Jumat, 16/12/2011 06:37 WIB

Kisah Hagus, Lulusan SMA yang Mampu Kalahkan Citibank

Andi Saputra - detikNews
Halaman 1 dari 2
dok. pribadi
Jakarta - Suaranya meledak-ledak. Ceritanya sangat runtut membeberkan kasus yang baru dimenangkannya. Siapa nyana, Hagus Suanto, lulusan SMA yang sehari-hari mengelola apotek di Karawang, Jawa Barat ini bisa mengalahkan perusahaan raksasa Amerika Serikat, Citibank.

"Sampai saat ini, keluarga saya tidak percaya. Anak saya saja, masih menertawakan saya," kata Hagus saat berbincang dengan detikcom, Kamis, (15/12/2011).

Sebagai lulusan SMA yang menggeluti dunia apoteker sangat awam tentang hukum. Tetapi ketika hak-haknya dirampas, dia pun memberontak. Terutama saat membayar tagihan kartu kredit Citibank via Bank BCA terdapat biaya 'siluman' sebesar Rp 5.000 tiap pembayaran tagihan.

Lewat pelajaran hukum otodidak dari buku-buku hukum, Hagus pun mulai paham substansi sebuah gugatan. Dia juga sempat konsultasi kepada advokat publik David Tobing.

"Saya belajar dengan membaca buku-buku hukum. Termasuk konsultasi dengan pak David. Kadang orang kita meremehkan uang kecil. Meremehkan uang recehan. Tetapi itu hak kita," argumen Hagus mengapa ngotot meminta selisih uang yang dikutip oleh Citibank.

Hagus menyelesaikan studi di SMA Sari Putra, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta 1983 silam. Usai lulus SMA, dia terjun sebagai wiraswastawan di bidang obat. Hingga akhirnya awal 90-an dia memiliki sebuah apotek di Karawang.

"Ini bukan kemenangan saya tetapi kemenangan masyarakat. Majelis Hakim orangnya
disimpulkan sangat jujur, bersih dan lurus sehingga berani memutus seorang warga biasa menang melawan perusahaan sebesar Citibank, karena kalau tidak jujur tidak mungkin berani memenangkan saya," ungkap Hagus.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(asp/mad)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
43%
Kontra
57%