Prahara PRT, Negeri Sendiri Tak Lebih Baik Dibanding Negeri Orang
Sabtu, 20/11/2010 10:25 WIB
Jakarta
Nasib pembantu rumah tangga (PRT) di Indonesia tidak lebih baik dibandingkan nasib TKW di luar negeri. Meski berada di 'rumah sendiri', perlakuan tidak adil kerap juga diterima mereka.
Mulai dari kekerasan fisik hingga tidak dibayar upahnya, juga pernah dialami oleh para PRT di Indonesia. Jaringan Nasional Advokasi (Jala) PRT menyesalkan, kenapa nasib PRT di Indonesia tidak diperhatikan oleh pemerintah.
"Kita sendiri sering perlakukan PRT tidak standar, sering menyuruh secara semena-mena," ujar koordinator Jala, Lita, saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (20/11/2010).
Selama tahun 2010 ini saja, Jala mencatat ada 17 PRT yang mengalami tindak kekerasan. Bahkan di antara mereka ada juga yang hingga tewas, meski bukan akibat tindak kekerasan.
Menurut Lita, kasus PRT baru terungkap jika ada pendamping dari LSM, atau saat kasusnya sudah parah. Umumnya PRT tidak tahu bagaimana cara menghadapi masalah kekerasan yang mereka terima.
"75 persen kekerasan multi jenis seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, Kekerasan ekonomi dan pelanggaran hak atas upah," ungkap Lita.
Inilah sebagian data-data kekerasan yang dialami PRT selama tahun 2010 ini;
1. Februari 2010, Sumirah (28), asal Jateng. Ia menerima kekerasan fisik selama bekerja 3 tahun. Ia buta karena berkali-kali disiram minyak kampak oleh majikannya. Sumirah juga dipaksa kerja sejak pukul 05.00-01.00 keesokan harinya. Upah Rp 200 ribu/bulan juga tidak diterimanya selama 1,5 tahun.
2. Maret 2010, Sutry (18) asal Manado. Sutry sering dianiaya dengan cara dipukul, ditampar da dicubit. Selama dua bulan ia tidak dibayar upahnya.
3. Maret 2010, Siti Saumah (14). Selama dua tahun ia sering dianiaya. Bahkan yang terakhir ia sempat disiram air panas dan dicambuk hingga 200 kali.
4. Juli 2010, Rini (23) dan Siti (22), mengalami kecelakaan kerja di Kompleks Perumahan Citra Garden, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Mereka berdua meninggal karena berada asap genset dan korban berada di ruang tanpa ventilasi.
5. Maret 2010, Haryanti, (20) asal Magelang. Haryanti sering dipukul, ditusuk dengan garpu dan penggorengan, sering tidak diberi makan. Ia bekerja di Lemahabang, Bekasi.
6. Mei 2010, Warni (14) warga Ciwidey, Bandung. Saat bekerja di kawasan Cikutra, upah Warni tidak dibayar selama 4 bulan. Ia dipaksa kerja terus menerus sejak pukul 04.00-24.00 WIB. Saat sakit, ia tidak diberi pengobatan tapi tetap diperintah bekerja.
(mok/gah)
Mulai dari kekerasan fisik hingga tidak dibayar upahnya, juga pernah dialami oleh para PRT di Indonesia. Jaringan Nasional Advokasi (Jala) PRT menyesalkan, kenapa nasib PRT di Indonesia tidak diperhatikan oleh pemerintah.
"Kita sendiri sering perlakukan PRT tidak standar, sering menyuruh secara semena-mena," ujar koordinator Jala, Lita, saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (20/11/2010).
Selama tahun 2010 ini saja, Jala mencatat ada 17 PRT yang mengalami tindak kekerasan. Bahkan di antara mereka ada juga yang hingga tewas, meski bukan akibat tindak kekerasan.
Menurut Lita, kasus PRT baru terungkap jika ada pendamping dari LSM, atau saat kasusnya sudah parah. Umumnya PRT tidak tahu bagaimana cara menghadapi masalah kekerasan yang mereka terima.
"75 persen kekerasan multi jenis seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, Kekerasan ekonomi dan pelanggaran hak atas upah," ungkap Lita.
Inilah sebagian data-data kekerasan yang dialami PRT selama tahun 2010 ini;
1. Februari 2010, Sumirah (28), asal Jateng. Ia menerima kekerasan fisik selama bekerja 3 tahun. Ia buta karena berkali-kali disiram minyak kampak oleh majikannya. Sumirah juga dipaksa kerja sejak pukul 05.00-01.00 keesokan harinya. Upah Rp 200 ribu/bulan juga tidak diterimanya selama 1,5 tahun.
2. Maret 2010, Sutry (18) asal Manado. Sutry sering dianiaya dengan cara dipukul, ditampar da dicubit. Selama dua bulan ia tidak dibayar upahnya.
3. Maret 2010, Siti Saumah (14). Selama dua tahun ia sering dianiaya. Bahkan yang terakhir ia sempat disiram air panas dan dicambuk hingga 200 kali.
4. Juli 2010, Rini (23) dan Siti (22), mengalami kecelakaan kerja di Kompleks Perumahan Citra Garden, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Mereka berdua meninggal karena berada asap genset dan korban berada di ruang tanpa ventilasi.
5. Maret 2010, Haryanti, (20) asal Magelang. Haryanti sering dipukul, ditusuk dengan garpu dan penggorengan, sering tidak diberi makan. Ia bekerja di Lemahabang, Bekasi.
6. Mei 2010, Warni (14) warga Ciwidey, Bandung. Saat bekerja di kawasan Cikutra, upah Warni tidak dibayar selama 4 bulan. Ia dipaksa kerja terus menerus sejak pukul 04.00-24.00 WIB. Saat sakit, ia tidak diberi pengobatan tapi tetap diperintah bekerja.
(mok/gah)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 07:22 WIB
Menengok Kehidupan di Pulau Terluar Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 03:14 WIB
PB HMI: Pemberian Grasi Corby Menciderai Komitmen Pemberantasan Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
283 Komentar
-
237 Komentar
-
216 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,847.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
