Senin, 18/10/2010 18:50 WIB
Setahun SBY-Boediono (5)
Tidak Ada Uang, Demo Tidak Jalan
"Di sini memang buat tempat nongkrong dan berdiskusi para mahasiswa dan aktivis. Jadi kafe ini bukan tempat gaul seperti kafe-kafe yang lain," jelas Haris Rusli, pengelola Doekoen Coffee kepada detikcom.
Di kafe ini memang beberapa aktivis dan mahasiswa sering berkumpul dan berbagi informasi terkait isu yang sedang aktual. Selain itu kafe ini juga sering dijadikan tempat untuk konsolidasi sejumlah aksi yang akan dilakukan para aktivis. Diakui Haris, tempat konsolidasi para aktivis mahasiswa saat ini memang tidak seperti dulu yang banyak dilakukan di kampus, kos-kosan, atau di warung kopi pinggir jalan.
Tapi karena mengikuti perkembangan zaman, para aktivis pun kemudian memilih lokasi pertemuan dan konsolidasi sesuai kondisi terkini, yakni kafe. Hanya saja, meski bernama kafe tetap saja para aktivis hanya memilih menu standar, seperti kopi hitam, teh manis, atau kopi susu. "Namanya juga aktivis duitnya pas-pasan. Jadi pesanannya tidak jauh dari kopi atau teh manis," terang Haris.
Karena punya selera yang tidak berubah dalam memilih menu makan dan minum, itu sebabnya menu yang ditawarkan di Doekoen Coffee tidak berbeda dengan warung-warung kopi pinggir jalan, misalnya mie instan, roti bakar, serta kopi dan minuman ringan lainnya.
Masih tetapnya menu yang dipilih para aktivis ini seakan sejalan dengan semangat mereka dalam upaya mereka mengkritisi pemerintah dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Sekalipun selama setahun belakangan mereka terlihat jarang melakukan aksi namun menurut mereka konsolidasi antar simpul aktivis terus dilakukan.
"Kita masih sering berkumpul dan konsolidasi. Tapi memang untuk aksi turun ke jalan sudah lama tidak kita lakukan karena ada beberapa persoalan," jelas Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia, Taufikurrahman saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Salah satu penyebab mendeknya aksi turun ke jalan yang dilakukan aktivis mahasiswa lantaran mengibarkan bendera masing-masing. Selain itu, agenda yang diperjuangkan juga berbeda-beda. Belum ada isu sentral yang membuat mereka bersatu dalam mengusung sebuah isu untuk dibawa turun ke jalan.
Sementara Stefanus Gusman, Ketua Umum DPP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) mengatakan, selain belum adanya kesamaan isu yang diusung, peran senior ikut mempengaruhinya. Banyak para senior yang mantan aktivis menggiring para juniornya sesuai kepentingan senior.
"Jadi kalau seniornya bilang A, maka para aktivis mahasiswa yang jadi juniornya ikut ke A. Kalau sudah begini sangat sulit untuk diajak aksi bersama. Apalagi kalau seniornya sudah dekat dengan kekuasaan, jadi semakin sulit saja," ujarnya.
Parahnya lagi, saat ini mindset mahasiswa terkait kegiatan aksi tidak lepas dari uang. Sehingga ketika mereka diajak turun ke jalan mereka akan bertanya berapa jumlah uang yang bisa mereka terima dalam setiap aksi. Hal inilah yang membuat ajakan untuk turun ke jalan tidak direspons oleh kebanyakan mahasiswa saat ini.
Menurut Haris Rusli, mantan aktivis 1998, perubahan mindset aktivis mahasiswa saat ini akibat ulah para elit politik pasca reformasi. Para elit politik sejak reformasi selalu menggunakan uang untuk menjaring pemilih atau saat melakukan kampanye. Akibatnya prilaku ini menular kepada para aktivis pasca 1998.
"Mereka akan sulit diajak turun ke jalan kalau tidak ada uangnya. Alasan mereka setiap aksi politik itu terkait uang dan jabatan. Ini sulitnya menggerakan para mahasiswa untuk melakukan aksi turun ke jalani," ujar Haris.
Persoalan lain, adanya upaya orang-orang di kekuasaan yang berupaya memecah kekompakan jaringan aktivis. Tudingan tersebut bukan tanpa alasan. Haris mencontohkan, dalam tiga bulan ini para aktivis beberapa kali melakukan konsolidasi untuk melakukan aksi. Namun dalam rapat ada saja kericuhan yang terjadi lantaran perbedaan sasaran isu. Sehingga rapat dibubarkan.
Untuk mengantisipasi penyusupan tersebut, kini para aktivis mulai menyeleksi para aktivis yang akan berkumpul. Langkah ini sengaja dilakukan untuk menyaring aktivis-aktivis yang datang ke dalam rapat untuk konsilidasi.
Persoalan-persoalan inilah yang membuat gerakan aktivis terlihat melempem. Jangan heran kalau kasus Bank Century dan kriminalisasi Bibit-Chandra tidak mendapat reaksi yang besar dari kalangan mahasiswa. Namun saat ini, aku Haris, isu terkait gagalnya pemerintahan SBY-Boediono, menuai kata sepakat dari semua jaringan aktivis. Mereka yakin dengan isu ini maka akan banyak mahasiswa yang mau turun ke jalan sekalipun tidak diberi uang atau janji-janji yang lain.
(zal/diks)
Dapatkan ulasan lengkap Fokus dengan mendownload edisi Majalah detik melalui tablet Android dan iPad, atau download versi PDFnya di majalahdetik.com.
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Polri Tugasnya untuk Kemanusiaan, Bukan Berbisnis!
651 share this. -
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
498 share this. -
Korea Utara Kembali Uji Rudal Jarak Pendek Keempatnya
350 share this. -
Korban Runtuhan Tambang Freeport di Papua Bertambah Jadi 8
292 share this. -
Pencopet Tewas Tertabrak Busway usai Beraksi di Bogota
272 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru
Indeks Laporan Khusus ยป
-
Senin, 20/05/2013 07:53 WIB
Jimat Aneh Raja Klewang
-
Jumat, 17/05/2013 09:59 WIB
Mobil Mewah Partai Dakwah
-
Kamis, 16/05/2013 09:09 WIB
Nasib Penerima Hadiah Fathanah
-
Rabu, 15/05/2013 06:40 WIB
Sehari Bisa 3 Kali Ganti Perempuan
-
Selasa, 14/05/2013 15:00 WIB
Malaikat Hitam di Partai Dakwah
-
Senin, 20/05/2013 18:44 WIB
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 18:23 WIB
Rusun Relokasi Belum Jadi, Jokowi: Keruk Terus Waduk Pluit, Bukan Gusur
-
Senin, 20/05/2013 18:37 WIB
PPATK Temukan Aliran Dana Fathanah ke Oknum PKS Selain Luthfi
-
Senin, 20/05/2013 16:38 WIB
Terkait Fathanah, Tri Kurnia Kembalikan Uang Rp 400 Juta ke KPK
-
Senin, 20/05/2013 16:31 WIB
Jokowi: Warga Justru Bantu Bongkar Bangunan Liar di Waduk Pluit
-
Senin, 20/05/2013 17:22 WIB
Rutan Cipinang Disidak, Ditemukan Uang Jutaan, BlackBerry Hingga Pisau
-
Senin, 20/05/2013 17:49 WIB
Anggota DPR: Jenjang Karir Moeldoko Lebih Bagus dari Pramono Edhie
-
Senin, 20/05/2013 15:33 WIB
Cek Pembongkaran di Waduk Pluit, Jokowi Ramai Disalami Warga
-
353 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
213 Komentar
-
211 Komentar
-
209 Komentar
-
201 Komentar
-
193 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,837.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 16:00 WIB
PD Siapkan Karpet Merah untuk Jenderal Pramono Edhie yang Pensiun
-
Senin, 20/05/2013 15:57 WIB
Massa Kampanye Ganjar-Heru Saling Lempar, Plt Walkot Semarang Lompat Pagar
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


.gif)





_5.gif)





Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

