detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 02:02 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Jumat, 14/10/2011 08:37 WIB

Selamat Datang Aliansi Politik Media

Michael Umbas - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Politik selalu memberi kejutan. Ketika kasus Nazarudin menyeruak, publik terhenyak, wow ada rangkaian laku megakorup yang sedemikian sistemik dan akut bertengger di aras kekuasaan yang dimotori oleh para petinggi partai. Drama Nazarudin menebar ironi, menyulut pesimisme adanya sistem politik yang bersih dan nir kepentingan pragmatis pengerukan uang negara. Geliat Nazarudin --sang petualang lihai-- menguras atensi publik berminggu-minggu laksana episode sinetron lebay yang diminati banyak orang. Penuh dengan ironi, adegan menyayat hati, dibumbui intrik, banyak artis pendukung yang numpang ngetop dan lain sebagaimanya.

Kini episode Nazarudin mulai redup. Media akhirnya menemukan titik jenuh mengurai benang kusut yang melilit Nazarudin, yang hingga tulisan ini dibuat belum dipecat dari partai Demokrat (meski telah diberhentikan sebagai Bendahara Umum PD). Beritanya masih sesekali muncul, tapi tidak sebombastis ketika pelariannya, episode skype, maupun kicauan-kicauan menggetarkan jantung tentang kaitan keterlibatan kolega-koleganya di demokrat maupun pejabat negara, bahkan KPK.

Selain proses reshuffle yang tengah dimainkan oleh Presiden SBY, kabar politik yang cukup gress dan menarik perhatian, yakni soal parpol Nasional Demokrat yang perlahan terus menancapkan eksistensinya. Surya Paloh (SP), the man behind NasDem, tak lagi malu-malu menyatakan diri sebagai 'sang empunya' partai yang sejak awal telah diprediksikan bakal menjadi kendaraan politik pemilik Metro TV itu. Kini, manuver awal dimainkan SP dengan menggaet Harry Tanoesodibjo (Hartan), pemilik MNC Grup, sebuah konglomerasi media yang kian diperhitungkan karena menguasai RCTI, Sindo TV, Global TV dan rupa-rupa jaringan media cetak, online.

Tadinya saya sangsi apa iya Hartan mau terjun ke politik praktis, mengingat ia memang bukan politisi dan track record politiknya tidak terendus sama sekali. Masuk ke rimba politik tentu adalah hak setiap warga negara, dan justru sering menjadi pilihan akhir para pengusaha yang ingin mencoba memainkan peran lebih setelah capaian bisnisnya sudah berada di titik optimum.

Apapun itu, langkah Surya Paloh jelas menjadi catatan, jika tidak secara ekstrim menyebut ancaman. Surya Paloh bukan pemain politik kemarin sore dalam panggung Indonesia yang telah melewati berbagai orde. Ia politisi kaliber wahid yang sekarang memilih aktif dan agresif di arena meski ia sadar pertarungan ini cukup berat karena berhadapan dengan 'ibu kandung' sendiri yakni Partai Golkar yang sudah well-known dan well-managed.

Strategi brilian Surya Paloh menggaet Hartan, tentu dengan mudah ditebak sebagai langkah memperkuat proses pencitraan (branding) NasDem dengan memanfaatkan kolaborasi media (Media grup plus MNC grup). Ini menarik, karena joint venture politik ini sangat jarang terjadi mengingat sulit menyeret kepentingan politik dua gerbong ke dalam satu rel politik.

Lagi-lagi ini menarik pasalnya sang tandem adalah pemilik media, si 'empunya corong' yang dengan mudah akan menyisipkan agenda-agenda politik dalam setiap kebijakan redaksional, alokasi durasi program tayangan, space halaman, dan pelbagai 'ruang' strategis dari tiap media yang diedarkan sebagaimana publik saksikan diejawantah oleh media milik Surya Paloh.Next

Halaman 1 2

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(vit/vit)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%
MustRead close