Detik.com News
Detik.com
Jumat, 25/03/2011 10:45 WIB

Dibawa ke TKP Pembunuhan Agnes, Milly Trauma & Ketakutan

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Dibawa ke TKP Pembunuhan Agnes, Milly Trauma & Ketakutan
Jakarta - Milly Patti alias Nenek (N), otak pembunuhan putrinya sendiri, Agnes Kharisma, seakan-akan terus dihantui perasaan bersalah. Saat dibawa polisi ke lokasi pembunuhan, perempuan paruh baya itu trauma dan ketakutan.

"Saat di TKP, yang bersangkutan mengalami trauma. Ada rasa ketakutan yang kuat. Saat dieksekusi, dia menyaksikan. Seakan-akan ada perasaan menghantuinya," kata Kasat Reskrim Jakarta Selatan AKBP Budi Irawan saat dihubungi detikcom, Jumat (25/3/2011).

Saat dikeler ke TKP, Milly juga menjerit dan menangis. "Dilihat dari air mukanya, dia mengucek-ucek mata dan sesekali menjerit," ujar Budi.

Ketika ditanya apakah Milly menyesal membunuh darah dagingnya sendiri, Budi tidak bisa menjawabnya. Karena hal tersebut perlu pemeriksaan kejiwaan lebih lanjut lagi.

"Jadi perlu dievaluasi lebih mendalam. Kita tunggu hasil tes psikologi," katanya.

Budi menuturkan, pemeriksaan harus disesuaikan dengan kondisi Milly. "Agar tidak melakukan penyelidikan secara sembrono, apabila pelaku sakit ya perlu dirawat. Jadi kita harus jalani proses itu," kata Budi.

Polisi masih menindaklanjuti kasus ini. "Kita akan lihat apa perlu penambahan saksi atau tidak sehingga berkas menjadi lengkap," kata Budi.

Agnes dibunuh di rumahnya di Jalan Raya Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 7 Februari 2011. Saat itu, perempuan cantik itu baru pulang sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah disimpan 3 hari di rumah, jenazah Agnes ditemukan di selokan Jl Joe, Jagakarsa, tak jauh dari rumahnya pada Minggu, 13 Februari.

Polisi telah menangkap tiga tersangka dalam pembunuhan ini. Otak pembunuhan ini adalah ibu kandung Agnes sendiri. Ibu Agnes mengaku ingin membunuh anaknya karena sakit hati atas perlakuan kasar anaknya. Kedua ekskutor yang berinisial Sonny dan Uwak (U) alias Warto dibayar Rp 2 juta lebih untuk menghabisi nyawa perempuan muda itu. Ketiganya kini meringkuk di tahanan.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(aan/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%