detikcom
Rabu, 30/06/2010 20:45 WIB

Aset Bermasalah Rp 1,2 T

Sekjen Kemenkes: Tidak Ada yang Coba Ditutup-tutupi

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Ratna Rosita, menilai penelusuran terkait kejanggalan aset Kemenkes senilai Rp 1,2 triliun oleh Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) merupakan kewenangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ratna menyatakan tidak ada hal yang perlu ditutupi terkait hal itu.

"Kalau mau lapor KPK itu kewenangan pemeriksa, kalau dinilai ada penyimpangan. Kita tidak ada yang coba ditutup-tutupi," kata Ratna kepada detikcom, Rabu (30/6/2010).

Menurutnya, opini disclaimer yang dilayangkan BPK terhadap laporan keuangan Kemenkes tahun 2009 bukan berarti ada penyimpangan. Hal itu disebabkan BPK belum menerima laporan dari Satuan Kerja (Satker) Kemenkes di tiap daerah sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

"Satker yang ada kan 1.500 tidak mudah dan tidak cepat untuk mengambil laporan dari setiap satker, perlu waktu panjang," jelasnya.

"Maka dari itu opini yang diberikan disclaimer atau Tanpa Memberikan Penjelasan (TMP). Dan sekarang kan telah terkoreksi sebagian," imbuh Ratna.

Disinggung apakah Kemenkes siap untuk diperiksa KPK, Ratna enggan untuk berkomentar. "Nanti saya disangka menantang," jelasnya.

"BPK sendiri tidak menyatakan ada penyimpangan," sambungnya.

Dalam laporan keuangan Departemen Kesehatan tahun 2009, BPK menemukan kejanggalan keabsahan aset senilai Rp 1,2 triliun. Selain itu, pengelolaan dana hibah senilai 514 miliar yang tidak sesuai mekanisme pengelolaan APBN, dan pengadaan obat senilai Rp 231 miliar yang tidak dapat diyakini keberadaannya karena disimpan di gudang rekanan juga menjadi catatan penetapan opini BPK.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(ahy/ape)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Camat dan Lurah Tak Perlu Ada, Ganti Jadi Manajer Pelayanan Satu Atap

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera merealisasikan kantor kelurahan dan kecamatan menjadi kantor pelayanan terpadu satu pintu. Lurah dan camat bakal berfungsi sebagai manajer pelayanan. Ahok berpendapat lurah dan camat tak perlu lagi ada di Indonesia. Bila Anda setuju dengan gagasan Ahok, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%
MustRead close