detikcom
Senin, 09/01/2012 13:36 WIB

Anwar Ibrahim Bebas, Pemilu di Malaysia Diharapkan Demokratis

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jakarta - Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim divonis tidak bersalah atas kasus sodomi. Wakil Ketua DPR Anis Matta berharap akan terselenggara pemilu yang lebih demokratis di Malaysia.

"Kita tentu mengucapkan selamat kepada beliau sudah lama kita sebagai bangsa Indonesia menantikan keputusan final tentang kasus beliau apakah fitnah atau kasus sebenarnya, jadi kita mengucapkan selamat kepada beliau," tutur Wakil Ketua DPR, Anis Matta.

Hal ini disampaikan Anis kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Anis berharap pemilu di Malaysia dapat diselenggarakan secara demokratis. Sehingga memberikan peluang terbinanya komunikasi yang lebih baik antara Indonesia dan Malaysia.

"Kita berharap pemilu Malaysia dapat diselenggarakan dengan demokratis. Dan Isya Allah komunikasi Indonesia dengan Malaysia berlangsung lebih baik,"tegasnya.

Setelah persidangan yang berlangsung hampir 2 tahun, pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim divonis tidak bersalah atas kasus sodomi. Atas putusan bebas ini, Anwar menyebut bahwa keadilan telah ditegakkan. Anwar pun berjanji akan menggulingkan pemerintah dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang.

"Terima kasih Tuhan, keadilan telah ditegakkan," kata Anwar kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (9/1/2012).

"Saya merasa dibenarkan, namun kami masih punya agenda dan perjuangan. Kita sekarang harus fokus ke pemilu," tutur mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia itu.

Dalam salah satu postingnya di Twitter, Anwar menuliskan: "Dalam pemilu mendatang, suara rakyat akan didengar dan pemerintahan korup ini akan terjungkal dari tiang kekuasaannya".

(van/did)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel