detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Sabtu, 19/04/2014 01:24 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Senin, 02/01/2012 10:04 WIB

Ramalan 2012:

Banyak yang Mati, Banyak yang Dibui

Iin Yumiyanti - detikNews
Halaman 1 dari 3
Jakarta - 2011 kita tinggalkan dengan penuh kegeraman. Tahun itu, begitu banyak korupsi dan betapa nyawa kurang dihargai di republik ini. Dalam bidang hukum, banyak politisi dan pejabat pemerintahan yang masuk bui karena korupsi. Tahun itu juga terjadi pemenggalan atas Ruyati, TKI di Arab Saudi.

Melangkah ke tahun 2012, kasus yang sama diprediksi masih terulang. Masih akan banyak lagi politisi dan pejabat yang kembali akan masuk penjara.

Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Yuna Farhan menyatakan, banyak anggota DPR dan pejabat pemerintah bakal masuk penjara pada 2012 karena terjerat kasus mafia anggaran. Hal ini karena elite politik membutuhkan banyak modal menjelang pertarungan Pemilu dan Pilpres 2014. Menurut Yuna, harus diwaspadai terutama munculnya anggaran ganjil nanti di APBN-P 2012 dan megaproyek di kementerian.

Yuna enggan memaparkan soal nama-nama yang bakal masuk penjara. Menurutnya bisa politisi mana saja. “Ini bisa siapa saja dan parpol mana aja yang kena,” terang Yuna kepada majalah detik.

Meski belum bisa menyebut nama, Yuna yakin dengan prediksinya sebab bukti keterlibatan elite politik dalam kasus mafia anggaran sangat nyata pada 2011. Kasus Nazaruddin di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) menjadi contohnya.

Dua kasus itu masih akan banyak menyeret politisi dan pejabat pada 2012. Kasus Nazaruddin yang kini memasuki sidang, misalnya berkali-kali menyebut peran sejumlah elite Partai Demokrat (PD). Nazaruddin, mantan bendahara umum PD, sering kali menyebut nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua DPP PD Angelina Sondakh. Anas dan Angie tentu saja telah berkali-kali memberikan bantahan.

"Kalau dari bukti-bukti, Anas dan Anggie sudah layak jadi tersangka, tetapi semua kembali kepada KPK," kata Nazaruddin di kantor KPK, Jakarta, 23 Desember 2011.Next

Halaman 1 2 3

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(iy/iy)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
80%
Kontra
20%