detikcom

Kamis, 10/11/2011 15:58 WIB

Cegah Tawuran, Polisi Sambangi Sekolah-sekolah di Pulogadung

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Tawuran antar pelajar kerap terjadi di Jakarta dan tidak sedikit menimbulkan korban luka bahkan meninggal dunia. Guna mengantisipasi hal itu, polisi jemput bola memberikan penyuluhan bahaya dan akibat yang akan ditanggung bila pelajar terlibat tawuran.

Pola jemput bola inilah yang dilakukan jajaran Polsek Pulogadung, mengingat di wilayah Pulogadung sendiri tidak pernah sepi dari aksi brutal pelajar.

"Ada komitmen yang akan dilaksanakan setiap sekolah, yaitu pemberian sanksi administrasi sampai dengan dikeluarkan dari sekolah bila terlibat tawuran. Dengan begitu, mereka akan berpikir 2 kali untuk tawuran," kata Kepala Polsek Pulogadung, Kompol Ary Purwanto, saat ditemui di Polsek Pulogadung, Kamis (10/11).

Kegiatan penyuluhan sendiri ditargetkan ke 10 sekolah yang ada di Pulogadung, Jakarta Timur, sejak Oktober 2011 lalu. Sekolah tersebut antara lain di SMA 21, SMK 26, SMK Kemala Bhayangkara, SMK-SMA Pelita, SMK 7, SMA Don Bosco, SMA Lab School, SMK Diponegoro, dan SMK Pembangunan.

Dalam sosialisasi tersebut, Ary berharap ada peran sinergis antara pihak sekolah dan orangtua, yaitu lebih membangun komunikasi.

"Guru merupakan wakil orangtua siswa saat berada di sekolah. Hampir 8 jam siswa berada bersama gurunya," ujar Ary.

Dia juga meminta orangtua juga menjemput bola terhadap aktivitas anaknya. "Bila belum pulang sampai jam 4 sore, ada baiknya orangtua menanyakan ke sekolah mengenai kegiatan anaknya itu, apakah betul ada kegiatan tambahan atau tidak di sekolah," jelas Ary.

Selain sebagai bentuk pencegahan aksi tawuran, kegiatan dilakukan sebagai bentuk pencitraan bagi korps kepolisian.

"Kita ingin membalikan stigma di mata para siswa bila polisi itu bukan seseram yang mereka pikirkan," ujar Ary.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ahy/gah)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
73%
Kontra
27%