detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 09:12 , Sumber : Radio Republik Indonesia

Kamis, 08/09/2011 14:35 WIB

Membongkar Mafia Pengemis

Anak Disuruh Ngemis, Ortu Bergaya Necis

Deden Gunawan - detikNews
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Empat anak kecil terlihat asyik bermain di sebuah taman di Jalan Raya Kramat Jati. Sesekali mereka menghampiri kendaraan yang sedang mengantre di lampu merah di jalan itu. Tidak jauh dari lokasi anak-anak itu bermain, seorang perempuan bertubuh gemuk dan berkulit hitam duduk memangku seorang bayi laki-laki.

Perempuan itu bernama Ani. Ia merupakan warga Banten yang merantau ke Jakarta sejak 2007. Untuk bertahan hidup di perantauan bersama suami dan 8 anaknya, ia pun mengemis bersama anak-anaknya. Lokasi yang dipilih antara Jalan Pasar Kramat Jati sampai Kampung Melayu.

"Saya cuma ngawasi anak saya saja yang lagi minta-minta," kata perempuan berusia 35 tahun tersebut saat berbincang-bincang dengan detik+.

Ani tidak sendiri saat itu. Sang suami, Dino, juga berada di sekitar perempatan. Ia tidak duduk di dekat lampu merah tapi memilih berkumpul bersama pedagang kaki lima yang ada di perempatan. Earphone terpasang di kedua telinga Dino. Berkaos kotak putih 'bermerek' Playboy, gaya Dino tampak necis. Dino dan Ani bertugas mengawasi anak-anaknya yang sedang mengemis.

Ani awalnya bekerja mengumpulkan plastik bekas. Tapi hasil kerja kerasnya itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Dengan alasan klasik, yakni faktor ekonomi, maka ia pun kemudian menyeberang menjadi pengemis.

Meski demikian, Ani mengaku tidak semua anaknya disuruh ikut menjadi pengemis. Dari delapan anak, hanya satu anak yang turun untuk meminta sedekah di perempatan jalan. Ia adalah Fi, nama samaran, yang usianya masih 5 tahun. Sementara enam anak lainnya dititipkan di rumah famili untuk mengurangi biaya hidup sehari-hari. Sedangkan si bungsu yang berusia 1 tahun sengaja dibawa Ani dalam gendongan. “Tidak ada yang mengasuh kalau ditinggal di rumah kontrakan,” kata Ani yang tinggal di wilayah Condet, Jakarta Timur.

Meski hanya seorang diri, Fi setiap hari dapat mengumpulkan uang Rp 250 ribu. Ia mengemis dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. "Tapi kalau sepi paling dapetnya hanya Rp 80 ribu sehari," ujar Ani.Next

Halaman 1 2 3

Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(iy/nrl)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%