detikcom

Dahlan Mencuat, Hatta Menciut

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 09/01/2012 16:28 WIB
Jakarta Cerdas, pekerja keras dan merakyat. Itulah kesan sebagian kalangan terhadap Dahlan Iskan. Ini kontras dengan gaya para pejabat yang gila hormat dan gemar bermewah-mewah.

Dahlan jadi pusat perhatian, dan politisi Partai Demokrat pun merasa memilikinya. Maklum, SBY-lah yang menunjuk Dahlan sebagai Dirut PLN dan Menteri BUMN.

Makanya, setelah PD kehilangan masa depan politik Anas Urbaningrum akibat belitan skandal Wisma Atlet dan Hambalang, Dahlan jadi pilihan. PD harus mempunyai calon presiden karena SBY tidak mungkin dicalonkan lagi. Padahal SBY sudah berulang kali melarang istrinya, Ani Yudhoyono untuk maju pada Pilres 2014.

PD memang harus mulai mengelus jago capres, sebab para kadernya percaya, partai ini akan tetap bisa memenangkan pemilu mendatang. Jadi aneh bila partai-partai lain sudah memunculkan nama-nama, PD sebagai partai besar justru tampak kebingungan.

Jika Partai Golkar hendak mengajukan Aburizal Bakrie, PDIP memiliki Megawati atau Puan, PAN sudah menetapkan Hatta Rajasa, Gerindra percaya diri dengan Prabowo Subianto, lalu siapa calon PD?

"Saat ini kami fokus bekerja untuk rakyat dulu. Kami belum mau ikut-ikutan untuk memunculkan nama capres. Tahun ini paling sikap partai hanya sebatas mekanisme penjaringan calon. Misalnya lewat konvensi atau berdasarkan rekomendasi DPD, atau DPP," ujar Ketua DPP PD Kastorius Sinaga kepada majalah detik.

Partai besutan SBY ini memang terlihat serba salah dalam menentukan capres dari kader sendiri. Sumber majalah detik di internal PD mengatakan, sebenarnya pasca Kongres ke-2 PD, sejumlah pengurus partai yang baru terpilih menginginkan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum yang akan dijagokan dalam Pilpres mendatang.

Sayangnya Anas tersandera kasus suap Wisma Atlet SEA Games dan Hambalang. Dalam dua kasus itu, mantan Bendahara DPP PD M Nazaruddin yang kini jadi tersangka, berulang kali menyebut keterlibatan Anas. Sekalipun Anas juga berulang kali membantah tudingan mantan kolega dekatnya itu.

"Untuk bisa lolos dari masalah itu saja sudah syukur. Peluang memajukan Anas mungkin pada 2019. Toh pada saat itu usianya masih relatif muda, baru 50 tahun. Jadi masih layak dibilang tokoh muda," ujar sumber yang merupakan karib dekat Anas di PD.

Selain nama Anas, tersebut nama Ani Yudhoyono, istri SBY. Namun kemungkinan mengusung Ani semakin kecil bahkan bisa dibilang lenyap. Pasalnya, SBY saat pidato dalam Sarasehan PD, pertengahan Desember 2011, secara tegas menyatakan 100 persen istrinya tidak akan maju sebagai Capres 2014.

Karena dari dalam tidak ada yang mumpuni, muncul spekulasi PD akan mengusung tokoh luar partai. Dalam hal ini ada dua yang disebut-sebut: pertama, Menko Polhukam Djoko Suyanto; kedua, Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Kedua menteri ini meski bukan kader PD namun punya hubungan yang spesial dengan PD maupun SBY.

Djoko Suyanto, pada Pemilu 2009 merupakan ketua tim sukses, baik untuk pemilu legislatif maupun pemilu presdien. Marsekal purnawirawan ini merupakan komandan Tim Echo, salah satu tim operasi senyap yang dibentuk SBY.

Sedangkan Hatta Rajasa adalah teman dekat SBY, sejak sama-sama menjabat menteri pada era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) maupun Megawati. Hubungan Hatta-SBY kian lekat, setelah mereka berbesanan. Hubungan ini membuat peluang Hatta maju sebagai capres dari PD lebih terbuka. Apalagi, Hatta secara resmi sudah diusung PAN sebagai capres 2014.

Tapi agaknya peluang Hatta terganggu dengan munculnya nama Dahlan Iskan yang diwacanakan jadi capres PD. Dahlan bisa membahayakan Hatta.

"Dahlan bisa jadi ancaman serius bagi Hatta untuk diusung PD sebagai capres. Tapi itu tergantung perolehan suara PD di Pemilu 2014. Kalau masuk tiga besar PD tentu bisa mencalonkan capresnya sendiri, misalnya Dahlan," ujar pengamat politik Universitas Indonesia, Prof Dr Maswadi Rauf.

Tapi, menurut Ketua DPP PD Ulil Absar Abdalla, Dahlan, akan sangat cocok jika didampingi oleh Hatta sebagai cawapres. Pasangan Dahlan-Hatta menurut Ulil dapat menjadi sosok problem solver.

Tapi gagasan pasangan Dahlan-Hatta kurang sreg di hati para politisi PAN. Apalagi sejak jauh-jauh hari PAN sudah mempersiapkan majunya Hatta sebagai capres, bukan cawapres.

Ketua DPP PAN Arya Bima Sugiarto mengatakan, wacana Dahlan-Hatta akan menjadi pengamatan rakyat. Dan rakyat akan terus mengawasi kinerja-kinerja calon-calon tersebut.

"Tapi sikap kita jelas. Sesuai amanat Rakernas, PAN sudah bulat mengusung Bang Hatta sebagai capres. Sementara untuk pasangannya masih menunggu hasil pemilu legislatif," kata Arya.

Nah, dalam soal cawapresnya Hatta, kata Arya, PAN bersikap terbuka bagi tokoh-tokoh nasional. Misalnya Djoko Suyanto maupun Dahlan.(DIKS)

***
Edisi terbaru Majalah Detik mengupas tuntas tema 'Para Jenderal di Wisma Bakrie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Rosa Diancam Mati 3 Lelaki', rubrik ekonomi bisnis 'Pajak Parkir Bocor Sampai Jauh', dan rubrik seni dan hiburan yaitu teater Capgomeh: 'Kisah Jadul yang Tak Berdebu' dan film 5 Days of War: Perang 5 Hari Pedih Tak Terperi.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download di www.majalahdetik.com. Selamat menikmati!

(iy/nrl)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel