Pembatasan Kendaraan Pribadi Tidak Akan Selesaikan Kemacetan
Kamis, 29/07/2010 16:26 WIB
Jakarta
Kemacetan terlanjur menancapkan akar tunjangnya demikian dalam sehingga sulit untuk dimusnahkan dari Ibukota. Pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi tidak akan sanggup menyelesaikan masalah tersebut sepanjang transportasi umum tidak dibenahi.
"Memiliki kendaraan pribadi itu hak azasi manusia. Kalau misalnya mau membatasi sepeda motor, bagaimana coba. Ada orang yang harus cari nafkah, uang terbatas. Pembatasan seperti itu diskriminatif," ujar pengamat transportasi, Dr Idwan Santoso, kepada detikcom, Kamis (29/7/2010).
Tidak dipungkiri sebagian orang membeli kendaraan pribadi sebagai perwujudan kemapanan sosial ekonominya. Namun yang lebih penting kendaraan adalah alat untuk mobilitas.
"Jadi biarkan saja setiap orang mau beli kendaraan, karena itu hak masing-masing orang. Tapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya agar mereka tidak menggunakan kendaraan pribadinya itu," kata akademisi program studi transportasi ITB ini.
Menurutnya, agar kendaraan pribadi tidak digunakan adalah dengan cara membuat transportasi umum menjadi menarik. Yakni dengan membuat angkutan umum menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih berkualitas.
Terkait wacana kebijakan Electronic Road Pricing (ERP) atau sistem jalan berbayar untuk mengurai kemacetan, menurut alumnus Imperia College University of London ini tidak bisa diterapkan dalam waktu dekat. Hal itu dikarenakan angkutan umum yang masih belum memadai.
"Jangan wacanakan berbayar kalau angkutan umum masih belum beres. Kalau seperti itu masyarakat jadi tidak dihadapkan pada pilihan, artinya tidak akan menyelesaikan masalah," tutur Idwan.
(nrl/nrl)
"Memiliki kendaraan pribadi itu hak azasi manusia. Kalau misalnya mau membatasi sepeda motor, bagaimana coba. Ada orang yang harus cari nafkah, uang terbatas. Pembatasan seperti itu diskriminatif," ujar pengamat transportasi, Dr Idwan Santoso, kepada detikcom, Kamis (29/7/2010).
Tidak dipungkiri sebagian orang membeli kendaraan pribadi sebagai perwujudan kemapanan sosial ekonominya. Namun yang lebih penting kendaraan adalah alat untuk mobilitas.
"Jadi biarkan saja setiap orang mau beli kendaraan, karena itu hak masing-masing orang. Tapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya agar mereka tidak menggunakan kendaraan pribadinya itu," kata akademisi program studi transportasi ITB ini.
Menurutnya, agar kendaraan pribadi tidak digunakan adalah dengan cara membuat transportasi umum menjadi menarik. Yakni dengan membuat angkutan umum menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih berkualitas.
Terkait wacana kebijakan Electronic Road Pricing (ERP) atau sistem jalan berbayar untuk mengurai kemacetan, menurut alumnus Imperia College University of London ini tidak bisa diterapkan dalam waktu dekat. Hal itu dikarenakan angkutan umum yang masih belum memadai.
"Jangan wacanakan berbayar kalau angkutan umum masih belum beres. Kalau seperti itu masyarakat jadi tidak dihadapkan pada pilihan, artinya tidak akan menyelesaikan masalah," tutur Idwan.
(nrl/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 03:14 WIB
PB HMI: Pemberian Grasi Corby Menciderai Komitmen Pemberantasan Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
Minggu, 27/05/2012 01:20 WIB
Polsek Duren Sawit Gelar Razia, 14 Pelajar Hendak Tawuran Diamankan
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 03:14 WIB
PB HMI: Pemberian Grasi Corby Menciderai Komitmen Pemberantasan Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
282 Komentar
-
234 Komentar
-
215 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
