detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Jumat, 18/04/2014 02:32 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Minggu, 20/03/2011 04:30 WIB

Sengketa Pemilukada ke PT

Jimly: Sayang Lembaga Sepenting MK Tugasnya Sedikit

Hery Winarno - detikNews
Jakarta - Pemerintah kembali melemparkan wacana panas terkait kewenangan Mahkamah Konstitusi. Sengketa Pemilukada yang saat menjadi kewenangan MK diusulkan akan dicabut dan diserahan ke Pengadilan Tinggi (PT). Mantan Ketua MK, Jimly Assiddiqie pun menyayangkan usulan tersebut, karena tugas MK akan semakin menyusut.

"Sayang kalau lembaga sepenting MK kerjaannya semakin sedikit," ujar Jimly saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (19/3/2011) malam.

Menurut Jimly, pertahunnya MK hanya menangani sekitar 200an kasus yang termasuk Pilkada. Bila usulan tersebut jadi direalisasikan maka tugas Mahkamah Agung (MA) akan semakin berat.

"Itu nanti bersifat final atau tidak?. Kalau tidak malah membuat tugas MA semakin banyak, dan akhirnya kasus malah jadi menumpuk di MA," terang Jimly.

Menurut Jimly, bila ada kekurangan dalam penyelesaian sengketa Pemilukada di MK seharusnya sistemnya diperbaiki, tidak perlu melempar kewenangan memutus ke PT. Menurutnya diperlukan sebuah stabilitas negara yang kuat untuk membangun sistem hukum yang baik.

"Inikan ngurusi negara, bukan sekadar ngurusi satu RT, perlu sistem yang kuat. Jangan setiap ada masalah terus dirubah, nanti kalau di PT ada masalah diusulkan adanya pengadilan Pemilu?, itukan repot jadinya," imbuhnya.

Dalam draft Pemilukada yang disusun Kemendagri (versi Februari 2011) telah mencabut kewenangan MK dalam penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada. Draft yang sudah bersifat final tersebut saat ini telah berada di Kementerian Hukum dan HAM dan segera dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Berdasarkan draft tersebut, kewenangan penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada dikembalikan ke PT sebagaimana mekanisme penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada sebelum lahirnya UU 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tapi efektifkan ususlan ini?

Seorang Balita Tercebur Ke Dalam Kuali Panas. Saksikan selengkapnya di "Reportase Pagi" pukul 04.30 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(her/her)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
81%
Kontra
19%