detikcom

Selasa, 17/08/2010 06:17 WIB

Pemerintah Didesak Segera Dirikan Sea and Coast Guard Indonesia

Aprizal Rahmatullah - detikNews
Halaman 1 dari 2
Ilustrasi (penjaga pantai)
Jakarta - Penangkapan 3 petugas patroli Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) oleh Polisi Malaysia dianggap sebagai insiden memalukan. Agar tak terulang, pemerintah didesak agar segera membentuk lembaga penjagaan laut dan pantai (Sea Coast Guard).

"Pemerintah perlu segera merealisasikan rencana pendirian institusi penjagaan laut dan pantai (sea and coast guard) berdasarkan UU 17/08 tentang pelayaran yang bisa menjadi institusi pengawasan sumber daya perikanan dan laut kita di wilayah perbatasan," ujar pengamat kelautan dari ITS Surabaya Saut Gurning dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (16/8/2010).

Saut mengatakan, persiapan menuju pembentukan institusi ini terkesan berjalan di tempat. Hal ini karena ego sektoral terkait tugas-tugas keamanan laut kita masih kental terjadi.

Hal itu seperti kesatuan penjaga laut dan pantai, TNI-AL, Kepolisian (Polairud), Imigrasi, DKP, Bea dan Cukai, serta Kehutanan. Institusi Bakorkamla (badan koordinasi keamanan laut) yang dibentuk untuk menguatkan koordinasi operasi antar institusi (integrasi horisontal) berkaitan dengan keamanan laut ini ternyata juga berjalan relatif tidak efektif.

"Bahkan dalam insiden Tanjung Berakit ini, tidak ada indikasi koordinasi intra institusi pengawasan dibawah kendali Bakorkamla guna mendukung operasi satuan kerja (satker) pengawasan perikanan DKP itu," tukas dosen Fakultas Teknologi Kelautan ITS ini.

Lebih mirisnya, ujar Saut, saat ini seluruh institusi-insitusi berkait dengan operasi laut itu masing-masing memiliki armada pengawasan laut (yang walau dalam kondisi terbatas) namun dalam menghadapi hal-hal kecil dan sering terjadi (recurrent) seperti insiden Berakit ini.

Jadi tak salah kalau sebenarnya segala program pengawasan laut yang dilakukan banyak tangan dan kewenangan atas nama kepentingan negara itu sebenarnya mengerjakan sesuatu yang tidak efektif, terkesan apa adanya bahkan cenderung mengokohkan asas zero sum game. Selanjutnya, pola koordinatif yang lebih memperkuat institusi secara horizontal ini ternyata menciptakan mekanisme overlapping pengawasan laut yang tidak efisien. Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ape/ape)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
82%
Kontra
18%