Pembunuhan Berantai di Sukoharjo
Yulianto Mengaku Membunuh Parwoto Menggunakan Racun Tikus
Jumat, 03/09/2010 23:54 WIB
Sukoharjo
Jasad Parwoto kembali dimakamkan di makam Desa Manjung, Sawit, Boyolali. Dari hasil pemeriksaan polisi terhadap jasadnya, terdapat indikasi kematian Parwoto disebabkan mengonsumsi racun. Keluarga mengakui, dua hari sebelum wafat Parwoto meminum ramuan dari Yulianto.
Jasad Parwoto dibongkar oleh polisi Kamis kemarin setelah ada pengakuan dari Yulianto bahwa dia memberi minuman ramuan yang diberi campuran racun tikus kepada Parwoto. Pembongkaran jenasah itu dilakukan untuk mencari kepastian mengenai penyebab kematian Parwoto. Parwoto merupakan korban kelima yang diakui Yulianto.
Kepala Urusan Kedokteran Kesehatan Polresta Surakarta, Aji Kadarmo, mengatakan pihaknya hanya melakukan identifikasi dan mengambil dua sample dari jenazah untuk diperiksa. Sampel berupa serpihan tulang iga korban akan dibawa ke Markas Besar Polri untuk diperiksa lebih lanjut.
Sedangkan sampel berupa tanah di sekitar kerangka korban dibawa ke Bagian Toksikologi Polda Jateng. Pemeriksaan itu dilakukan untuk mendapatkan kepastian karena dari pemeriksaan awal yang dilakukannya memang terdapat indikasi Parwoto meninggal karena mengonsumsi.
Sementara itu pihak keluarga memberikan keterangan yang menguatkan. Semula mertua Parwoto mengatakan Parwoto hanya sekali dibawa berobat kepada Yulianto yaitu setahun sebelum meninggal. Namun informasi berbeda diberikan oleh Purwanto, adik kandung Parwoto.
Dia mengatakan dua tahun tahun lalu, dirinya berinisiatif mencarikan obat untuk kakaknya yang kondisnya semakin memburuk karena menderita stroke selama tujuh tahun. Dia mendatangi Yulianto yang diketahuinya mampu memberikan pengobatan alternatif. Yulianto lalu memberikan minuman berisi ramuan untuk diberikan kepada Parwoto.
Dua hari setelah itu Parwoto meninggal. Semula keluarga mengira kematian itu wajar. Namun setelah praktik pembunuhan berantai yang dilakukan Yulianto terkuak, Purwanto menjadi curiga. Dia curiga juga menjadi korban Yulianto dan akhirya dia melaporkan kejadian itu kepada polisi.
Selanjutnya kepada polisi Yulianto mengakui bahwa kematian Parwoto memang tak wajar. Dia memberikan minuman yang telah dicampur dengan racum pospit, salah satu jenis racun yang biasa digunakan petani untuk meracun tikus. Ramuan itu disebutnya sebagai rajah dan dianjurkan untuk segera diberikan kepada Parwoto.
(mbr/rdf)
Jasad Parwoto dibongkar oleh polisi Kamis kemarin setelah ada pengakuan dari Yulianto bahwa dia memberi minuman ramuan yang diberi campuran racun tikus kepada Parwoto. Pembongkaran jenasah itu dilakukan untuk mencari kepastian mengenai penyebab kematian Parwoto. Parwoto merupakan korban kelima yang diakui Yulianto.
Kepala Urusan Kedokteran Kesehatan Polresta Surakarta, Aji Kadarmo, mengatakan pihaknya hanya melakukan identifikasi dan mengambil dua sample dari jenazah untuk diperiksa. Sampel berupa serpihan tulang iga korban akan dibawa ke Markas Besar Polri untuk diperiksa lebih lanjut.
Sedangkan sampel berupa tanah di sekitar kerangka korban dibawa ke Bagian Toksikologi Polda Jateng. Pemeriksaan itu dilakukan untuk mendapatkan kepastian karena dari pemeriksaan awal yang dilakukannya memang terdapat indikasi Parwoto meninggal karena mengonsumsi.
Sementara itu pihak keluarga memberikan keterangan yang menguatkan. Semula mertua Parwoto mengatakan Parwoto hanya sekali dibawa berobat kepada Yulianto yaitu setahun sebelum meninggal. Namun informasi berbeda diberikan oleh Purwanto, adik kandung Parwoto.
Dia mengatakan dua tahun tahun lalu, dirinya berinisiatif mencarikan obat untuk kakaknya yang kondisnya semakin memburuk karena menderita stroke selama tujuh tahun. Dia mendatangi Yulianto yang diketahuinya mampu memberikan pengobatan alternatif. Yulianto lalu memberikan minuman berisi ramuan untuk diberikan kepada Parwoto.
Dua hari setelah itu Parwoto meninggal. Semula keluarga mengira kematian itu wajar. Namun setelah praktik pembunuhan berantai yang dilakukan Yulianto terkuak, Purwanto menjadi curiga. Dia curiga juga menjadi korban Yulianto dan akhirya dia melaporkan kejadian itu kepada polisi.
Selanjutnya kepada polisi Yulianto mengakui bahwa kematian Parwoto memang tak wajar. Dia memberikan minuman yang telah dicampur dengan racum pospit, salah satu jenis racun yang biasa digunakan petani untuk meracun tikus. Ramuan itu disebutnya sebagai rajah dan dianjurkan untuk segera diberikan kepada Parwoto.
(mbr/rdf)
Baca Juga
- Pembunuhan Berantai di Sukoharjo, Yulianto Akui Ada Korban Keenam
- Pembunuhan Berantai di Sukoharjo
Yulianto Akui Ada Korban Baru, Polisi Bongkar Makam Korban - Pembunuhan Berantai di Sukoharjo
Tersangka Yulianto Tetap Tenang dan Suka Ketawa - Pembunuhan Berantai di Sukoharjo
Suhardi Hilang Setelah Pamit Mencari Harta Karun - Pembunuhan Berantai di Sukoharjo
Polisi Ambil Sampel Darah Ibu Suhardi untuk Tes DNA,
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 11:55 WIB
Polisi Sita Sepucuk Pistol dari Pembunuh Wartawan Senior TVRI
-
Minggu, 27/05/2012 11:52 WIB
PD Tarik Wacana Pencapresan Ani Yudhoyono karena SBY Marah?
-
Minggu, 27/05/2012 11:43 WIB
Ada Kebakaran, KRL Tertahan di Stasiun Manggarai
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
Minggu, 27/05/2012 10:53 WIB
Pembunuh Janda Cantik di Kebayoran Baru Dibekuk
-
Minggu, 27/05/2012 10:48 WIB
Ibu Ani Pernah Bilang 10 Tahun SBY Mengabdi Sudah Cukup bagi Keluarga
-
Minggu, 27/05/2012 10:21 WIB
Rencana Konser Lady Gaga Dinilai Dipolitisasi
-
286 Komentar
-
245 Komentar
-
223 Komentar
-
220 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
