Jumat, 05/11/2010 15:28 WIB
Naturalisasi Pesepakbola Keturunan
Siapa yang tidak kenal olahraga sepak bola, salah satu cabang olahraga yang paling banyak peminatnya di seluruh dunia. Dari penjuru ujung kampung hingga kota metropolitan dijamin pasti tahu sepak bola. Sekalipun ada yang tidak suka dengan sepak bola, sedikit banyak mereka pasti mengetahuinya. Itulah sepak bola dari kompetisi liga kampung hingga turnamen semacam piala dunia, bagi yang suka bola sungguh menarik minat, minimal bisa komentar sambil menggerutu jika tim nya kalah dan bersorak gembira jika menang.
Sekitar beberapa bulan lalu, PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) membuat wacana menarik untuk kemajuan sepak bola Indonesia yang hingga saat ini masih dianggap miskin prestasi dan tambah semakin ketinggalan walau hanya untuk kelas kawasan ASEAN ( AFF CUP dulunya Tigers Cup). Apalagi kelas piala dunia ya?
Apa wacana itu? Wacana itu adalah mencoba menaturalisasi pemain-pemain bola di eropa sana yang dianggap mempunyai darah Indonesia. Untuk melihat daftar pemain bola keturunan Indonesia, klik di sini.
Secara sederhana, menurut saya naturalisasi adalah memberikan kewarganegaraan buat para pemain bola keturunan Indonesia itu sehingga mereka bisa menjadi anggota tim nasional Indonesia yang tentunya siap dimainkan ketika ada turnamen antar negara.
Beberapa pemain sudah ada yang datang seperti misalnya Irfan bachdim, Kim J Kurniawan, Alessandro Trabucco dalam laga amal bulan Agustus lalu di Malang dan Surabaya, sementara Sergio Van Dijk tidak bisa hadir karena harus membela klubnya di Australia.
Bagi saya, sebagai orang yang bukan pengamat bola tapi sebatas suka nonton bola, tentunya ide ini bisa dikatakan postif namun juga bisa menjadi bumerang bagi PSSI sendiri. Karena kebijakan menaturalisasi sesungguhnya bisa dikatakan program instan. Apakah hanya karena putus asa dalam pembinaan tim nasional sehingga jalan pintas pun diambil, dengan harapan mampu memberikan prestasi bagi Indonesia di bidang sepak bola. Atau hanya memainkan emosi sesaat masyarakat pencinta bola di tanah air jika kita juga bisa seperti negara-negara lain yang mudah menaturalisasi pemain bolanya.
Saya malah beranggapan, jangan sampai ketika kebijakan ini dijalankan para pemain bola keturunan itu sibuk menjadi selebritis baru (maklumlah bahasa Indonesia yang patah-patah biasanya disukai). Wajah menarik dan berbagai macam “keunggulan” daripada pemain Indonesia asli menjadikan mereka seperti anak manja; minta dilayani ini dan itu. Takutnya ujung-ujungnya malah menjadi bintang film atau sinetron daripada memajukan tim nasional Indonesia.
Belum lagi soal gaji, sanggupkah PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga membayar sekian banyak pemain yang akan dinaturalisasi.
Sementara liga Divisi Utama saja tiap provinsi harus berkorban bermilyar-milyar demi membentuk klub bola yang bonafid dengan menggunakan uang APBD. Belum lagi setiap pertandingan yang hampir selalu diwarnai tawuran, pengaturan skor hingga suporter yang tidak bisa menerima kekalahan tim kesayangannya.
Tugas utama PSSI dan Kementrian Pemuda dan Olahraga sebenarnya membenahi kompetisi jika ingin memajukan sepak bola Indonesia. Sambil melakukan tugas utamanya, proses menaturalisasai bisa dijalankan. Kalau pemain yang akan dinaturalisasi bersedia sih oke-oke saja. Tetapi kalau mereka tidak mau, bagaimana ya?
Penulis pernah mendengar wawancara M. Kusnaeni (wartawan olahraga disalah satu media cetak olahraga di Indonesia) bahwa tim Jerman saja perlu waktu 10 tahun untuk membangun tim sepak bola yang solid. Caranya dengan membina dan memantau pemain muda serta memperbaiki sistem kompetisi di dalam negeri.
Kita sudah 65 tahun merdeka dengan jumlah penduduk ratusan juta jiwa. Tetapi sepertinya susah sekali membuat tim sepak bola yang solid dan disegani Negara lain. Ada apa?
Tidak ada kata terlambat bagi PSSI untuk membangun tim sepak bola yang solid. Dengan dukungan para pecinta sepak bola, semoga cita-cita itu bisa tercapai. Maju dan berprestasi tim nasional sepak bola Indonesia.
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang
Ikuti topik-topik hangat hari ini di "Reportase Siang", pukul 10.30 WIB, hanya di Trans TV.
(tbs/tbs)
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Tentara Inggris yang Dibunuh dengan Sadis Bernama Lee Rigby
189 share this. -
Jokowi Lantik Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Siapa Tergusur?
0 share this. -
Demi Hidup Mewah, Pegawai Bank Rela Alih Profesi Jadi Pengedar Sabu
0 share this. -
Kompolnas Desak Polri Usut Apa Ada Dugaan Kelalaian di Kasus Freeport
0 share this. -
Napi Tato Tweety Jual Sabu: Di Penjara Tak Ada yang Gratis
0 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Senin, 08/11/2010 10:53 WIB
Gairah Bercinta Di Ruang Puisi
-
Jumat, 05/11/2010 15:37 WIB
SBY, Belanda, dan RMS
-
Jumat, 05/11/2010 15:08 WIB
Peka Itu Seksi
-
Senin, 21/06/2010 09:59 WIB
Para Perempuan Mumpuni
-
Jumat, 24/05/2013 04:45 WIB
Jokowi Lantik Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Siapa Tergusur?
-
Jumat, 24/05/2013 05:21 WIB
Kronologi Patroli Bea dan Cukai Saat Sergap Kapal Gula Ilegal
-
Jumat, 24/05/2013 03:41 WIB
Demi Hidup Mewah, Pegawai Bank Rela Alih Profesi Jadi Pengedar Sabu
-
Jumat, 24/05/2013 06:32 WIB
Pengumuman UN, KPAI: Stop Coret Baju!
-
Jumat, 24/05/2013 05:37 WIB
Ratifikasi Statuta Roma Tidak Boleh Dihentikan
-
Jumat, 24/05/2013 02:40 WIB
Napi Tato Tweety Jual Sabu: Di Penjara Tak Ada yang Gratis
-
Jumat, 24/05/2013 03:30 WIB
Minim Pendaftar Laki-laki, KPAI Perpanjang Lowongan Komisioner
-
Jumat, 24/05/2013 01:45 WIB
Bea dan Cukai: Kapal Patroli Justru Diserang KM Wahyu
-
581 Komentar
-
363 Komentar
-
218 Komentar
-
216 Komentar
-
200 Komentar
-
145 Komentar
-
138 Komentar
-
136 Komentar
-
Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Kamis, 23/05/2013 19:41 WIB
Tidak Terima Uang, Elsya Malah Kirim Rp 2 M ke Fathanah
-
Kamis, 23/05/2013 17:46 WIB
Istri Ahmad Zaki Penuhi Panggilan KPK
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer















Made Tantrawan (21), mahasiswa Fakultas MIPA UGM memiliki catatan prestasi yang luar biasa. Ia menjadi langganan juara olimpiade internasional dan kini lulus dengan sempurna. Apa resepnya?
Perlawanan para koruptor memang bervariasi. Sejak pertama kali pemberantasan korupsi dilakukan pada permulaan revolusi di Indonesia, tahun 1957, perlawanan sudah terjadi. Perlawanan para koruptor sudah merupakan hukum besi. Hukum perlawanan adalah hukum kemestian.
