detikcom

Dianggap Hama Kelapa Sawit, Orangutan Kalimantan Dibantai

Robert - detikNews
Senin, 03/10/2011 23:01 WIB
Samarinda Populasi Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) yang hidup di Kalimantan Timur kian punah. Kepunahan ini karena habitat mereka yang terus tergerus berbagai aktivitas manusia terutama perusahaan sawit yang menganggap orangutan sebagai 'hama'.

"Aktivitas perkebunan kelapa sawit sering memicu konflik antara perusahaan perkebunan sawit dan orangutan. Mereka (perusahaan) menganggap orangutan sebagai hama, bukan hewan yang dilindungi," kata Peneliti di Pusat Peneliti Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman Samarinda, DR Yaya Rayadin, saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Gedung Pusrehut Universitas Mulawarman, Senin (3/10/2011).

Melalui penelitian yang dilakukan Yaya sejak 2006 lalu hingga saat ini, daya rusak orangutan terhadap tanaman sawit cukup tinggi. Seekor orangutan mampu merusak 30 hingga 50 pohon sawit setiap harinya, khususnya untuk tanaman sawit di bawah umur 1 tahun.

"Perburuan dan pembantaian orangutan itu ada dan sudah terjadi. Karena dianggap sebagai hama," ujar Yaya.

Penelitian yang dibeberkan Yaya, memberikan gambaran fakta yang terjadi, terutama menyangkut pemberitaan yang intens diterbitkan di salah satu media massa di Kaltim, terkait dugaan pembantaian puluhan ekor orangutan yang terjadi di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang terjadi dalam kurun waktu 2009-2010 lalu.

Menindaklanjuti itu, Polres Kutai Kartanegara telah menurunkan timnya dan masih menyelidiki dugaan pembantaian orangutan, yang dilakukan warga setempat atas permintaan pihak perusahaan yang menilai orangutan sebagai 'hama'.

Di sela penyampaian kepada wartawan, Yaya juga menampilkan berbagai dokumentasi selama penelitian yang dilakukannya di sebagian besar wilayah Kutai, Kaltim.

"Saat ini, ada sekitar 2.500 hingga 3.000 ekor orangutan yang terjebak di kawasan industri eksploitasi sumber daya alam di sebagian besar wilayah di Kutai," tambah Yaya.

"Banyak perusahaan-perusahaan baik itu sawit, tambang serta HPH (Hak Pengelolaan Hutan) yang kebetulan areal konsesinya merupakan areal habitat orangutan," terangnya.

Ditambahkan Yaya, tidak tersedianya areal relokasi khusus di areal konsesi eksploitasi sumber daya alam dan perkebunan, juga memicu kepunahan populasi orangutan sehingga mengusik kehidupan hewan primata dilindungi itu.

"Belum lagi, pusat rehabilitasi orang utan yang ada saat ini, hanya ada 2 pusat rehabilitasi di Kalimantan, menolak untuk menampung dan memelihara orangutan yang didapat di habitat mereka," jelas Yaya.

Saat ini, lanjut Yaya, terdapat 5 areal perusahaan perkebunan sawit di Kutai Kartanegara, yang di dalam areal konsesinya juga terdapat populasi orangutan yang terus berkurang.

"Di areal kelima perusahaan itu, ada sekitar 200 ekor orangutan. Hanya saja memang sejauh ini, upaya penelitian untuk melihat lebih jauh dan lebih detail, terkendala karena pihak perusahaan yang tertutup," tutupnya.

(mok/mok)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel