Jumat, 05/11/2010 15:08 WIB

Peka Itu Seksi

Gabriel Mahal - detikNews
Jakarta - Setidaknya begitulah pengakuan Nicole Appleton, penyanyi pop kelahiran Canada, anggota grup vokal "All Saints", dan aktris film "Honest". "I find sensitivity sexy". Begitu kata Nicole.

Lebih dari itu. Shel Silverstein, seniman yang diberi gelar "a truly unique and muli-faceted artist" karena bakat dan kemampuannya sebagai penyair, penulis naskah drama skenario film, penulis lagu, ilustrator, berpendapat bahwa kita lahir dengan kepekaan (sensitivity), kesadaran (awareness), dan persepsi (perception) tertentu. Jadi, menurut seniman kelahiran Chicago tanggal 25 September 1930 ini, kepekaan itu bawaan kita sejak lahir. Bagian dari hadiah kehidupan. Artinya, kepekaan merupakan bagian integral dari kemanusiaan kita. Ketiadaan kepekaan berarti cacat dalam kemanusiaan kita.

Kepekaan itu bukan hanya jadi kekayaan kemanusiaan kita, tetapi merupakan hal penting yang harus diperhatikan ketika hendak menggerakkan orang lain. Sebagaimana diungkapkan Profesor Naguib Mahfouz, novelis Mesir dan peraih hadiah Nobel Sastra 1988, "if you want to move people, you look for a point of sensivity".

Hal senada diungkapkan oleh Johannes Rau, politisi Jerman dan Presiden Republik Federal Jerman kedelapan. Menurut Rau, yang terkenal dengan prinsip "menyatukan, bukan memisahkan" itu, "sensitivity is also a good counsellor when it comes to enforcing one’s interests”. Dan, ukuran kematangan kita sebagai manusia itu terletak pada kepekaan terhadap penderitaan manusia seperti diungkapkan oleh Rabbi Julius Gordon, “"maturity is sensitivity to human suffering".

Di situlah pentingnya kepekaan bagi kesejatian makna kemanusiaan kita. Ironisnya, bahkan merupakan tragedi, ketika kita yang memosisikan kemanusiaan sebagai Sila Kedua dasar falsafah dan pandangan hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, mulai kehilangan kepekaan.

Sensibility. Kepekaan. Itu kata kunci. Itu juga yang sepertinya hilang dalam perjalanan bangsa ini, dalam peri kehidupan kita. Dalam membangun relasi antara saya dan Anda, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Sang Pencipta.

Kehilangan kata kunci itu juga bikin kita tidak mampu mewujudkan impian sang proklamator Bung Karno yang mengibarkan perjalanan bangsa ini seperti perjalanan yang dilukiskan Dante. Keluar dan meninggalkan Inferno (neraka), melalui Purgotario (api penyucian), menuju Paradiso (surga) suatu masyarakat Indonesia yang adil sejahtera, tentram raharja.

Nah, Anda mau kelihatan seksi? Ya, peka dong!

(tbs/tbs)



Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Berita Terbaru Indeks Berita ยป
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    67%
    Kontra
    33%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel