Selasa, 30/11/2010 17:39 WIB
Eks Rektor UGM: Akar Masalah Keistimewaan DIY dari UU Pemda
Dalam UUD 1945, diakui adanya daerah istimewa yakni untuk menyebut Aceh, Yogyakarta Hadiningrat dan Ibukota Jakarta. Namun dalam UU Pemda, di bawah negara hanya ada provinsi, walikota, kabupaten tanpa menyebut adanya daerah istimewa.
"Ini akar masalahnya, padahal dalam UUD 1945, daerah istimewa itu diakui keberadaannya. Tapi dalam UU Pemda seolah tidak boleh ada daerah istimewa, sehingga semua daerah harus dibuat provinsi," terang Sofian Effendi saat berbincang dengan detikcom, Selasa (30/11/2010).
Menurut mantan rektor UGM ini, Yogyakarta adalah daerah istimewa yang setingkat dengan provinsi, bukan provinsi yang diistimewakan. Artinya, Yogyakarta memiliki keistimewaan yang kemudian membuatnya diangkat menjadi provinsi tersendiri.
"Keistimewaannya tidak lepas dari sejarah, di mana Yogyakarta yang sejak zaman penjajahan adalah sebuah daerah yang independen. Hingga akhirnya Indonesia merdeka dan Yogyakarta (HB IX dan Paku Alam VIII) mengakui kedaulatan dan bergabung dengan NKRI," terangnya.
Bergabungnya Yogyakarta dengan NKRI disambut baik oleh Presiden pertama republik ini, Soekarno. Bahkan saat Ibukota Jakarta berada di bawah pendudukan Belanda pada tahun 1946, atas undangan HB IX, Soekarno kemudian memindahkan pusat pemerintahan dan Ibukota dari Jakarta ke DIY.
"Makanya kalau gubernur mau dipilih langsung, keistimewaan DIY menjadi hilang. Apa bedanya Yogyakarta dengan Jawa Tengah, Jawa Barat dan provinsi lainnya," terangnya.
Effendi juga tidak menyetujui konsep yang ditawarkan RUU keistimewaan DIY yang digodok oleh Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM. Menurutnya draf yang dipesan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tersebut tidak pas diterapkan untuk tingkatan provinsi.
"Ini tidak pas, karena draf itu menganut sistem monarki parlementariat, seperti yang dianut oleh Jepang, Inggris dan negara-negara lainnya. Dimana Raja hanya sebagai kepala negara, sedangkan kepala pemerintahan dipegang perdana menteri," terangnya.
Menurutnya dalam draf tersebut nantinya Sultan dan Paku Alam hanya menjadi kepala negara sedangkan kepala pemerintahan dipegang oleh gubernur yang dipilih oleh rakyat. Sistem yang mengadopsi Inggris dan negara yang menggunakan sistem monarki parlementariat ini hanya bisa diberlakukan untuk sebuah negara.
"Sistem ini cocoknya untuk sebuah negara, bukan daerah provinsi. Makanya sebaiknya kita tetap kembalikan ke UU No 3/1950 tentang Pembentukan DIY," terangnya.
Lalu bagaimana penerus Sultan, mengingat dalam tradisi Keraton penerusnya harus laki-laki, sedangkan Sultan tidak memiliki putra?
"Itukan tradisi dan kearifan lokal kita serahkan saja ke pihak keraton, yang jelas pasti ada penggantinya entah adiknya, pamannya atau bila dimungkinkan bisa saja putri belaiu jadi ratu," imbuhnya.
(her/fay)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Rabu, 22/05/2013 00:53 WIB
Makan di Pendopo Sipanji Banyumas, Megawati Cerita Kondisi Indonesia
-
Selasa, 21/05/2013 23:48 WIB
Polres Dumai Riau Bekuk 2 Pengedar Narkoba
-
Selasa, 21/05/2013 23:12 WIB
Insiden Tenggelamnya KM Karya Indah di Sungai Mahakam Dipolisikan
-
Selasa, 21/05/2013 22:18 WIB
Ibunda Darin Bantah Anaknya Menikah Siri dengan LHI
-
Selasa, 21/05/2013 22:14 WIB
Pelajar SMP Tewas Tenggelam di Parit Besar di Medan
-
Selasa, 21/05/2013 12:52 WIB
Ini Dia Darin Mumtazah, Pelajar yang Dekat dengan Luthfi Hasan
-
Selasa, 21/05/2013 09:29 WIB
Ini Penyebab NN Tega Memotong Kelamin Abdul di Pamulang
-
Selasa, 21/05/2013 17:30 WIB
Kata Ibunda ke Tetangga: Biarin Darin Dikawinin, Daripada Dia Hidup Susah
-
Rabu, 22/05/2013 00:12 WIB
Ratusan Pemanas Air dari Sendok Disita dari Ruangan Napi di Rutan Medaeng
-
Selasa, 21/05/2013 17:15 WIB
Kisah Keluarga Darin yang Berubah Drastis Setelah Mengenal Luthfi
-
Selasa, 21/05/2013 21:09 WIB
Ini Reaksi Luthfi Hasan Saat Ditanya Soal Darin Mumtazah
-
Selasa, 21/05/2013 15:23 WIB
Luthfi Kerap Bertandang ke Rumah Darin dengan VW Caravelle dan Mazda Putih
-
Rabu, 22/05/2013 00:53 WIB
Makan di Pendopo Sipanji Banyumas, Megawati Cerita Kondisi Indonesia
-
359 Komentar
-
238 Komentar
-
229 Komentar
-
211 Komentar
-
210 Komentar
-
210 Komentar
-
175 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
15 Tahun Reformasi
Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,845.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 16:52 WIB
Darin Mumtazah dan Keluarga Kontrak Rumah di Jatinegara Rp 75 Juta/Tahun
-
Selasa, 21/05/2013 16:07 WIB
Elite PKS Tak Tahu Hubungan Darin Mumtazah dan Luthfi Hasan
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








_5.gif)






Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.
