detikcom
Selasa, 11/01/2011 17:29 WIB

Kratingdaeng dan Bear Brand Keluaran Thailand Dilarang Edar

Nurvita Indarini - detikNews
Jakarta - Minuman energi Kratingdaeng Red Bull dan susu Bear Brand yang beredar di Provinsi Bangka Belitung (Babel) dilarang edar. Sebab kedua produk minuman kaleng yang masuk ke wilayah itu tidak mengantongi izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

"Produk itu masuk dari Thailand dan tidak terdaftar. Sementara yang terdaftar di kita (BPOM) adalah yang bukan dari Thailand," ujar Kepala BPOM Kunstantinah dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (11/1/2011).

Dia menjelaskan, meskipun suatu produk yang sama terkadang diproduksi di beberapa negara berbeda, namun bukan berarti produk tersebut serta merta dibolehkan beredar di Indonesia. Sebab BPOM tidak mengetahui apakah produk yang diproduksi di negara itu telah memenuhi kaidah good manufacturing practices (GMP).

"Walaupun sama, tapi sumber negara produksinya berbeda tidak boleh. Karena kita tidak tahu persis bahan bakunya, prosesnya bagaimana," lanjut Kustantinah.

Menurutnya, bisa saja produk itu telah memenuhi syarat GMP, namun karena tidak terdaftar maka secara hukum tidak boleh beredar. Jika produk dari negara bersangkutan tetap beredar berarti menyalahi izin edar.

"Sampai saat ini, produk yang dari Thailand itu baru ditemui di Babel. BPOM di sana yang melakukan pengamanan," terang dia.

Produk tersebut, menurut Kustantinah, masuk secara ilegal melalui sejumlah pelabuhan. Lokasi Babel yang mudah dicapai dari negara lainnya menyebabkan potensi masuknya barang dari berbagai negara besar.

Kedua produk minuman tersebut sebenarnya sudah dilarang beredar sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga kini, masih saja ditemukan produk yang masuk secara ilegal dari Thailand. Sebelumnya, BPOM Babel juga pernah memusnahkan ribuan kaleng minuman tersebut. Kustantinah menjelaskan, BPOM Pangkal Pinang baru-baru ini menemukan Kratingdaeng 250 ml dalam kaleng produk Thailand sejumlah 104 kaleng. Untuk diketahui, minuman serupa yang terdaftar di BPOM adalah yang dalam kemasan botol 250 ml. Sedangkan Bear Brand yang ditemukan BPOM PangkalPinang adalah dalam kemasan kaleng 140 ml sejumlah 194 kaleng. "Kedua produk tersebut tidak terdaftar di BPOM sehingga diamankan BPOM dan tidak diperkenankan dijual karena melanggar peraturan," tutup Kustantinah.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(vit/fay)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
58%
Kontra
42%