Rabu, 27/07/2011 13:39 WIB

Gelar Aksi di depan Kraton Yogya, Peserta Ritual Kesurupan

Bagus Kurniawan - detikNews
Yogyakarta - Puluhan orang dari berbagai elemen menggelar aksi ritual budaya di depan Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Rabu (27/7/2011). Saat doa bersama diiringi tembang Jawa, salah seorang peserta tiba-tiba kesurupan. Dia yang mengaku sebagai 'Mbah Kiai Kabul' itu menyebut nama SBY.

Orang yang kesurupan itu bernama Widodo (47), anggota Forum Cinta Budaya Bangsa (Forcibb) Imogiri, Bantul. Saat itu, Widodo yang mengenakan pakaian adat Jawa, bersama peserta lainnya tengah khusuk berdoa diiringi kidung/tembang Jawa Dhandang dan Sinom.

Tiba-tiba menjelang kidung berakhir, tubuh, kaki dan tangan Widodo mengejang dan kaku sehingga sempat membuat kaget peserta lainnya. Saat tubuhnya dipegang rekannya, dia dengan mata melotot mengeluarkan suara dengan nada berat seperti orang tua. Dia berbicara dalam Bahasa Jawa dan mengaku bernama "Mbah Kiai Kabul".

"Yudhoyono, nek kowe ngobok-obok Nagari Ngayogyokarto, tak jabut wahyumu. Kowe arep dikeroyok semut abang. Aku arep njupuk maneh wahyumu. (Yudhoyono, kalau kamu akan membuat kisruh Yogyakarta, kamu bisa dikeroyok semut semut merah. Aku juga akan mengambil wahyumu kembali - red)," katanya dengan suara berat dan nada kurang jelas.

Beberapa temannya langsung memberikan pertolongan dengan memberinya minum segelas air putih. Rekannya kemudian berdoa sambil mengusap kening dan muka. Tubuh Widodo kemudian melemah dan jatuh. Tidak lama kemudian kesadarannya pulih.

Setelah Widodo, ada peserta lain, kali ini seorang wanita bernama Ari yang juga berasal dari Forcibb, yang mengalami hal serupa. Namun dengan cepat rekan-rekannya langsung menolong, sehingga tidak sempat meracau mengeluarkan kalimat atau kata-kata yang aneh.

Acara yang digelar siang ini di Pagelaran Kraton Ngayogyakarto diprakarsai antara lain Paguyuban Lurah se DIY (Ismoyo), Paguyuban Kepala Dukuh se DIY (Semar Sembogo), Gerekan Semesta Rakyat Jogjakarta (Gentaraja), dan Forum Intelektual Budayawan (Forimba) Yogyakarta. Dalam aksi ritual budaya itu, mereka menyatakan menolak pemilihan gubernur dan meminta penetapan terhadap Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur DIY.

"Ini sebagai bentuk laku budaya warga Yogya. Niat kami berdoa untuk keistimewaan Ngayogyakarto agar terus dipertahankan," ungkap Sekjen Forimba, Supriyadi seusai doa bersama.

Menurut dia, hari ini Rabu 27 Juli berdasarkan penanggalan Jawa adalah hari Rabu Legi Budha Manis, 25 Ruwah, Tahun Be 1944, Wuku Mandasia adalah saat yang tepat memohonkan doa kepada Yang Maha Kuasa. "Kita masih menunggu hingga masa reses DPR selesai bulan Agustus nanti," pungkas dia.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(bgs/asy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Tak Perlu Arak-arakan Pesta Rakyat Saat Pelantikan Jokowi

Relawan Jokowi-JK akan menggelar pesta rakyat saat pelantikan presiden dan wapres pada 20 Oktober 2014 nanti dimulai dari Semanggi dan berakhir di Monas. Kapolri Jenderal Sutarman menyarankan tidak perlu ada acara arak-arakan seperti itu. "Saya sarankan tidak perlu arak-arakan, saya kira tidak perlu. Mungkin kalau bersyukur, bersyukur berdoa saja, enggak perlu arak-arakan," kata Kapolri. Bila Anda setuju dengan Kapolri, pilih Pro!
Pro
35%
Kontra
65%