Rabu, 14/09/2011 20:01 WIB

Di Bawah Presiden Dinilai Melanggar UU, Polri Diminta di Bawah Menhan

Andi Saputra - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Keberadaan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di bawah naungan langsung Presiden RI dinilai melanggar UUD 1945. Oleh sebab itu, 3 orang advokat meminta Polri di bawah Menteri Pertahanan (Menhan). Guna meloloskan gagasan ini, tengah diupayakan dengan mengubah UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Alasannya, penempatan polisi di bawah Presiden inkonstitusional," kata pemohon Andi Muhammad Asrun, kepada wartawan, di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (14/9/2011).

Melaui pendaftaran permohonan uji materi ke MK hari ini, Andi menuntut, Pasal 8 dan Pasal 11 UU Kepolisian yang menyebut secara tegas kedudukan Polri di bawah naungan langsung Presiden dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Sebab, tidak ada satu pasal pun dalam UUD 1945 menentukan Polri langsung di bawah Presiden. Meskipun, diakuinya, dalam konsitusi Pasal 30 Ayat (5), dijelaskan, pengaturan kedudukan Polri dan TNI diatur lebih lanjut dengan UU.

"Dalam Pasal 30 Ayat (4) UUD 1945, yang menyinggung Polri dalam konstitusi, tidak ada satu kata pun yang menyebut Kepolisian langsung di bawah Presiden," ujar Andi.

Dilanjutkan Andi, berdasarkan perjalanan sejarah 9 zaman bangsa Indonesia, Polri juga tidak pernah diakui oleh konstitusi untuk berada di bawah Presiden secara langsung. Adapun 9 zaman yang dimaksud adalah zaman Hindia Belanda, zaman pendudukan Jepang, zaman revolusi fisik, zaman pasca proklamasi, zaman Republik Indonesia Serikat (RIS), zaman demokrasi parlementer, zaman demokrasi terpimpin, zaman orde baru dan zaman reformasi.

"Tidak ada sandaran hukum dia di bawah Presiden. Historisnya tidak pernah. Bukan karena independen atau tidak independen," ujar Andi.

Lebih jauh, Andi mengatakan, awal era reformasi bergulir, TNI dengan Polri memang dipisahkan melalui TAP MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Reformasi telah melahirkan Inpres nomor 2/199 tertanggal 1 April 1999. Tapi, Polri sempat sementara waktu ditempatkan di bawah Menteri Pertahanan. Namun, karena Menteri Pertahanan dan Panglima TNI dijabat oleh satu orang, yakni Wiranto, maka pemisahan menjadi tidak efektif. Akhirnya pada HUT Bhayangkara 1 Juli 2000 dikeluarkanlah Keppres Nomor 89/200 yang melepaskan Polri dari Departemen Pertahanan dan menetapkan langsung Polri dibawah Presiden.Next

Halaman 1 2

Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(asp/anw)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Camat dan Lurah Tak Perlu Ada, Ganti Jadi Manajer Pelayanan Satu Atap

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera merealisasikan kantor kelurahan dan kecamatan menjadi kantor pelayanan terpadu satu pintu. Lurah dan camat bakal berfungsi sebagai manajer pelayanan. Ahok berpendapat lurah dan camat tak perlu lagi ada di Indonesia. Bila Anda setuju dengan gagasan Ahok, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%