Senin, 09/01/2012 10:24 WIB

Bahaya Dahlan Iskan

Iin Yumiyanti - detikNews
Jakarta - “Bahaya.. bahaya sekali!” Kata-kata ini meluncur dari mulut Dahlan Iskan ketika ditanya soal pencalonan dirinya sebagai presiden. Menteri BUMN itu selalu mengelak menanggapi wacana pencapresan dirinya oleh Partai Demokrat (PD). Katanya, implikasinya bisa macam-macam.
"Pertama saya akan dianggap kerja keras karena punya keinginan politik tertentu. Bahaya kedua, hal itu akan mengganggu saya untuk bekerja keras di Kementerian BUMN. Ini bisa mengganggu keikhlasan saya dalam menjalankan tugas," jelas Dahlan saat ditemui majalah detik di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

Wacana pencapresan Dahlan mengemuka menyusul pernyataan Ketua DPP PD Bidang Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP PD, Ulil Abshar Abdalla. Menurut Ulil, Dahlan berpotensi dan punya kapasitas maju pada Pilpres 2014. Tentu saja, Dahlan butuh dukungan partai besar. Itu sebabnya, dalam akun twitternya, Ulil berjanji akan mengusulkan nama Dahlan ke internal PD.

Entah sengaja atau tidak, wacana yang dikembangkan Ulil itu seakan mendapat sokongan Presiden SBY. Senin 2 Januari 2012, di hadapan pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI), SBY memberikan pujian kepada Dahlan.

"Saya kenal Dahlan Iskan, mungkin saudara tidak. Tapi dengan saya intens sekali. Ketika saya minta tugas selesai minggu depan, ternyata selesai hanya dalam tiga hari. Cepat, bukan 3 minggu," kata SBY yang disambut tepuk tangan hadirin.

SBY dan Dahlan memang sudah saling mengenal sejak 2004, ketika SBY baru memperkenalkan Partai Demokrat untuk menghadapi Pemilu 2004. Dahlan merupakan salah satu tokoh media yang ditemui SBY saat itu.

Usai pemilu legislatif, salah seorang kepercayaan Dahlan di Grup Jawa Pos, yakni Alwi Hamu, membentuk sebuah tim pemenangan SBY-JK yang diberi nama Tim Lembang Sembilan. Alwi Hamu, Komisaris Utama Fajar Grup, kelompok media di bawah Grup Jawa Pos, saat itu bertugas membangun pencitraan melalui media.

Soal dukungannya kepada SBY dan PD, Dahlan mengakui. "Waktu itu saya memang membantu. Tapi itu hanya karena simpati saya saja terhadap Demokrat," ujarnya.

Dahlan berharap PD menjadi partai tengah yang akan menjaga stabilitas nasional. Soalnya, salah satu partai tengah yang saat itu ada, yakni Partai Golkar, dianggap punya cacat masa lalu sehingga kurang kuat. "Tapi saya hanya bersimpati saja. Tidak lebih. Dan saya juga tidak masuk tim sukses.”

Kedekatan Dahlan dengan SBY dibuktikan, ketika pria kelahiran Magetan, Jawa Timur itu ditunjuk menjadi Dirut PLN pada akhir 2009. Dengan gaya kepemimpinan yang berbeda dari pimpinan PLN sebelumnya, Dahlan berhasil meningkatkan kinerja PLN. Dahlan kemudian diangkat menjadi Menteri BUMN pada 17 Oktober 2011.

Dalam hitungan pekan, sepak terjang Dahlan sebagai menteri mendapat banyak apresiasi. Bukan saja oleh lakunya yang antiprotokoler atau kedekatannya dengan bawahan atau para pengguna jasa BUMN yang dipimpinnya, tetapi juga oleh konsep manajemen BUMN yang hendak dikembangkannya. Nama Dahlan pun moncer: populis, cerdas, jujur, dan bersih.

Wajar bila banyak kalangan yang mendambakan republik ini dipimpin orang seperti dia. Bagi kalangan PD yang sedang membutuhkan figur baru, nama Dahlan pun dipuja-puji. Paling tidak, SBY sangat tepat memilih orang ini. Oleh karena itu, ketika Ulil berkicau di internet hendak mencapreskan Dahlan, sambutan berdatangan.

Banyak yang merespons positif, seperti disampaikan Ramadhan Pohan, “Kita memang butuh figur yang seperti beliau.” Menurut Wasekjen PD Saat Mustofa, Dahlan punya rekam jejak baik di setiap posisi yang diembanya. Oleh karena itu, Saan mengaku sangat senang jika nantinya Dahlan maju sebagai capres PD.

Namun fungsionaris DPP PD yang lain, memilih berhati-hati. "Bagaimana mendukung, sedang mekanisme pemilihan capres saja baru akan dibahas Maret ini. Belum ada pembicaraan majunya Dahlan sebagai capres PD. Itu hanya wacana Ulil di twitter saja," uja Kastorius Sinaga

Sedang pendiri PD, TB Silalahi, menilai wacana mencapreskan Dahlan merupakan ulah pahlawan kesiangan. Mereka memunculkan nama Dahlan sekadar untuk mengambil hati. Mereka mencuri start, tujuanya mancing-mancing reaksi publik. "Pak Dahlan harus waspada agar tidak terpancing. Beliau masih menjabat menteri, nanti bisa terganggu kinerjanya." (DIKS)
***
Edisi terbaru Majalah Detik mengupas tuntas tema 'Para Jenderal di Wisma Bakrie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Rosa Diancam Mati 3 Lelaki', rubrik ekonomi bisnis 'Pajak Parkir Bocor Sampai Jauh', dan rubrik seni dan hiburan yaitu teater Capgomeh: 'Kisah Jadul yang Tak Berdebu' dan film 5 Days of War: Perang 5 Hari Pedih Tak Terperi.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download di www.majalahdetik.com. Selamat menikmati!

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(iy/iy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
67%
Kontra
33%