Detik.com News
Detik.com
Jumat, 06/01/2012 21:29 WIB

Satu Korban Penembakan di Aceh Besar Meninggal Dunia

Dadang Heryanto - detikNews
Jakarta - Gunoko (30), salah satu korban penembakan orang tak dikenal di kawasan Aneuk Galong, Aceh Besar, akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Gunoko tewas setelah kepalanya tertembus timah panas.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUZA dr. Andalas yang dihubungi detikcom, Jumat (6/1/12), mengatakan, Gunoko meninggal sore tadi sekitar pukul 16.50 WIB. "Dia mengalami pendarahan hebat di bagian kepala," ujar Andalas.

Menurut Andalas, Gunoko tidak sempat dioperasi karena sejak tiba di rumah sakit kondisinya sudah mengalami luka serius di kepalanya. Saat ini jenazah Gunoko masih berada di rumah sakit.

"Sehingga tak layak bius, dan tentu tak bisa dioperasi untuk mengeluarkan proyektil yang diduga bersarang di bagian kepalanya," jelasnya.

Sementara itu, dua korban lainnya kondisinya terus membaik. Mereka adalah Agus Swetnyo (35) dan Sotiku Anas (25), masing-masing, terkena di bagian dada dan perut. "Setelah mendapat operasi, keadaan mereka mulai membaik," kata Andalas.


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(did/did)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%