detikcom
Selasa, 28/09/2010 17:48 WIB

Alat Kosmetik Jadi Favorit Pemalsuan di Indonesia

Suluh Gembyeng Ciptadi - detikNews
Jakarta - Praktek pemalsuan barang kian marak terjadi di Indonesia. Namun ternyata produk-produk kosmetik menjadi jenis yang paling banyak dipalsukan.

Hal ini disampaikan oleh anggota MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan) Bambang Sumaryanto dalam sebuah diskusi mengenai pemalsuan kosmetik di Unika Atma Jaya Jakarta, Selasa (28/9/2010).

"Hingga saat ini, melalui survei yang telah dilakukan oleh MIAP bersama lembaga survei independen pada tahun 2004, ditemukan bahwa industri kosmetik menempati posisi teratas dari 12 sektor industri yang rentan pemalsuan. Secara keseluruhan dampak kerugian dari pemalsuan hingga tahun ini meningkat
9 kali lipat," imbuh Bambang.

Bambang menambahkan jika kerugian dari pemalsuan kosmetik tahun ini mencapai angka Rp 4,41 triliun.

Selain itu, Tulus Abadi, anggota pengurus harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) juga menerangkan bahwa pelaku pemalsuan produk-produk kosmetik bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 100 juta per hari.

"Berdasarkan hasil penelusuran YLKI, ternyata kosmetik palsu diproduksi di sebuah pabrik rumahan (home industry) di daerah Jakarta Barat. Namun dipasarkan hingga ke Surabaya, Kalimantan, dan Sumatera. Dan dalam sehari bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 100 juta," ungkap Tulus.

Menyikapi kenyataan yang ada, tentu diperlukan usaha-usaha bersifat preventif dalam rangka menyadarkan masyarakat luas sebagai konsumen untuk lebih waspada terhadap keberadaan kosmetik palsu yang tentunya akan berdampak negatif jika digunakan secara terus menerus.


Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(gah/fay)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
44%
Kontra
56%