SBY: Politik Uang & Ketergantungan Figur Menghambat Demokrasi Sehat
Senin, 12/04/2010 13:09 WIB
Jakarta
Sejak bergulirnya reformasi pada 1997 silam, praktek demokrasi di Indonesia menunjukkan perkembangan postif dengan segala dinamikanya. Namun ada dua faktor penghambat demokrasi sehat yang belum tuntas, yakni politik uang dan politik ketergantungan.
Demikian ungkap Presiden SBY dalam pidatonya di sidang ke-6 World Movement for Democracy, Senin (12/4/2010), di Hotel Shangri-La, Jakarta. Di acara yang diikuti puluhan LSM bidang demokrasi dari 10 negara ini, Presiden SBY bertindak sebagai pembicara kunci.
"Salah satu tantangan dalam pembangunan demokrasi adalah bagaimana memberantas dan mencegah money politics," kata SBY.
Sejarah menunjukkan uang dengan berbagai cara selalu mengikuti praktek demokrasi, baik di Barat dan Timur. Presiden SBY mengingatkan, sejarah juga menunjukkan pemimpin politik yang terpilih karena praktek politik uang akan 'mengabdi' pada pihak yang mengongkosinya dan pada akhirnya meminggirkan aspirasi masyarakat luas.
Maka si pemimpin meski menang dalam kompetisi politik, tetapi kalah dalam meraih kepercayaan masyarakat. "Hasilnya adalah demokrasi jadi-jadian. Memerangi money politics adalah tantangan jangka pendek, menengah dan panjang dalam membangun demokrasi Indonesia," sambung SBY.
Sementara tantangan ke dua untuk demokrasi yang sehat dan berkelanjutan adalah politik ketergantungan pada figur tertentu. Dua fragment sejarah politik Indonesia membuktikan, ketergantungan akut terhadap satu figur tertentu menghasilkan struktur dan sistem pemerintahan yang ringkih.
Pada saat sang figur jatuh, maka runtuhlah bangunan yang bergantung kepada dirinya. Proses transisi kepemimpinan nasional menjadi ajang yang diwarnai dengan ganggungan stabilitas keamanan dan politik nasional, bahkan posisi negara di tataran internasional.
"Pemimpin yang kuat adalah yang mampu sistem yang tangguh. Ini sangat penting, sebab pemimpin akan terus berganti tetapi sistem haruslah stabil dan demokrasi harus terus berlanjut," sambung SBY.
Lebih lanjut SBY memaparkan berbagai indikator perkembangan positif demokrasi di Indonesia. Yakni lembaga Kantor Kepresidenan yang bukan lagi kekuatan politik dominan seperti di era-era sebelumnya, kemampuan parlemen laksanakan proses cek dan kekuatan penyeimbang kekuatan, kepolisian dan militer yang tidak lagi terlibat dalam politik praktis, perbaikan hubungan antar lembaga negara dan konsistensi perbaikan penegakan hukum.
"Di akhir masa jabatan saya pada 2014 kelak, saya berharap kehidupan bernegara demikian dapat berlanjut dan demokrasi terus berkembang," pungkas SBY.
(lh/gun)
Demikian ungkap Presiden SBY dalam pidatonya di sidang ke-6 World Movement for Democracy, Senin (12/4/2010), di Hotel Shangri-La, Jakarta. Di acara yang diikuti puluhan LSM bidang demokrasi dari 10 negara ini, Presiden SBY bertindak sebagai pembicara kunci.
"Salah satu tantangan dalam pembangunan demokrasi adalah bagaimana memberantas dan mencegah money politics," kata SBY.
Sejarah menunjukkan uang dengan berbagai cara selalu mengikuti praktek demokrasi, baik di Barat dan Timur. Presiden SBY mengingatkan, sejarah juga menunjukkan pemimpin politik yang terpilih karena praktek politik uang akan 'mengabdi' pada pihak yang mengongkosinya dan pada akhirnya meminggirkan aspirasi masyarakat luas.
Maka si pemimpin meski menang dalam kompetisi politik, tetapi kalah dalam meraih kepercayaan masyarakat. "Hasilnya adalah demokrasi jadi-jadian. Memerangi money politics adalah tantangan jangka pendek, menengah dan panjang dalam membangun demokrasi Indonesia," sambung SBY.
Sementara tantangan ke dua untuk demokrasi yang sehat dan berkelanjutan adalah politik ketergantungan pada figur tertentu. Dua fragment sejarah politik Indonesia membuktikan, ketergantungan akut terhadap satu figur tertentu menghasilkan struktur dan sistem pemerintahan yang ringkih.
Pada saat sang figur jatuh, maka runtuhlah bangunan yang bergantung kepada dirinya. Proses transisi kepemimpinan nasional menjadi ajang yang diwarnai dengan ganggungan stabilitas keamanan dan politik nasional, bahkan posisi negara di tataran internasional.
"Pemimpin yang kuat adalah yang mampu sistem yang tangguh. Ini sangat penting, sebab pemimpin akan terus berganti tetapi sistem haruslah stabil dan demokrasi harus terus berlanjut," sambung SBY.
Lebih lanjut SBY memaparkan berbagai indikator perkembangan positif demokrasi di Indonesia. Yakni lembaga Kantor Kepresidenan yang bukan lagi kekuatan politik dominan seperti di era-era sebelumnya, kemampuan parlemen laksanakan proses cek dan kekuatan penyeimbang kekuatan, kepolisian dan militer yang tidak lagi terlibat dalam politik praktis, perbaikan hubungan antar lembaga negara dan konsistensi perbaikan penegakan hukum.
"Di akhir masa jabatan saya pada 2014 kelak, saya berharap kehidupan bernegara demikian dapat berlanjut dan demokrasi terus berkembang," pungkas SBY.
(lh/gun)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 12:11 WIB
PD Investigasi Dalang Penyerangan Terhadap Anas & Ibas di Ternate
-
Minggu, 27/05/2012 11:57 WIB
Promotor: Konser Lady Gaga Pindah ke Bali Adalah Mustahil
-
Minggu, 27/05/2012 11:55 WIB
Polisi Sita Sepucuk Pistol dari Pembunuh Wartawan Senior TVRI
-
Minggu, 27/05/2012 11:52 WIB
PD Tarik Wacana Pencapresan Ani Yudhoyono karena SBY Marah?
-
Minggu, 27/05/2012 11:43 WIB
Ada Kebakaran, KRL Tertahan di Stasiun Manggarai
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
Minggu, 27/05/2012 10:53 WIB
Pembunuh Janda Cantik di Kebayoran Baru Dibekuk
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
295 Komentar
-
286 Komentar
-
251 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
