detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 09:22 , Sumber : Radio Republik Indonesia

Senin, 11/04/2011 14:22 WIB

Kolom

Bajak Laut Somalia

Ardi Winangun - detikNews
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Dalam Time, 19 April 2010, diceritakan mengapa orang-orang Somalia menjadi bajak laut. Mereka melakukan hal demikian, disebabkan karena kemiskinan dan tidak ada pekerjaan sehingga mereka rela melakukan tindakan merompak kapal-kapal yang melewati Lautan India.

Dengan membajak sebuah kapal, anggota bajak laut bisa mendapat uang sebesar US$ 6.000, ditambah makan dan minum selama melakukan operasi. Dikatakan oleh seorang bajak laut yang bernama Mohamed, dirinya melakukan demikian karena tidak ada pilihan. Jika ada pilihan lain, ia akan mengerjakan pilihan itu.

Dirinya mengatakan kepada wartawan Time bahwa jika ia memberi pekerjaan dirinya akan bekerja padanya. Dari alasan kemiskinan dan tidak ada pekerjaan maka mereka membajak puluhan kapal yang melintas di perairan Laut India. Pembajakan itu tak pandang bulu. Pembajakan itu dilandasi oleh motif ekonomi bukan ideologi, sehingga kapal dari Indonesia juga dibajaknya.

Sudah lebih satu bulan, kapal dari Indonesia, Sinar Kudus, dibajak oleh bajak laut dari Somalia. Kapal itu dibajak ketika melakukan perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju ke Roterdam, Belanda, tangga 16 Maret 2011 lalu. Kapal dengan awak 31 ABK, 20 orang di antaranya Warga Negara Indonesia (WNI), tersebut bermuatan biji nikel dan seharusnya sudah sampai 34 hari setelah keberangkatan. Dari nilai tebusan awal yang diminta sebesar US$ 2,3 juta, dalam perkembangannya perompak menaikkan nilai tebusan menjadi US$ 2,4 juta atau Rp 24 miliar. Bahkan disebut karena tidak segera dituruti maka para bajak laut terus meningkatkannya hingga US$ 9 juta atau setara dengan Rp 77 miliar.

Lamanya pembajakan dan penyanderaan itu membuat keluarga ABK Sinar Kudus berkeinginan untuk bertemu dengan Presiden SBY. Mereka akan meminta pemerintah
mengambil langkah nyata dalam pembebasan Kapal Sinar Kudus yang dibajak perompak
Somalia. Lamanya penyanderaan terhadap para ABK itu membuat kondisi semakin kritis
kesehatannya. Menjadi pertanyaan mengapa pembajakan terhadap kapal Sinar Kudus dan penyaderaan terhadap ABK-nya itu begitu lama dan demikian alot negoisasinya?

Faktornya disebabkan oleh pertama, pembajakan ini bisa jadi oleh pemerintah Indonesia dianggap tidak mempunyai nilai politis atau pencitraan, sehingga pemerintah tidak serius untuk melakukan negoisasi dengan para bajak laut dan pemerintah Somalia. Pemerintah melakukan langkah-langkah serius untuk melindungi warga negaranya di luar negeri ketika masalah itu menjadi perhatian dunia dan mempunyai nilai pencitraan.

Misalnya ketika negara-negara lain segera mengevakuasi warga negaranya ketika terjadi Revolusi Mesir, maka pemerintah Indonesia pun juga melakukan hal yang sama, yakni segera mengevakuasi warga Indonesia yang berada di negara. Dan mereka diperlakukan secara istimewa, selain langsung dijemput langsung oleh SBY di Bandara Soekarno-Hatta, setelah mereka tiba di Indonesia mereka segera ditempatkan di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Next

Halaman 1 2 3

Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(vit/vit)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
77%
Kontra
23%