BBC Indonesia

Venezuela putus hubungan dengan Kolombia

BBCIndonesia.com - detikNews
Jumat, 23/07/2010 04:44 WIB

Chavez putus hubungan

Hugo Chavez Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia dan memerintahkan seluruh diplomat negara itu meninggalkan Venezuela hari Minggu.

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengatakan dia "tidak memiliki pilihan" setelah Kolombia menuduh Venezuela menjadi surga para gerilyawan -tuduhan yang dibantah oleh Chavez.

Chavez mengatakan tindakan pemutusan ini diambil "demi kehormatan".

Dia juga memerintahkan militer dalam keadaan siaga penuh di perbatasan antara Venezuela dan Kolombia.

Menteri Luar Negeri Kolombia, Nicolas Maduro, mengatakan pemerintah juga mempertimbangkan penghentian sementara penerbangan kedua negara dan memutuskan hubungan dagang dengan Kolombia.

Presiden Chavez mengumumkan keputusan itu sesaat setelah pertemuan Organisasi Negara-Negara Amerika, OAS, di Washinton, dimana Kolombia menampilkan bukti berupa rekaman video, peta dan foto untuk mendukung tuduhan bahwa kelompok gerilya beraliran Marxis, FARC, dan pemberontak ELN bermarkas di Venezuela.

"Kami tidak punya pilihan lain tetapi, demi kehormatan, untuk memutuskan seluruh hubungan kami dengan negara tetangga Kolombia," ujar Chavez dalam siaran langsung televisi saat menerima kunjungan pelatih nasional Argentina, Diego Maradona.

Dia mengatakan foto-foto yang ditampilkan dalam pertemuan OAS bisa saja palsu, dan menegaskan Venezuela sudah berbuat sekuat tenaga untuk menghentikan para pemberontak Kolombia melintasi garis perbatasan.

"Kami tidak mentolerir keberadaan FARC di Venezuela," ujarnya, sebelum menyuebut Presiden Kolombia Alvaro Uribe, yang akan menanggalkan jabatannya, sebagai seorang "bos mafia", "orang gila" dan "kriminal".

Tentara Kolombia Dia mengindikasikan bahwa Uribe berniat mencari masalah dengan Venezuela sebelum menanggalkan jabatannya bulan depan.

"Uribe bahkan mampu mendirikan kamp palsu di salah satu hutan milik Venezuela untuk kemudian diserang, dibom dan menciptakan perang antara Kolombia dan Venezuela," ujar Chaves.

Seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip kantor berita AFP mengatakan pemutusan hubungan diplomatik oleh Venezuela ini bukan "jalan yang pantas" dalam menyatakan protes.

Pemeriksaan internasional

Di Washington, duta besar Kolombia untuk OAS, Luis Alfonso Hoyos, mengatakan bukti itu cukup kuat untuk menunjukkan bahwa sekitar 1.500 pemberontak Kolombia berlindung di sejumlah kamp di dalam wilayah Venezuela.

Namun, duta besar Venezuela untuk OAS, Roy Chaderton, mempertanyakan bukti tersebut dengan mengatakan foto dan tayangan video itu bisa diambil di mana saja.

Hoyos menuntut Venezuela memenuhi kewajiban internasional dalam memerangi terorisme dan mengijinkan satu komisi internasional mengunjungi lokasi-lokasi yang dicurigai.

"Kami memiliki hak untuk menuntut agar Venezuela tidak melindungi mereka yang ingin ditangkap oleh Kolombia," ujarnya.

Setelah pertemuan, Sekretaris Jenderal OAS Jose Miguel Insulza mengatakan kepada wartawan bahwa badan regional ini tidak bisa melakukan misi pemeriksaan tanpa ijin dari Venezuela.

Masalah mengenai pemberontak Kolombia di Venezuela ini sudah menjadi duri dalam hubungan kedua negara Amerika Selatan ini dalam delapan tahun terakhir.

Tetapi pertikaian terbaru ini membawa hubungan bilateral ke titik terendah.

Wartawan BBC di Bogota mengatakan situasi ini membuat Juan Manuel Santos, yang akan mengambil alih jabatan presiden Kolombia dalam dua minggu, menghadapi masalah yang sulit untuk diatasi.

Analisa

Jeremy McDermont

Wartawan BBC di Kolombia

Alvaro Uribe Kolombia berniat menindaklanjuti langkah pembuktian di OAS ini untuk menekan Venezuela dengan membawa masalah itu ke Pengadilan Kriminal Internasional.

Dengan hanya dua minggu sebagai presiden, Alvaro Uribe, tampaknya tidak akan banyak mengalami kerugian dengan langkah ini.

Jaksa Agung Kolombia, Guillermo Mendoza, mengumumkan langkah itu setelah pertemuan darurat di istana presiden.

Kolombia kemungkinan mencoba membuktikan bahwa para pejabat Venezuela bekerja sama atau setidaknya membantu kelompok-kelompok pemberontak negara itu, yang masuk dalam daftar teroris internasional.

Jika hal itu bisa dibuktikan, maka Venezuela bisa dinyatakan mendukung terorisme yang bisa membuat negara itu terkena sanksi internasional.

Saat ini, tidak satu pihak pun siap menyerah. Akan tetapi situasi ini bisa berubah dalam dua minggu ketika Juan Manuel Santos mengambil alih jabatan presiden Kolombia.

Dia telah mengindikasikan bahwa pemerintah barunya menginginkan hubungan yang lebih baik dengan Venezuela dan pelantikannya sebagai presiden kemungkinan bisa melonggarkan situasi yang sangat tegang ini.

(bbc/bbc)


BeritaTerbaru Indeks Berita »
Lapsus Index »
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel