Jangan Cuma Karena Naik KRL Saja
Senin, 09/01/2012 17:22 WIB
Jakarta
“Kalau nanti aku punya sepeda, semua orang saya boncengin.”
Malam itu disebuah resto di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Dahlan Iskan mengenang masa remajanya. Saat menjadi ABG berbalut seragam putih abu-abu, ia sangat mengidam-idamkan memiliki sepeda.
Sayang, Dahlan kecil bukan dari kalangan orang berada. Ayah Dahlan adalah seorang buruh tani dan tukang kayu. Maka impian memiliki sepeda pun menjadi keinginan terbesar Dahlan terlebih ia sangat membutuhkannya untuk berangkat sekolah karena jarak sekolah 6 kilometer.
“Saya jalan kaki 6 kilometer. Bolak balik 12 kilometer. Hujan, panas. Beberapa teman saya punya sepeda. Tapi kan mereka tidak mau memboncengkan saya, karena saya kan tidak bisa naik sepeda, berat,” ujar Dahlan.
Kini kondisi Dahlan berubah drastis. Ia menjadi orang sukses. Ia kini Menteri BUMN dan bahkan digadang-gadang menjadi calon presiden. “Waduh..mana pernah,” kata Dahlan saat ditanya apakah waktu kecil pernah bercita-cita jadi presiden.
Tapi faktanya, sekarang nama Dahlan melejit sebagai kandidat capres. Sejumlah kalangan, termasuk politisi kemudian beramai-ramai menggadang-gadangnya untuk maju sebagai capres 2014.
Sosok Dahlan yang sukses membesarkan Jawa Pos Group dan sukses memimpin PLN, diharapkan mampu mengurus Indonesia yang penuh dengan masalah.
Dahlan Iskan memang tampil beda dengan para pejabat lainnya. Sosoknya yang populis gampang membuat masyarakat jatuh suka. Apalagi masyarakat sudah bosan dengan elite yang selama ini bergaya hedonis.
“Model kepemimpinan Dahlan Iskan disukai karena gaya kepemimpinannya yang tidak linier, tidak textbook dan tidak birokrat,” ujar Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Adnan Anwar kepada majalan detik.
Tetapi harus diingat Dahlan selama ini baru terbukti sukses memimpin lembaga media dan PLN yang ruang lingkup atau levelnya lebih kecil dari mempimpin bangsa. Masih ada beberapa tahapan ujian yang harus dibuktikan Dahlan bila ingin maju menjadi presiden.
Dahlan Iskan belum terbukti dalam menyelesaikan konflik masyarakat, masalah SARA, disintegrasi, dan isu politik yang kategori permasalahannya tingkat tinggi. Transformasi kepemimpinan Dahlan diperlukan untuk maju ke level yang lebih tinggi.
Kelemahan Dahlan lainnya ia belum cukup menunjukkan ketegasan. Selama memimpin Jawa Pos, Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) menilai pria kelahiran Magetan itu tidak tegas melarang wartawannya menerima gratifikasi yang mempengaruhi independensi berita. “Saya tidak pernah mendengar ketegasan Dahlan meminta wartawannya agar tidak menerima amplop,” kata Ketua AJI Eko Maryadi.
Bagi Eko, rakyat Indonesia saat ini membutuhkan dua tipe pemimpin, pertama adalah mereka yang siap maju dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Sedangkan yang kedua adalah pemimpin yang siap mundur apabila tidak sanggup memegang amanah yang diberikan rakyatnya.
Dahlan Iskan sejauh ini belum memperlihatkan kemauan atau bersedia menjadi capres. Dorongan Dahlan agar menjadi capres baru sebatas dari sekelompok masyarakat saja, dan tentunya ini cukup berbahaya. Untuk memimpin itu harus ada kemauan dan ketegasan dari sang calon sehingga saat pemimpin itu tidak lagi sanggup menjalankan amanah dia tidak melempar tanggung jawab.
“Kalau didorong-dorong pendukung saja, lalu di tengah jalan ada masalah bisa saja dia beralasan, saya ini diminta,” ujar Eko.
***
Sejauh ini elektibilitas Dahlan Iskan memang cukup besar untuk maju menjadi presiden, terutama di kalangan profesional perkotaan. Sosoknya yang independen pun tentunya akan menjadi magnet bagi partai yang ingin meminangnya, meski Partai Demokrat akan lebih merasa memiliki Dahlan karena dia tergabung dalam jajaran kabinet saat ini.
Adnan juga mengakui masyarakat sudah bosan dengan sosok sejumlah calon presiden yang ada dan lebih menyukai calon alternatif. Sejauh ini Indonesia memiliki tiga calon alternatif yang elektibilitasnya cukup tinggi, yakni Dahlan Iskan, Mohammad Mahfud atau Mahfud MD, dan Joko Widodo atau Jokowi.
Nama Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi juga cukup fenomenal. Meski berasal dari daerah yang punya hubungan relasi minim dengan pusat kekuasaan, namun kiprahnya mampu membetot kalangan luas.
Selain itu Jokowi juga dianggap sudah teruji dalam menyelesaikan masalah di akar rumput. Contohnya, saat merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari yang nyaris tidak ada gejolak antara pemerintah kota versus pedagang. Jokowi juga memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka yang disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat.
Atas kiprah dan gebrakannya yang otentik itu, Jokowi kemudian diusung untuk bersaing memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada tahun ini. Bahkan, di internal PDIP nama Jokowi juga sering disebut pantas untuk maju sebagai capres dari PDIP.
Sementara Mahfud dinilai memiliki jiwa yang berani dan nekat. Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang visioner dan berani mengambil tindakan konkret demi kesejahteraan rakyat. "Beliau sangat potensial menjadi pemimpin nasional," kata Ketua DPP PKB, Abdul Malik Haramain.
Meski punya potensi yang cukup kuat, pengamat politik Arie DP, berpendapat, Dahlan, Joko Widodo, maupun Mahfud MD hanya dapat dijadikan sebagai alternatif jika mereka mengeluarkan terobosan-terobosan pikiran alternatif dan memutuskan hal yang berkaitan dengan keputusan publik.
“Kita harus melihat sepak terjangnya dan kinerja mereka untuk kepentingan rakyat seperti apa, jadi jangan cepat terpesona karena pakai sepatu kets, naik kereta api, naik mobil Esemka, atau karena gaya hidup,” kata Arie.(IYE)
***
Edisi terbaru Majalah Detik mengupas tuntas tema 'Para Jenderal di Wisma Bakrie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Rosa Diancam Mati 3 Lelaki', rubrik ekonomi bisnis 'Pajak Parkir Bocor Sampai Jauh', dan rubrik seni dan hiburan yaitu teater Capgomeh: 'Kisah Jadul yang Tak Berdebu' dan film 5 Days of War: Perang 5 Hari Pedih Tak Terperi.
Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download di www.majalahdetik.com. Selamat menikmati!
(iy/nrl)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Malam itu disebuah resto di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Dahlan Iskan mengenang masa remajanya. Saat menjadi ABG berbalut seragam putih abu-abu, ia sangat mengidam-idamkan memiliki sepeda.
Sayang, Dahlan kecil bukan dari kalangan orang berada. Ayah Dahlan adalah seorang buruh tani dan tukang kayu. Maka impian memiliki sepeda pun menjadi keinginan terbesar Dahlan terlebih ia sangat membutuhkannya untuk berangkat sekolah karena jarak sekolah 6 kilometer.
“Saya jalan kaki 6 kilometer. Bolak balik 12 kilometer. Hujan, panas. Beberapa teman saya punya sepeda. Tapi kan mereka tidak mau memboncengkan saya, karena saya kan tidak bisa naik sepeda, berat,” ujar Dahlan.
Kini kondisi Dahlan berubah drastis. Ia menjadi orang sukses. Ia kini Menteri BUMN dan bahkan digadang-gadang menjadi calon presiden. “Waduh..mana pernah,” kata Dahlan saat ditanya apakah waktu kecil pernah bercita-cita jadi presiden.
Tapi faktanya, sekarang nama Dahlan melejit sebagai kandidat capres. Sejumlah kalangan, termasuk politisi kemudian beramai-ramai menggadang-gadangnya untuk maju sebagai capres 2014.
Sosok Dahlan yang sukses membesarkan Jawa Pos Group dan sukses memimpin PLN, diharapkan mampu mengurus Indonesia yang penuh dengan masalah.
Dahlan Iskan memang tampil beda dengan para pejabat lainnya. Sosoknya yang populis gampang membuat masyarakat jatuh suka. Apalagi masyarakat sudah bosan dengan elite yang selama ini bergaya hedonis.
“Model kepemimpinan Dahlan Iskan disukai karena gaya kepemimpinannya yang tidak linier, tidak textbook dan tidak birokrat,” ujar Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Adnan Anwar kepada majalan detik.
Tetapi harus diingat Dahlan selama ini baru terbukti sukses memimpin lembaga media dan PLN yang ruang lingkup atau levelnya lebih kecil dari mempimpin bangsa. Masih ada beberapa tahapan ujian yang harus dibuktikan Dahlan bila ingin maju menjadi presiden.
Dahlan Iskan belum terbukti dalam menyelesaikan konflik masyarakat, masalah SARA, disintegrasi, dan isu politik yang kategori permasalahannya tingkat tinggi. Transformasi kepemimpinan Dahlan diperlukan untuk maju ke level yang lebih tinggi.
Kelemahan Dahlan lainnya ia belum cukup menunjukkan ketegasan. Selama memimpin Jawa Pos, Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) menilai pria kelahiran Magetan itu tidak tegas melarang wartawannya menerima gratifikasi yang mempengaruhi independensi berita. “Saya tidak pernah mendengar ketegasan Dahlan meminta wartawannya agar tidak menerima amplop,” kata Ketua AJI Eko Maryadi.
Bagi Eko, rakyat Indonesia saat ini membutuhkan dua tipe pemimpin, pertama adalah mereka yang siap maju dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Sedangkan yang kedua adalah pemimpin yang siap mundur apabila tidak sanggup memegang amanah yang diberikan rakyatnya.
Dahlan Iskan sejauh ini belum memperlihatkan kemauan atau bersedia menjadi capres. Dorongan Dahlan agar menjadi capres baru sebatas dari sekelompok masyarakat saja, dan tentunya ini cukup berbahaya. Untuk memimpin itu harus ada kemauan dan ketegasan dari sang calon sehingga saat pemimpin itu tidak lagi sanggup menjalankan amanah dia tidak melempar tanggung jawab.
“Kalau didorong-dorong pendukung saja, lalu di tengah jalan ada masalah bisa saja dia beralasan, saya ini diminta,” ujar Eko.
***
Sejauh ini elektibilitas Dahlan Iskan memang cukup besar untuk maju menjadi presiden, terutama di kalangan profesional perkotaan. Sosoknya yang independen pun tentunya akan menjadi magnet bagi partai yang ingin meminangnya, meski Partai Demokrat akan lebih merasa memiliki Dahlan karena dia tergabung dalam jajaran kabinet saat ini.
Adnan juga mengakui masyarakat sudah bosan dengan sosok sejumlah calon presiden yang ada dan lebih menyukai calon alternatif. Sejauh ini Indonesia memiliki tiga calon alternatif yang elektibilitasnya cukup tinggi, yakni Dahlan Iskan, Mohammad Mahfud atau Mahfud MD, dan Joko Widodo atau Jokowi.
Nama Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi juga cukup fenomenal. Meski berasal dari daerah yang punya hubungan relasi minim dengan pusat kekuasaan, namun kiprahnya mampu membetot kalangan luas.
Selain itu Jokowi juga dianggap sudah teruji dalam menyelesaikan masalah di akar rumput. Contohnya, saat merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari yang nyaris tidak ada gejolak antara pemerintah kota versus pedagang. Jokowi juga memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka yang disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat.
Atas kiprah dan gebrakannya yang otentik itu, Jokowi kemudian diusung untuk bersaing memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada tahun ini. Bahkan, di internal PDIP nama Jokowi juga sering disebut pantas untuk maju sebagai capres dari PDIP.
Sementara Mahfud dinilai memiliki jiwa yang berani dan nekat. Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang visioner dan berani mengambil tindakan konkret demi kesejahteraan rakyat. "Beliau sangat potensial menjadi pemimpin nasional," kata Ketua DPP PKB, Abdul Malik Haramain.
Meski punya potensi yang cukup kuat, pengamat politik Arie DP, berpendapat, Dahlan, Joko Widodo, maupun Mahfud MD hanya dapat dijadikan sebagai alternatif jika mereka mengeluarkan terobosan-terobosan pikiran alternatif dan memutuskan hal yang berkaitan dengan keputusan publik.
“Kita harus melihat sepak terjangnya dan kinerja mereka untuk kepentingan rakyat seperti apa, jadi jangan cepat terpesona karena pakai sepatu kets, naik kereta api, naik mobil Esemka, atau karena gaya hidup,” kata Arie.(IYE)
***
Edisi terbaru Majalah Detik mengupas tuntas tema 'Para Jenderal di Wisma Bakrie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Rosa Diancam Mati 3 Lelaki', rubrik ekonomi bisnis 'Pajak Parkir Bocor Sampai Jauh', dan rubrik seni dan hiburan yaitu teater Capgomeh: 'Kisah Jadul yang Tak Berdebu' dan film 5 Days of War: Perang 5 Hari Pedih Tak Terperi.
Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download di www.majalahdetik.com. Selamat menikmati!
(iy/nrl)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
689 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
