Senin, 07/11/2011 16:44 WIB
Curhat Kepala LIPI Soal Rendahnya Dana Penelitian
Di meja ruang konferensi pers Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (7/11/2011), tak cuma sekali saja Lukman mengungkapkan keprihatinan atas anggaran penelitian di Indonesia. "Kita pokoknya kalau dalam kaitan dana, 'tenggelam' kita," ucapnya lagi.
Menurut pria yang bergabung di LIPI sejak tahun 1980-an ini, selama 40 tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara nominal naik 4.000 kali. Namun, anggaran untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya mengalami kenaikan 400 kali.
Saat ini, kata Lukman, anggaran untuk LIPI hanya 0,8 dari total APBN atau Rp 670 miliar. Kurang dari 1 persen. Anggaran tersebut terbagi 40 persen untuk penelitian, dan 60 persennya untuk anggaran rutin (gaji pegawai dan lain-lain).
Sementara, dana untuk anggaran riset di Indonesia secara keseluruhan hanya 0,03 persen dari produk domestik bruto Indonesia (PDB) yang diperkirakan mencapai Rp 6.300 triliun (700 miliar dolar AS), atau terbesar ke 16 di dunia.
Lukman, yang didampingi oleh wakilnya usai pembukaan LIPI Expo 2011, Endang Sukara, mengungkapkan, pada tahun 1980-1990, anggaran LIPI pernah di atas 1 persen dari APBN. Pada zaman mantan Menristek BJ Habibie, investasi di bidang keilmuan cukup signifikan. Banyak ilmuwan Indonesia yang disekolahkan ke luar negeri.
Namun, grafik itu kembali turun setelah era reformasi satu dasawarsa ke belakang ini. Namun, Lukman tidak buru-buru menyalahkan pemerintah. Menurutnya, perhatian pemerintah tersedot kepada masalah- masalah jangka pendek. Misalnya saja, Pemerintah SBY-JK (2004-2009) dihadapkan pada problem HAM, keutuhan NKRI, dan lain-lain.
"Dalam keadaan begitu iptek terkalahkan," cetus dia.
Peraih gelar PhD dari Universitas Tokyo tahun 1994 ini mengungkapkan, negara-negara lain lebih maju dalam hal anggaran penelitian. Ia menyebut Korea Selatan sebagai contoh. Di sana, pemerintah setempat mengikrarkan 4 persen PDB untuk riset. Korsel menyebut dirinya sebagai negara 747: 7 besar, dananya 4 persen, dan dalam waktu 7 tahun.
"Dia (korsel) adalah negara yang paling eksplisit di dalam kebijakan riset, dan Korea Selatan itu teman sejalan kita. Jadi pada waktu tahun 70-an, PDB per kapita dan seluruh ukurannya sama. Sekarang sangat berbeda kita dari negara lain," terang Lukman.
Lebih menjanjikannya kegiatan penelitian di luar negeri secara materi membuat para peneliti Indonesia tergoda. Banyak dari mereka yang akhirnya meninggalkan tanah air dan berkarir di lembaga penelitian di luar negeri. Lukman mengaku tidak bisa mencegah keinginan para peneliti itu.
"Bagaimana bisa menahan ya? Saya punya peneliti, 'Pak saya mau ke Singapura?' 'Berapa kamu dapat? 'Saya dapat bersih Rp 50 juta dengan segala fasilitas'. Nah, orang yang sudah 25 tahun bekerja, masa saya tahan?" kata Lukman.
Terlebih, sambung dia, si peneliti sudah post doctoral yang telah bekerja di LIPI. Ia harus diberi kesempatan untuk berkarya di negara lain, supaya dapat mengembangkan dunia ilmu pengetahuan secara lebih baik. Sedih memang, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi.
"Jadi kita bermain-main di samping hati kita sedih kalau dilaporkan bahwa 30 persen lebih dari publikasi Malaysia itu (penulisnya) adalah orang-orang Indonesia. Kan, orang produktif saja di sana," ucapnya.
Kepada pemerintah sekarang, Lukman cuma bisa berharap agar dana penelitian ditambah. "Kita harapkan perhatian langsung mengenai perlunya percepatan riset, biaya riset di pusat-pusat riset kita," tutup Lukman.
Simak Rangkuman Beragam Peristiwa Penting dan Menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam", pukul 01.00 WIB Hanya di TransTV
(irw/gun)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
4.564 Siswa Tak Lulus UN di Sumut
1,987 share this. -
Anggota Komisi X Ragu Kelulusan UN Hasil Kejujuran Siswa
1,045 share this. -
Napi Tato Tweety Jual Sabu: Di Penjara Tak Ada yang Gratis
690 share this. -
Sebut Ahok Cina, Farhat Abbas Jadi Tersangka
683 share this. -
Tabrak Polisi Saat Konvoi UN, 3 Siswi Diburu Hingga ke Kolong Ranjang
620 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Jumat, 24/05/2013 21:11 WIB
Delay 7 Jam, Penumpang Air Asia Protes di Bandara Pekanbaru
-
Jumat, 24/05/2013 21:11 WIB
KPK Launching Baju Baru untuk Koruptor
-
Jumat, 24/05/2013 21:10 WIB
Ketua Majelis Hakim Kasus Bioremediasi Chevron Minta Maaf!
-
Jumat, 24/05/2013 21:08 WIB
Kenangan Terakhir Istri Bersama Bripka Jeremmy
-
Jumat, 24/05/2013 20:55 WIB
Kasus Pemotongan Kelamin
Keluarga NN datangi Abdul, Ajukan Pernikahan Sebagai Jalan Damai
-
Jumat, 24/05/2013 20:30 WIB
Canda Ahok Soal Status Tersangka Farhat Abbas: Masak Lama Amat?
-
Jumat, 24/05/2013 19:16 WIB
Kronologi Bunuh Diri Anggota Jatanras Polda Metro Jaya di Pulogadung
-
Jumat, 24/05/2013 20:49 WIB
Keluarga NN datangi Abdul, Ajukan Pernikahan Sebagai Jalan Damai
-
Jumat, 24/05/2013 20:08 WIB
Wakil Ketua DPRD DKI: Interpelasi Bukan Berarti Pencopotan Jokowi
-
Jumat, 24/05/2013 18:55 WIB
Penyebab Bripka Jeremmy Bunuh Diri Diduga Karena Stres
-
Jumat, 24/05/2013 18:39 WIB
Kader PKS Wajib Setor Uang ke Partai, Kalau Tidak Setor Ada Sanksinya
-
Jumat, 24/05/2013 18:50 WIB
Anggota Jatanras Polda Metro yang Bunuh Diri Adalah Penyidik Terbaik
-
Jumat, 24/05/2013 20:28 WIB
Jenazah Polisi yang Bunuh Diri di Pulogadung Dibawa ke RS Polri
-
546 Komentar
-
365 Komentar
-
222 Komentar
-
220 Komentar
-
215 Komentar
-
205 Komentar
-
199 Komentar
-
145 Komentar
-
Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 16:40 WIB
Bandara Heathrow Ditutup Pasca Pesawat British Airways Mendarat Darurat
-
Jumat, 24/05/2013 16:37 WIB
Eks Panglima TNI Djoko Santoso Siap Maju Jadi Capres 2014
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer
















Made Tantrawan (21), mahasiswa Fakultas MIPA UGM memiliki catatan prestasi yang luar biasa. Ia menjadi langganan juara olimpiade internasional dan kini lulus dengan sempurna. Apa resepnya?
Perlawanan para koruptor memang bervariasi. Sejak pertama kali pemberantasan korupsi dilakukan pada permulaan revolusi di Indonesia, tahun 1957, perlawanan sudah terjadi. Perlawanan para koruptor sudah merupakan hukum besi. Hukum perlawanan adalah hukum kemestian.
