oktober 2011 lalu pasca konflik dengan manusia.
"Selama masa observasi harimau ini tetap dipantau tim medis hewan secara berkala dari Taman Safari Indonesia. Beberapa bulan ke depan, nantinya harimau liar ini akan kembali dilepas ke habitatnya," kata Gunawan.
(cha/anw)
Penandatangan nota kesepahaman ini berlangsung, Kamis (12/01/2012), di Pabrik APP di Perawang Kabupaten Siak, Riau, antara Kemenhut dan APP. Dirjen PHKA, Darori mengatakan, kemitraan swasta dengan pemerintah dalam kesepahaman konservasi harimau dan satwa langkah sangat penting.
"Perusahaan sektor swasta perlu bekerjasama dengan pemerintah guna membantu melindungi harimau Sumatera serta berbagai satwa langka lainnya," kata Darori.
Sedangkan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Novianto Bambang, menyebut, kerjasama ini merupakan langkah penting untuk mengajak sektor swasta lainnya dalam membantu peningkatan populasi sebesar 3 persen tahun 2014. Sekaligus pelestarian harimau Sumatera di dalam kawasan konservasi.
"Kesepahaman ini antara pemerintah dan pihak swasta bisa bersama-sama meredam konflik antara harimau dan manusia. Di samping itu kerjasama ini untuk terus mengedukasi komunitas yang berada di sekitar habitat satwa tersebut," kata Novianto.
Direktur Komunikasi APP, Hendra Gunawan, mengatakan, pihaknya akan mendukung pengintegrasian tataran upaya pelestarian alam demi perlindungan harimau dan satwa langka lainnya di Sumatera.
“Kita telah menyediakan kawasan konservasi yang cukup luas tidak hanya untuk harimau namun jua melingkupi berbagai satwa lainnya, termasuk orangutan dan badak Jawa," kata Gunawan.
Sebagai bentuk upacara resmi kesepahaman tersebut, Kemenhut sekaligus meresmikan sebuah kandang observasi harimau berukuran 6 x 6 meter di pabrik kertas APP. Di kandang observasi tersebut telah ada seekor harimau remaja yang pernah konflik dengan manusia. Setidaknya harimau usia 2 tahun itu sudah 3 kali konflik dengan manusia.
Dari konflik tersebut, akhirnya harimau ini di observasi di kandang tersebut yang nantinya akan dilepas kembali. Harimau yang kini diberinama Bima itu ditangkap pada Oktober 2011 lalu pasca konflik dengan manusia.
"Selama masa observasi harimau ini tetap dipantau tim medis hewan secara berkala dari Taman Safari Indonesia. Beberapa bulan ke depan, nantinya harimau liar ini akan kembali dilepas ke habitatnya," kata Gunawan.
(cha/anw)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 16:30 WIB
Survei: Mayoritas Warga DKI Tak Yakin Banjir Bisa Selesai dalam 3 Tahun
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 16:24 WIB
Pemprov Sumut Inventarisir 5 Calon Nama Bandara Kualanamu
-
Minggu, 27/05/2012 15:58 WIB
Jusuf Kalla: Soal Capres, Tunggu Saja!
-
Minggu, 27/05/2012 15:53 WIB
Merampas Motor di 21 Lokasi, Briptu Dirwanto Ditangkap di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
689 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
