detikcom

Kamis, 07/04/2011 15:14 WIB

Komnas PA Prihatin Video Tawuran Marak di Youtube, Ortu Awasi Anak

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jakarta - Maraknya video tawuran pelajar di Youtube, termasuk yang direkam oleh pelaku tawuran itu sendiri membuat Komnas Perlindungan Anak (PA) prihatin. Orangtua maupun guru diminta menggalakkan penggunaan internet yang sehat bagi anak.

"Kami prihatin sekali. Penayangan video tawuran sama saja dengan mendidik anak menjadi pelaku kekerasan. Sebab, dunia anak itu dunia meniru apa yang dilihatnya. Anak itu peniru ulung," kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait kepada detikcom, Kamis (7/4/2011).

Menurut dia, orang tua dan lembaga pendidikan diminta turun tangan. Salah satunya, menggalakkan penggunaan internet yang sehat.

"Youtube itu kan tidak bisa dilarang sebab sudah menjadi tren. Kita minta agar orang tua, guru dan lembaga pendidikan memberi panduan dan arahan bagaimana menggunakan internet secara sehat," ujarnya.

Menurut dia, orangtua diminta mengawasi anak-anak saat menggunakan internet, memberikan arahan-arahan ketika si anak menyaksikan tayangan kekerasan di internet.

Selain itu, lanjut Arist, perlu diadakan ekstra kulikuler di sekolah tentang menggunakan teknologi internet yang sehat.

"Itu harus dilakukan," kata Arist.

Aneka video tawuran pelajar kini banyak di-upload di Youtube. Rata-rata memakai judul dengan nama sekolah A melawan sekolah B. Misalnya saja tawuran 'Israel VS Boedoet', 'Baskara VS Mensis', 'Bhe Kha VS Taroena'. Sebagian besar video tawuran, peristiwanya terjadi di Jakarta.

Ada yang memang direkam warga di sekitar lokasi kejadian. Namun yang membuat kita mengurut dada, banyak pula video itu justru direkam para pelaku tawuran sendiri. Video ini ada yang diuplod oleh para siswa sendiri. Video tawuran ini pun dikomentari oleh pihak-pihak yang bertikai dengan aneka kalimat sumpah serapah.

Di Depok, video tawuran siswa dua sekolah yang kerap bermusuhan, mengundang keprihatinan para orang tua. Mereka khawatir video yang direkam oleh siswa pelaku tawuran ini akan memicu lebih banyak tawuran.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(aan/fay)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%