Minggu, 25/12/2011 17:50 WIB

Lumpuhkan Pendemo di Bima, Polisi Gunakan Protap Tembak di Tempat

Didi Syafirdi - detikNews
Jakarta - Menghadapi unjuk rasa warga yang berujung bentrok di Pelabuhan Sape, Bima, NTB aparat kepolisian menggunakan protap Nomor 1/X/2010 tentang Penanggulangan Tindakan Anarkis terhadap pendemo. Akibatnya, 2 orang warga tewas tertembus timah panas petugas.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Saud Usman Nasution mengatakan, penggunaan protap yang dikenal dengan protap tembak di tempat itu sudah sesuai dengan prosedur. Tindakan represif diambil karena adanya perlawan dari warga dengan senjata tajam dan bom molotov.

"Protap Nomor 1 Tahun 2010 merupakan penanganan terhadap unjuk rasa anarkis. Diatur penembakan untuk melumpuhkan bukan membunuh," kata Saud kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Minggu (25/12/2011).

Pada kenyataannya, 2 warga, Arif Rahman dan Saiful tewas dalam bentrok berdarah itu. Saat mengamankan demo lanjutnya, petugas hanya dibekali dengan peluru karet. "Peluru yang digunakan peluru karet," ucapnya.

Untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian kedua orang itu, Saud masih menunggu hasil otopsi dari Rumah Sakit Mataram.

"Kita sedang tunggu hasil otopsi, untuk memastikan tidak bisa luka dilihat hanya dari luar saja," kata Saud.

Pasca bentrokan polisi menetapkan 47 orang warga sebagai tersangka karena menduduki fasilitas umum, melakukan pengursakan dan pembakaran. Tiga orang berinisial H, A alias O dan SY terindikasi sebagai provokator.

Bentrok antara brimob dan warga terjadi Sabtu (24/12/2011) pagi saat polisi membubarkan paksa ribuan warga yang memblokade Pelabuhan Sape, karena tuntutan agar dua perusahaan tambang di Sape dan Lambu ditutup tak digubris Bupati Bima. Blokade pelabuhan sudah berlangsung sepekan.

Pelabuhan Sape melayani penyeberangan ke Labuan Bajo, Manggarai, dan ke Waikelo, Sumba, NTT. Pelabuhan ini terletak pada jalur jalan nasional yang menghubungkan Aceh hingga Los Palos, Timor Leste.


(did/gun)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel