Selasa, 13/07/2010 05:28 WIB

MOS Tidak Perlu Jika Hanya Jadi Ajang Perploncoan

Reza Yunanto - detikNews
Jakarta - Anggota Komisi X DPR Herlini Amran mewanti-wanti dampak negatif pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS). Sekolah diimbau untuk meniadakan MOS jika hanya jadi ajang perploncoan.

"Kegiatan MOS saat ini sudah tidak diperlukan lagi jika hanya melahirkan budaya kekerasan dan dendam antara senior dan yunior," ujarnya dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (13/7/2010).

MOS atau yang biasa disebut ospek ini lumrah dilakukan di setiap tingkatan sekolah. MOS biasanya berlangsung selama sepekan yang merupakan bagian dari perkenalan siswa dengan sekolahnya yang baru.

Menurut Herlini, jika MOS hanya sekedar pengenalan sekolah saja dan tidak melahirkan dampak positif dan malah menimbulkan korban, maka wajib hukumnya bagi sekolah meniadakan kegiatan tersebut.

Namun demmikian bukan berarti MOS tidak bisa dilakukan. Menurut dia bila sekolah tetap ingin mengadakan MOS, maka formatnya harus diubah dengan format yang lebih mengedepankan subtansi yang bisa memperkuat moral siswa.

"Memberikan dampak kemudahan beradaptasi bagi siswa baik dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya, dan bisa membangun karakter kebangsaan yang lebih baik tentunya," saran politisi PKS dari dapi Kepulauan Riau ini.

Herlini mengingatkan, sebaiknya Dinas Pendidikan di seluruh Provinsi dan kepala sekolah melakukan pengawasan terkait dengan diselenggarakannya MOS di tiap-tiap sekolah. Menurutnya, imbauan Mendiknas mengenai pelaksanaan MOS harus dicamkan oleh tiap-tiap sekolah.

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(Rez/asp)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 14/09/2014 14:52 WIB
    Lulung: Yang Penting Pak Ahok Manis Bicara, Ai Dukung
    Gb Haji Lulung mengaku sudah tidak ada masalah dengan Ahok yang bersuara keras soal kebobrokan DPRD jika pilkada tidak dilakukan langsung. Dia mengingatkan Ahok berhati-hati bicara sehingga tidak ada yang tersinggung.
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
41%
Kontra
59%