detikcom

Anwar Ibrahim: Fakta Pengadilan Terlalu Terang untuk Dipermainkan

Deddy Sinaga - detikNews
Selasa, 10/01/2012 20:03 WIB
Jakarta Pengadilan Tinggi Malaysia akhirnya memvonis bebas pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, pada Senin lalu. Anwar dinilai tak terbukti melakukan sodomi seperti yang dituduhkan asisten pribadinya, Mohd. Saiful Bukhari, pada 2008.

"Fakta-fakta yang ada di pengadilan terlalu terang untuk dipermainkan," katanya melalui sambungan telepon internasional.

Tapi pada saat yang sama, Anwar juga merasa khawatir terhadap situasi yang terjadi akhir-akhir ini. Tiga ledakan bom terjadi di luar pengadilan. Sebelumnya, istrinya juga terhindar dari serangan zat beracun. Meski begitu, Anwar tak gentar untuk melaju ke pemilihan umum.

Meski waktunya sempit karena mengejar penerbangan menuju Mumbai, India, Anwar melayani wawancara dengan wartawan Detik, Deddy Sinaga, melalui sambungan telepon internasional pada Senin (9/1/2012) malam. Berikut ini petikannya:

Selamat, Anda memenangkan kasus itu.

Terima kasih. Ini sungguh tidak disangka karena kehakiman di sini tidak bebas, ini sangat mengejutkan. Fakta-fakta yang ada di pengadilan terlalu terang untuk dipermainkan.

Menurut Anda, apa faktor kemenangan itu?

Cara mereka untuk memakai cara menghina musuh menjadi backfire. Rakyat yang mereka kira konservatif sudah bosan dengan cara-cara fitnah seperti ini. Lalu dengan adanya perhatian dari media internasional, membuat mereka tidak mau semakin memunculkan kisah tentang otoritarianisme di Malaysia.

Apakah ini akhir?

Terlalu awal. Mereka masih ke Mahkamah Rayuan (banding). Lalu belum ada yang jelas tentang perubahan policy yang menunjukkan bahwa sudah ada reformasi dan kehakiman yang bebas.

Anda bisa lihat, begitu besarnya perhatian dunia internasional terhadap kasus ini tapi tidak ada satu pun televisi dan radio milik pemerintah yang memberi saya satu menit saja untuk berbicara.

Apakah itu ada hubungannya dengan tiga ledakan bom di luar pengadilan?

Saya mendengar bunyi letupannya, tapi ketika saya hendak keluar polisi menasehatkan saya untuk jangan keluar karena alasan keamanan. Tapi anak saya, anggota perlemen Nurul Izzah Anwar ke sana dan melihat rekan-rekan yang cedera. Ramai yang cedera adalah dari Partai Keadilan Rakyat. Kami menuntut polisi melakukan investigasi karena itu bukan molotov, tapi bom.

Mengapa situasinya jadi begitu?

Ya. Ini membimbangkan karena sehari sebelumnya Wan Azizah, istri saya, juga mengalami insiden yang menyerang staf kami. Staf kami diracun sehingga orang itu terbaring di rumah sakit sekarang.

(Staf yang dimaksud adalah Fayadh Afiq Albakqry, pengawal Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar. Fayadh diduga disuntik zat beracun yang merupakan upaya untuk menyerang Wan Azizah di Cherok Tok Kun, Bukit Mertajam. Polisi sedang menyelidiki kasus itu-Red)

Ada yang mengatakan bahwa kemenangan Anda adalah strategi politik pemerintah sehingga membangkitkan pandangan bahwa pemerintah sudah reformis. Tanggapan Anda?

Ya, saya dengar juga itu. Saya mendengar menteri penerangan Malaysia, seperti Menteri Penerangan Harmoko dulu ha, ha, ha.. yang mengatakan mahkamah ini sudah adil dan bebas. Saya mau tanya, kalau adil mengapa saksi pertama Perdana Menteri Mohd Najib Tun Razak tidak dihadirkan? Mengapa hasil pemeriksaan dokter tidak diserahkan? Mengapa tidak dibiarkan Perdana Menteri Najib bersaksi?

Berarti tidak ada perubahan sebetulnya?

Saya tidak yakin ada perubahan. Pengumuman pemerintah soal pencabutan beberapa undang-undang yang menghalangi kebebasan berbicara belum berlaku juga. Malah ada kejadian anak-anak mahasiswa di Kuala Lumpur yang dipukuli polisi karena unjuk rasa.

Lalu mengapa Najib memakai public relation yang dibayar lebih dari 20 juta ringgit? Lalu ada lembaga think tank dari Amerika yang dibayar pemerintah dan mereka juga mengundang sejumlah media yang dibayar untuk menulis yang baik tentang pemerintah. Tapi realitas tak bisa ditutupi. Contohnya kasus ini, terlalu terang untuk ditutupi.
Cara-cara pemerintah memakai sentimen agama juga tidak benar. Saya Muslim, tapi saya tidak setuju cara-cara penghinaan terhadap agama orang lain, contohnya soal isu kristenisasi untuk mencari dukungan padahal itu tidak benar.

Langkah Anda menuju pemilihan raya bagaimana?

Insya Allah tetap ke sana. Fokus kita setelah ini adalah pemilu. Hari ini saya harus ke Mumbai, India, untuk menghadiri undangan cucu Mahatma Gandhi dalam sebuah acara tentang demokrasi. Setelah dua hari di sana saya pulang dan kami akan fokus ke pemilihan umum.

Anda akan mencalonkan diri?

Kalau rakyat dan partai mencalonkan, insya Allah kami akan maju.

(vit/nwk)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel