detikcom

Minggu, 20/03/2011 04:30 WIB

Sengketa Pemilukada ke PT

Jimly: Sayang Lembaga Sepenting MK Tugasnya Sedikit

Hery Winarno - detikNews
Jakarta - Pemerintah kembali melemparkan wacana panas terkait kewenangan Mahkamah Konstitusi. Sengketa Pemilukada yang saat menjadi kewenangan MK diusulkan akan dicabut dan diserahan ke Pengadilan Tinggi (PT). Mantan Ketua MK, Jimly Assiddiqie pun menyayangkan usulan tersebut, karena tugas MK akan semakin menyusut.

"Sayang kalau lembaga sepenting MK kerjaannya semakin sedikit," ujar Jimly saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (19/3/2011) malam.

Menurut Jimly, pertahunnya MK hanya menangani sekitar 200an kasus yang termasuk Pilkada. Bila usulan tersebut jadi direalisasikan maka tugas Mahkamah Agung (MA) akan semakin berat.

"Itu nanti bersifat final atau tidak?. Kalau tidak malah membuat tugas MA semakin banyak, dan akhirnya kasus malah jadi menumpuk di MA," terang Jimly.

Menurut Jimly, bila ada kekurangan dalam penyelesaian sengketa Pemilukada di MK seharusnya sistemnya diperbaiki, tidak perlu melempar kewenangan memutus ke PT. Menurutnya diperlukan sebuah stabilitas negara yang kuat untuk membangun sistem hukum yang baik.

"Inikan ngurusi negara, bukan sekadar ngurusi satu RT, perlu sistem yang kuat. Jangan setiap ada masalah terus dirubah, nanti kalau di PT ada masalah diusulkan adanya pengadilan Pemilu?, itukan repot jadinya," imbuhnya.

Dalam draft Pemilukada yang disusun Kemendagri (versi Februari 2011) telah mencabut kewenangan MK dalam penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada. Draft yang sudah bersifat final tersebut saat ini telah berada di Kementerian Hukum dan HAM dan segera dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Berdasarkan draft tersebut, kewenangan penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada dikembalikan ke PT sebagaimana mekanisme penyelesaian perselisihan hasil Pemilukada sebelum lahirnya UU 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tapi efektifkan ususlan ini?

Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(her/her)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
74%
Kontra
26%