detikcom
Minggu, 19/09/2010 09:58 WIB

Studi Banding DPR Demi RUU Dinilai Mengada-ada

Nurvita Indarini - detikNews
Jakarta - Dalam proses menyelesaikan sejumlah RUU, anggota DPR melakukan studi banding ke luar negeri. Kegiatan ini mendapat sorotan dari masyarakat. Program semacam itu pun dinilai terlalu mengada-ada.

"Ilmu dan pengetahuan ada di sekitar kita. Studi banding tidak perlu. Kalau

membandingkan itu tidak membandingkan satu negara dengan yang lain, tapi dengan banyak negara. Hal itu bisa dilakukan dengan buku, jurnal, media, internet," ujar pengamat politik Andrinof Chaniago kepada detikcom, Minggu (19/9/2010).

Menurut dia, ketika hendak melakukan komparasi UU, yang perlu dilihat adalah produk UU-nya. Untuk mendapatkan dokumen tersebut, maka bisa meminta bantuan kedutaan besar negara tersebut yang ada di Indonesia, atau sebaliknya mengerahkan kedutaan besar RI yang ada di negara tersebut.

"Bukan metode yang benar, kalau apa-apa studi banding. Studi itu bisa dengan research data literatur dulu. Baru kelihatan urgensinya apa perlu sampai ke luar negeri," sambung Andrinof.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Bidang Korpolkam, Priyo Budi Santoso yang menyatakan kritik kepada DPR dinilai tidak adil karena pemerintah, yang lebih banyak melakukan kunjungan ke luar negeri, tidak mendapat kritik sebanding. Terkait hal ini, Andrinof menilai pemerintah dalam ha ini eksekutif memang memiliki program kunjungan ke luar negeri.

"Pemerintah itu eksekutif yang memang punya program untuk menjalin hubungan dan lainnya," ucapnya.

(vit/ndr)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel