Detik.com News
Detik.com
Kamis, 10/06/2010 10:04 WIB

Tangkap Dulu 'Bintang' Video Porno Mirip Ariel, Jangan Berkutat pada Pengedar foto

Didit Tri Kertapati - detikNews
Tangkap Dulu Bintang Video Porno Mirip Ariel, Jangan Berkutat pada Pengedar
Terkait
Jakarta - Generasi muda NU menilai peredaran video porno yang melibatkan artis menyebabkan demoralisasi dan membahayakan generasi muda, lebih khusus anak-anak. Untuk itu, polisi harus segera mengambil langkah hukum pada pelaku, menemukan penyebarnya dan menghukum seberat-beratnya serta mencegah peredarannya agar tidak terus meluas.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Asrorun Ni'am Sholeh dalam siaran pers pada detikcom, Kamis (10/6/2010).

Lebih lanjut Niam menegaskan, untuk mengungkap ke akar-akarnya, polisi harus menangkap pelaku yang tergambar dalam video tersebut. "Jangan berputar-putar mencari siapa yang mengedarkan, akhirnya tanpa hasil, sementara peredaran terus meluas. Tangkap dulu pelaku. Tindakan perselingkuhan dan perzinaan adalah pidana. Dari situ bisa diurai masalah selanjutnya," ujar staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta ini.

Niam mendukung langkah Mabes Polri untuk mengambil alih penanganan masalah ini mengingat akibatnya yang begitu besar, dan peredarannya sudah sangat meluas. "Kami mendukung langkah Mabes Polri untuk menangani kasus ini. Bahkan, seharusnya polisi proaktif, tidak menunggu pengaduan karena masalahnya sudah membahayakan, " ujar doktor bidang hukum ini menegaskan.

Peredaran pornografi melalui video mesum artis dan pemberitaan media yang berlebihan akan berdampak buruk bagi moral bangsa, terutama anak-anak. "Peredaran video mesum tersebut, jika tidak ditangani serius, dengan menghukum pelaku maka akan dijadikan contoh bagi anak-anak untuk melakukan hal serupa. Dan jika ini terjadi, maka akan terjadi demoralisasi yang luar biasa," ujar Niam.

Dan ini, lanjut Niam, akan memiliki dampak yang serius, yaitu menyebabkan meluasnya perilaku seks bebas yang berpotensi menyebabkan penyakit HIV/AIDS. "Dalam konteks ini, peredaran video porno lebih berbahaya dari pada peredaran narkoba. Harusnya hukumannya lebih berat mengingat akibatnya lebih serius," ujar aktivis yang getol mengadvokasi hak-hak anak dan pelajar ini.

Komitmen polisi untuk menuntaskan masalah ini harus didukung, termasuk dukungan masyarakat melalui hukuman moral dan sosial terhadap pelaku dan pengedar. "Masyarakat hendaknya tidak memberikan ruang bagi pelaku dan pengedar aktifitas pornografi. Perlu perang bersama untuk katakan TIDAK pada pornografi", jelasnya.

Di samping itu, Niam meminta agar polisi perlu menunjukkan keseriusannya. "Jangan karena pertimbangan keartisan, kemudian pelaku aman dari jerat hukum. Ini taruhan kredibilitas bagi polisi. Ini momentum polisi hadir mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam menangani masalah ini," pungkasnya.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ddt/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%