YPHS Uji Coba Pola Pemangsaan Harimau Sumatera
Rabu, 11/08/2010 15:16 WIB
Terkait
Pekanbaru
Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS) di Riau, akan menguji coba pola pemangsaan harimau sumatera. Uji coba ini dilakukan untuk meningkatkan populasi dan mencegah konflik antar manusia dan harimau.
Direktur YPHS, Bastoni, mengatakan metode diawali dengan membuat kandang satwa mangsa dengan ukuran 50 x 50 meter. Kandang itu diletakan di kawasan hutan penyanggah konservasi harimau sumatera, Senepis, di Kota Dumai, Riau.
Kandang tersebut dikeliling kawat setinggi 150 cm. Di dalamnya akan dilepas satwa babi yang menjadi santapan harimau. Diharapkan hal ini akan memancing datangnya harimau sumatera yang saat ini banyak berkeliaran di luar hutan konservasi Senepis.
"Kandang ini dibangun pihak Sinar Mas Group dan menghabiskan dana Rp 50 juta. Kerjasama dengan pihak perusahaan ini guna melihat langsung gelagat harimau sumatera di luar kawasan konservasi," kata Bastoni.
Menurut Bastoni, selama ini harimau di luar konservasi sering konflik dengan manusia. Harimau sumatera memangsa ternak-ternak milik masyarakat. Karena itu metode ini akan memancing harimau untuk masuk dalam kandang yang telah tersedia babi.
"Bila ada harimau yang masuk dalam kandang yang telah kita sediakan, berarti hal itu bisa mengurangi konflik yang selama ini terjadi. Tahap awal kandang ini hanya sebagai pakan harimau saja guna menghindari konflik kepemukiman masyarakat. Harimau nantinya juga bisa keluar sendiri dari kandang tersebut," kata Bastoni.
Bila metode ini nantinya berhasil, maka pihak YPHS akan menambah kandang lagi dengan ukuran raksasa di atas lahan 3 hektar. Untuk membangun kandang seperti itu akan membutuhkan dana awal sekitar Rp1 miliar. Metode ini akan menyelamatkan harimau cacat akibat konflik dengan manusia. Diharapkan dengan membangun lokasi yang lebih besar lagi, akan membangun populasi harimau sumatera di Riau.
"Metode ini memang dianggap gila oleh NGO lainnya. Tapi saya yakin, motode pertama kali di dunia ini ini akan berhasil menambah populasi harimau di Riau. Selama ini banyak NGO bidang harimau hanya melakukan riset dan pengumpulan data. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana menambah populasi harimau. Padahal dengan berbagai macam konflik yang ada, tingkat kepunahan harimau sumatera lebih laju ketimbang tingkat regenerasinya," kata Bastoni.
Ditambahkan Bastoni, selama ini penyelesaian konflik dengan cara harimau dievakuasi ke Taman Safari Indonesia (TSI). Tercatat sejak tahun 2003 sekitar 8 ekor harimau dibawa ke sana. Bila merujuk masa reproduksi harimau sumatera, maka pada tahun 2010 ini semestinya populasinya sudah bertambah di TSI.
"Sampai sekarang kita tidak pernah tahu adanya penambahan generasi harimau taman safari. Itu menunjukan bahwa pemerintah sendiri gagal dalam meningkatkan populasi harimau sumatera di sejumlah kebun binatang termasuk Taman Safari," kata Bastoni.
(djo/djo)
Direktur YPHS, Bastoni, mengatakan metode diawali dengan membuat kandang satwa mangsa dengan ukuran 50 x 50 meter. Kandang itu diletakan di kawasan hutan penyanggah konservasi harimau sumatera, Senepis, di Kota Dumai, Riau.
Kandang tersebut dikeliling kawat setinggi 150 cm. Di dalamnya akan dilepas satwa babi yang menjadi santapan harimau. Diharapkan hal ini akan memancing datangnya harimau sumatera yang saat ini banyak berkeliaran di luar hutan konservasi Senepis.
"Kandang ini dibangun pihak Sinar Mas Group dan menghabiskan dana Rp 50 juta. Kerjasama dengan pihak perusahaan ini guna melihat langsung gelagat harimau sumatera di luar kawasan konservasi," kata Bastoni.
Menurut Bastoni, selama ini harimau di luar konservasi sering konflik dengan manusia. Harimau sumatera memangsa ternak-ternak milik masyarakat. Karena itu metode ini akan memancing harimau untuk masuk dalam kandang yang telah tersedia babi.
"Bila ada harimau yang masuk dalam kandang yang telah kita sediakan, berarti hal itu bisa mengurangi konflik yang selama ini terjadi. Tahap awal kandang ini hanya sebagai pakan harimau saja guna menghindari konflik kepemukiman masyarakat. Harimau nantinya juga bisa keluar sendiri dari kandang tersebut," kata Bastoni.
Bila metode ini nantinya berhasil, maka pihak YPHS akan menambah kandang lagi dengan ukuran raksasa di atas lahan 3 hektar. Untuk membangun kandang seperti itu akan membutuhkan dana awal sekitar Rp1 miliar. Metode ini akan menyelamatkan harimau cacat akibat konflik dengan manusia. Diharapkan dengan membangun lokasi yang lebih besar lagi, akan membangun populasi harimau sumatera di Riau.
"Metode ini memang dianggap gila oleh NGO lainnya. Tapi saya yakin, motode pertama kali di dunia ini ini akan berhasil menambah populasi harimau di Riau. Selama ini banyak NGO bidang harimau hanya melakukan riset dan pengumpulan data. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana menambah populasi harimau. Padahal dengan berbagai macam konflik yang ada, tingkat kepunahan harimau sumatera lebih laju ketimbang tingkat regenerasinya," kata Bastoni.
Ditambahkan Bastoni, selama ini penyelesaian konflik dengan cara harimau dievakuasi ke Taman Safari Indonesia (TSI). Tercatat sejak tahun 2003 sekitar 8 ekor harimau dibawa ke sana. Bila merujuk masa reproduksi harimau sumatera, maka pada tahun 2010 ini semestinya populasinya sudah bertambah di TSI.
"Sampai sekarang kita tidak pernah tahu adanya penambahan generasi harimau taman safari. Itu menunjukan bahwa pemerintah sendiri gagal dalam meningkatkan populasi harimau sumatera di sejumlah kebun binatang termasuk Taman Safari," kata Bastoni.
(djo/djo)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 03:14 WIB
PB HMI: Pemberian Grasi Corby Menciderai Komitmen Pemberantasan Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 03:14 WIB
PB HMI: Pemberian Grasi Corby Menciderai Komitmen Pemberantasan Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
283 Komentar
-
235 Komentar
-
216 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
