detikcom
Senin, 04/04/2011 14:14 WIB

Vila Mewah Hilmi Aminudin (2)

Vila Hilmi Paling Mewah, Dikelilingi Kebun 5 Hektar

Deden Gunawan - detikNews
kompleks Vila Hilmi Aminudin (Dikhy/detikcom)
Jakarta - Puncak Punclut, Lembang, Jawa Barat, dikenal punya view yang indah. Dari kawasan tersebut dapat dilihat pemandangan kota Bandung. Tidak heran di kawasan tersebut mulai tumbuh vila dan rumah makan untuk tempat istirahat sambil melihat kota Bandung dari ketinggian.

Salah satu pemilik vila di kawasan itu adalah Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di kawasan ini, tepatnya di kampung Babakan Bandung, Rt 03/09, Pagerwangi, Lembang, Bandung Utara, Hilmi punya kompleks vila yang mewah. Sejumlah bangunan mewah berdiri di atas lahan perbukitan yang curam.

Untuk mencapai kompleks vila milik Hilmi jarak yang ditempuh sekitar 15 kilometer dari Kota Bandung via Dago.Sementara dari Lembang jaraknya hanya sekitar 5,8 kilometer. Kalau ingin menuju vila Hilmi dari Kota Lembang, harus melewati Pasar Panorama, Lembang. Dari situ jalanan terus menanjak melewati Komplek AURI, serta sejumlah rumah makan yang menyajikan menu nasi timbel. Di sepanjang perjalanan juga terlihat hamparan lahan pertanian sayur-mayur, seperti tomat, cabai, kol dan bawang.

Menurut Ganjar Nugraha, Ketua RW 10, Desa Pagerwangi, Lembang, luas bangunan kompleks vila milik Hilmi sekitar 5.000 meter persegi. Sedangkan lahan hijaunya, yakni perkebunan luas yang dimiliki mencapai 5 hektar. "Lahan untuk vila dibeli 5 tahun lalu. Kalau untuk perkebunan sayur dibeli sekitar tahun 2009," terang Ganjar saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Ganjar yang sudah 3 tahun menjabat sebagai Ketua RW di situ mengaku tahu persis kapan Hilmi mulai membeli lahan dan kemudian membangun kompleks vila mewah di perbukitan itu. Soalnya Ganjar adalah orang yang mengatarkan Hilmi bertemu dengan pemilik lahan sebelumnya.

Kata Ganjar, sebelum dibeli Hilmi lahan perkebunan tersebut milik Prof Jamhur Sule, salah satu alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Dan kebetulan Ganjar yang mengurusi lahan milik sang profesor tersebut.

"Pak Jamhur itu dulu junjungan (atasan) saya. Sebelum saya jadi Ketua RW. Jadi sayalah yang mengantarkan Pak Hilmi menemui Pak Jamhur saat ingin membeli tanah itu 5 tahun lalu," jelasnya.

Saat itu Hilmi membeli lahan seluas 5.000 meter dengan harga Rp 150.000 per meternya. Harga tersebut memang relatif murah untuk kawasan yang punya view yang indah. Tapi memang saat itu, ujar Ganjar, jalan yang melintas di lokasi tersebut masih jelek alias rusak. Sehingga harga tanah di situ masih murah.

Kini setelah jalan alternatif itu sudah mulus dengan aspal yang dihotmix, harga tanah di kawasan itu secara cepat merangkak naik. Saat ini harga tanah untuk lahan yang ada di pinggir jalan sekitar Rp 400 ribu-Rp 500 ribu per meter perseginya. Sedangkan harga tanah yang lokasinya di dalam alias tidak bisa dilalui mobil harganya berkisar Rp 150 ribu-Rp 300 ribu.

Dijelaskan Ganjar, jalan alternatif Dago-Lembang mulai dihotmix tahun 2009, berbarengan dengan pembangunan kompleks vila milik Hilmi. Dan di tahun yang sama, Hilmi juga mulai membeli lahan-lahan pertanian yang ada di sekitar kompleks, hingga luas lahan itu mencapai 5 hektar.

Sekadar gambaran, penduduk Desa Perbawangi jumlahnya 876 kepala keluarga. Menurut Kepala Desa Pagerwangi Ruspandi, mayoritas penduduk desa bekerja sebagai buruh tani. Adapun lahan pertanian kol, cabai, tomat dan bawang yang terhampar di kawasan Puncak Punclut sebagian besar milik orang-orang dari Kota Bandung dan sekitarnya.

Dibandingkan dengan vila dan rumah penduduk sekitar yang masih sederhana, vila Hilmi terlihat mencolok dan paling mewah. Vila ini juga paling luas dibandingkan vila lainnya.

Hilmi sendiri mulai terdaftar sebagai warga RT 3/RW 10, Desa Pagerwangi, sejak 2006. Nah, sejak itu Hilmi menjadi bagian dari 120 kepala keluarga yang tinggal di RW 10. Sejumlah warga yang ditemui detikcom mengatakan mengetahui sosok bos PKS yang tinggal di wilayah tersebut. Hanya saja warga mengaku jarang berbicara atau bertatapan langsung dengannya.

"Ustad seringnya berada di dalam rumah. Sekalipun keluar ia mungkin ke Kota Lembang atau ke luar kota. Kalau pergi untuk jarak dekat biasanya dia memakai mobil Avanza. Kalau jarak jauh, seperti ke Jakarta Ustad suka naik mobil jip, " ujar Yati, pemilik warung yang letaknya sekitar 50 meter dari komplek vila milik Hilmi.

Kompleks vila itu mulai sering dikunjungi orang, umumnya kader-kader PKS, sejak 2010. Kompleks vila itu kemudian diberi nama Padepokan Madani Centre. Padepokan ini digunakan sebagai balai pendidikan dan pelatihan kader-kader PKS dari seluruh Indonesia.

"Materi pelatihan macam-macam. Bisa tentang pendidikan, rumah tangga Islam, serta pendidikan anak. Semua jenjang kader bisa ikut pelatihan di sini," jelas Reza Mahdi pengurus Madani Center kepada detikcom.

Dijelaskan Reza, luas lahan di kompleks Madani Center sekitar 1,3 hektar. Adapun fasilitas yang dimiliki berupa ruang pertemuan, kantin dan kamar menginap yang bisa menampung 100 orang. Selain itu komplek tersebut juga dilengkapi playground untuk permainan anak-anak berupa ayunan, perosotan, jungkat-jangkit, dan flying fox.


Simak rangkuman aneka berita penting dan menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam" Pukul 0.30 WIB hanya di TransTV

(ddg/iy)

Dapatkan ulasan lengkap Fokus dengan mendownload edisi Majalah detik melalui tablet Android dan iPad, atau download versi PDFnya di majalahdetik.com.





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%
MustRead close