detikcom
Sabtu, 24/12/2011 17:16 WIB

Komnas HAM, LPSK dan DPR Diminta Tangani Bentrok Sape, NTB

Anes Saputra - detikNews
Jakarta - Tewasnya dua orang dalam kasus bentrokan di Pelabuhan Sape, Bima, NTB, sudah merupakan petunjuk adanya tindak pelanggaran HAM. Komisi Nasional (Komnas) HAM harus segera terjun ke lokasi untuk melakukan investigasi dan pengumpulan fakta atas insiden yang pecah pagi hari tadi.

Pada saat sama, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) harus aktif memberikan perlindungan kepada warga yang terlibat bentrokan. Keselamatan warga perlu dijamin agar bisa menyampaikan kesaksian terhadap apa yang terjadi di dalam proses hukum kelak.

Demikian dua butir tuntutan yang disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengenai bentrokan antara warga dengan Brimob Polda NTB di Pelabuhan Sape, Bima, NTB. Tuntutan dibacakan dalam keterangan pers di Sekretariat WALHI, Tegalparang, Jakarta Selatan, Sabtu (24/12/2011).

"Komnas HAM dan LPSK harus memastikan perlindungan hukum terhadap korban, ada indikasi kekerasan ini akan meluas," kata Siti Maemunah, dari JATAM.

"DPR segera gunakan hak interpelasi mememinta pertanggungjawaban Presiden SBY atas terjadinya pelanggaran HAM berat," sambungnya.

Sementara kepada Presiden SBY, diminta agar segera menarik mundur aparat Polri dari semua lokasi konflik tentang sumber daya alam. Serta mencabut ijin usaha serta menghentikan segala aktifitas usaha yang berpotensi jadi konflik dengan warga setempat.

"Agar ada kepastian penyelesaian secara struktural, bentuk panitia nasional konflik agraria dan sumber daya alam," sambungnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada sekitar pukul 07.00 WITA terjadi bentrokan antara Brimob Polda NTB dengan sekelompok warga yang memblokade Pelabuhan Sape, NTB. Ada dua orang peserta aksi blokade yang dilaporkan tewas akibat luka tembak dalam bentrokan tersebut, yaitu Arif Rachman dan Syaiful.

Pelabuhan Sape adalah pelabuhan penyeberangan dari Bima menuju Labuan Bajo dan NTT. Akibat aksi blokade warga sejak selama sepekan terakhir, aktifitas penyeberangan lumpuh total. Panjang antrean truk yang membawa logistik ke NTT mencapai 3 kilometer dan warga NTT yang hendak ke NTB terpaksa menumpang kapal kayu yang sangat rawan keselamatannya.

Uniknya, penyebab aksi blokade tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pelabuhan Sape. Aksi blokade ini merupakan unjuk rasa warga kepada Bupati Bima Ferry Zulkarnaen agar mencabut izin operasi PT Indo Mineral Persada dan PT Sumber Mineral Nusantara di Sambu dan Sape dengan alasan merusak sumber air satu-satunya bagi irigasi setempat.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(lh/ndr)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 21/07/2014 12:41 WIB
    Wamenhub: Jembatan Comal Bikin Jalur Darat Lebih Kompleks, Ada 3 Alternatif
    Gb Jembatan Comal, Pemalang, Jateng, yang ambles pada Jumat (18/7) malam lalu membuat mudik via jalur darat lebih kompleks. Memang Kementerian PU mengebut pengerjaan jembatan itu. Namun di satu sisi harus menunggu kelayakannya. Ada 3 alternatif jalur mudik menghindari Jembatan Comal.
ProKontra Index »

Polisi akan Razia dan Bubarkan Sahur on The Road

Dari hari ke hari, Sahur on The Road (SOTR) alias sahur keliling yang awalnya niatnya baik, membagi-bagikan sahur ke warga tidak mampu, kini melenceng semakin meresahkan, melakukan vandalisme hingga pembacokan. Terakhir Senin (21/7) dini hari, beberapa korban pembacokan kelompok SOTR berjatuhan. Polda Metro Jaya akan merazia, membubarkan hingga menindak kelompok SOTR yang melakukan tindak pidana. Bila Anda setuju dengan tindakan Polda Metro Jaya, pilih Pro!
Pro
69%
Kontra
31%