detikcom
Minggu, 26/06/2011 19:22 WIB

Fahri Hamzah: Pemilih PKS Memang Gampang Tidak Puas

Ramadhian Fadillah - detikNews
Jakarta - Dalam survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), ketidakpuasan pemilih PKS pada pemerintahan SBY cukup tinggi. Wasekjen DPP PKS Fahri Hamzah menanggapi survei ini. Menurutnya, pemilih PKS memang tidak gampang puas pada kinerja pemerintahan.

"Pemilih PKS sesuai survei adalah kalangan paling terdidik. Hal ini juga berdasar hasil survei. Karena itu, pemilih PKS gampang tidak puas dengan kinerja pemerintahan manapun," ujar Fahri kepada detikcom, Minggu (26/6/2011).

Menurut Fahri, hal ini pun berlaku sebaliknya. Jika dalam survei pemilih PKS menyatakan puas, maka mayoritas publik pun akan menyatakan puas.

"Oleh sebab itu, kepuasan pemilih PKS dapat dijadikan indikator kepuasan publik jika kinerja pemerintahan membaik," terang Fahri.

Fahri pun berharap SBY mencermati hasil survei ini untuk meningkatkan kineja pemerintahannya. "Semoga saja ini jadi catatan penting buat pemerintahan SBY," harap Fahri.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengeluarkan rilis 'Merosotnya Leadership SBY di Mata Publik' yang dirilis di kantornya, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (26/6/2011).

LSI mencatat meski menjadi bagian dari koalisi pemerintah, kepuasan pemilih PKS terhadap kinerja Presiden SBY, cenderung kecil.

Partai Gerindra, yang bukan bagian dari koalisi pemerintahan, menjadi partai yang paling tidak puas dengan kinerja SBY, yakni dengan tingkat kepuasan 25 persen. Kedua adalah PDIP dengan 40,7 persen dan PKS 40 persen.

Sementara itu, Partai Golkar, yang juga terkenal 'nakal' dalam koalisi, tingkat kepuasaannya relatif tinggi yakni 47,2 persen. Partai Demokrat menjadi partai dengan tingkat kepuasan tertinggi yakni 50,5 persen.

Survei ini dilakukan di lapangan dari tanggal 1 Juni - 7 Juni 2011. 1.200 Responden dipilih secara acak yang mewakili 33 provinsi, disurvei dengan metode wawancara tatap muka. Margin of error plus minus 2,9 persen.

(rdf/anw)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel