Detik.com News
Detik.com
Kamis, 12/08/2010 13:23 WIB

Warga Gang Sempit di Solo Ciptakan Alat Pemadam Kebakaran

Muchus Budi R. - detikNews
Warga Gang Sempit di Solo Ciptakan Alat Pemadam Kebakaran
Solo - Warga hunian kawasan padat penduduk, ada baiknya meniru yang dilakukan warga di Kelurahan Sudiroprajan, Solo. Untuk mengantisipasi bencana kebakaran, mereka membuat alat pemadam kebakaran sendiri. Alat itu lebih mudah digunakan, terutama di gang sempit yang tidak mungkin bisa dimasuki mobil pemadam kebakaran.

Ide penciptaan alat pemadam kebakaran itu berasal dari dua warga setempat, Sri Utomo dan Widodo pada tahun 2008 lalu. Ide itu muncul ketika warga diminta LPMK kelurahan setempat agar usulan proyek untuk memanfaatkan dana block grant yang diberikan oleh Pemkot Surakarta.

"Saat itu terlintas di benak saya untuk membuat alat pemadam kebakaran sederhana. Ide itu muncul mengingat dalam beberapa kali kebakaran di daerah kami, biasanya tak tertangani oleh mobil pemadam kebakaran karena tidak bisa masuk area pemukiman yang gang masuknya sangat sempit," ujar Utomo, Kamis (12/8/2010).

Setelah disetujui, selanjutnya mereka mengajukan harga bahan baku dan biaya pembuatannya. Mereka mengajukan Rp 6 juta, sedangkan block grant yang turun hanya Rp 5 juta. Kekurangannya dibiayai oleh warga sendiri.

Alat pemadam itu sendiri sebenarnya cukup sederhana. Bagian vital dari alat itu hanyalah satu buah drum yang mampu menampung sekitar 200 liter air, dua buah pompa, serta selang sepanjang 20 meter. Tentu saja dilengkapi dengan roda agar memudahkan dibawa kesana-kemari jika ada kebakaran.

Tomo menilai alat temuannya itu jauh lebih efektif dibanding alat pemadam api ringan (APAR) yang dijual di toko. Isi tabung APAR, kata dia, hanya mampu bertahan selama 5 menit jika disemprotkan. Itupun daya semprotnya di bawah lima meter.

"Panjang selang 20 meter, daya lontar air dari mulut selang juga sejauh 20 meter. Alat ini bisa sangat membantu jika terjadi kebakaran di lokasi yang cukup tersembunyi. Maklum daerah kami rumahnya kecil-kecil dan sangat padat huniannya. Saat ini baru ada satu alat di kelurahan kami, rencananya nanti setiap RW punya satu alat pemadam," lanjut Tomo yang pernah mengenyam pendidikan teknik di ST dan STM itu.

Sejak selesai dibuat akhir 2008 lalu, alat tersebut disimpan di rumah Utomo di RT 1 RW 8, Sudiroprajan. "Kami sering melakukan simulasi menggunakan alat ini sebagai latihan. Namun demikian, meskipun kami selalu siaga tapi kami berharap alat ini tidak pernah digunakan untuk selamanya," tambahnya.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(djo/djo)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Segera Revisi PP Ganti Rugi Salah Tangkap Rp 1 Juta!

Ganti rugi Rp 1 juta bagi korban salah tangkap dinilai sudah tidak layak lagi. Ahli pidana UII Dr Mudzakkir mengatakan PP No 27 Tahun 1983 memuat ketentuan yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Untuk itu, Dr Mudzakkir mengusulkan PP itu harus diubah dan memasukkan ganti rugi sesuai dengan kurs terkini. Bila Anda setuju dengan usulan Dr Mudzakkir, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%