detikcom
Kamis, 14/04/2011 12:16 WIB

Keluarga Sandera Tolak Operasi Militer

Parwito - detikNews
Supardi
Magelang - Sejumlah pihak mendorong pemerintah menggelar operasi militer untuk membebaskan WNI yang disandera perompak Somalia. Pihak keluarga justru menolak keras sebab terlalu besar resikonya terhadap keselamatan para sandera.

Penolakan ini disampaikan Supardi, orangtua Ariyanto(28) mahasiswa Akademi Maritim Yogyakarta (AMY), yang ikut disandera di kapal MV Sinar Kudus di perairan laut Arab. Dia ditemui di kediamannya di Dusun Suko, Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis(14/4/2011).

“Saya kurang setuju operasi militer. Apalagi yang menjadi tanggungannya adalah nyawa anak saya dan 19 temannya yang yang ditahan di kapalnya,” tegas Supardi yang tinggal diradius 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Di dalam operasi militer sudah hampir pasti akan terjadi baku tembak. Paling tidak terjadi tindak kekerasan dan bisa saja jatuh korban jiwa dari pihak ABK yang disandera.

"Sampai saat ini pemerintah memberikan jaminan keselamatan dan perkembangan informasi keberadaan anak saya,”tutur Supardi.

Dari pantauan detikcom dirumah keluarga Ariyanto, suasana duka masih terlihat sebab Raminah (43) ibu Ariyanto yang pada awal pemberitaan soal pembajakan kapal MV Sinar Kudus menerima wartawan. Kini sudah mulai menolak dan memilih untuk mengurung diri dikamarnya.

Tampak di sela-sela wawancara Supardi dengan detikcom terdengar suara ibu Raminah sedang membaca dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an serta berdoa untuk keselamatan anaknya yang saat ini sedang dalam penyandraan para perompak Somalia.

“Ibunya Ariyanto bertambah agak sedikit shok,”jelas Supardi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ariyanto merupakan mahasiswa semester 5 atau tingkat akhir UMY. Dia salah satu dari 20 ABK yang menjadi sandera pembajakan kapal MV Sinar Kudus milik PT. Samudera Indonesia Ship Management pada 16 Maret 2011 lalu. Ariyanto merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Supardi dan Raminah.

Perompak Somalia ikut menyandera Ariyanto karena saat pembajakan Ariyanto sudah selama delapan bulan melakukan Proyek Lapangan (Prola) di kapal MV. Sinar Kudus untuk memenuhi syarat kelulusannya setelah menempuh pendidikan di AMY.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(lh/lh)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 02/10/2014 18:15 WIB
    Dato Sri Tahir: Saya Sudah Nikmati Lunch dari TNI
    Gb Dato Sri Tahir, konglomerat terkaya nomor 12 di Indonesia, diangkat menjadi penasihat Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Tahir pun menyumbang 1.000 rumah untuk prajurit. Kontroversi pun merebak. Apa imbalan yang Tahir dapat?
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
59%
Kontra
41%